AIDS Bukan Sekedar Basa-basi


AIDS adalah jenis penyakit yang sangat mengerikan dan mematikan. Kini, AIDS bukan hanya persoalan individual semata, tetapi menjadi masalah internasional. Sebab, korban dari penyakit AIDS terbilang sangat banyak dan sulit untuk disembuhkan. Ketika seseorang terjangkiti AIDS, hampir dapat dipastikan, maut adalah jawabannya. Karena itu, jalan yang biasanya dianjurkan oleh dokter adalah mengantisipasi agar penyakit tersebut tidak menjalar dan menular pada orang lain.

Selama tahun 2002, lima juta orang di dunia ini yang terinfeksi Human Immnunodeficiency Virus (HIV), yaitu suatu penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan. Pada waktu yang sama terdapat tiga juta orang yang meninggal karena penyakit tersebut.

Berdasarkan laporan Epidemic Update UNAIDS—organisasi PBB yang menangani masalah HIV/AIDS—mencatat terdapat 40 juga orang didunia yang terinfeksi virus yang sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Di Amerika Serikat, misalnya, sejak tahun 1980 sampai sekarang terdapat 850 ribu orang yang terjangkit virus ini. Sementara dalam perhitungan Badan Kesehatan Dunia (WHO), di negara-negara berkembang terdapat enam juta orang yang terserang virus yang menganggu kekebalan tubuh ini. Dan, kurang dari 300 ribu orang yang mendapat perawatan dan pertolongan secara layak. Selebihnya, tidak mendapat perawatan dari pemerintah masing-masing.

Berdasarkan laporan Masyarakat Peduli AIDS Indonesia dan Departemen Kesehatan RI, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia diperkirakan berjumlah 100.000 – 120.000 orang. Tahun 2001, menurut Menteri Kesehatan, pengidap HIV/AIDS berjumlah 80.000 – 120.000 orang dan di tahun 2002 diperkirakan 90.000 – 130.000 orang. Dan, 90 % dari jumlah ini berumur 15-49, sebuah usia produktif yaitu pelajar, mahasiswa dan angkatan pekerja.

Semua data diatas menunjukkan bahwa, pertama, penyebaran HIV/AIDS berkembang dengan pesat dan meluas. Desa-desa yang seringkali diyakini steril dari virus tersebut, kini mulai merebak. Kedua, data diatas hanyalah jumlah orang yang teridentifikasi sebagai pengidap HIV/AIDS. Tentu saja, masih banyak jumlah orang yang terinfeksi virus ini diluar identifikasi pemerintah dan lembaga yang bergerak dibidang HIV/AIDS. Ia ibarat “gunung es”, yang terlihat itu hanyalah secuil.

Sementara itu, penanggulangan dan keseriusan untuk membasmi virus ini terasa sangat lambat. Minimnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, minimnya dana untuk mengatasi penyakit ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan HIV/AIDS semakin meluas. Tanpa ada tindakan solutif dari pelbagai pihak untuk meminimalisasi angka komulatif pengidap HIV/AIDS ini, maka jumlahnya akan terus bertambah. Ini bukan persoalan remeh. Sebab, mayoritas yang terjangkit virus yang mematikan ini adalah generasi bangsa yang berada dalam masa produktif.

Disini, penulis memberikan tawaran solutif untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS ini secara meluas. Pertama, membangun komitmen dari semua pihak baik pemerintah, LSM, organsisasi kemasyarakatan maupun masyarakat sendiri untuk bertindak secara preventif mulai dari tingkat lokal, nasional sampai internasional. Negara-negara kaya seperti AS dan Uni Eropa yang memiliki kemampuan finanasial yang besar harus membantu negara-negara lain yang membutuhkannya, bukan dijadikan biaya untuk berperang melawan Afganistan dan Irak.

Para pemimpin negara yang tergabung pada G-8 dalam pertemuan di Jepang, Juli 2000 sudah berencana memerangi HIV/AIDS, tuberkolusa, malaria. Juga, pada bulan september 2000, Komisi Eropa melakukan hal yang sama untuk memperdulikan penyakit berbahaya itu. April 2001, Sekjen PBB mengeluarkan konsep Dana Global untuk memerangi HIV/AIDS. Pelbagai pertemuan sudah dilakukan, tapi penyebaran HIV/AIDS jauh lebih cepat berkembang pesat dari sekedar pertemuan-pertemuan.

Kedua, perlunya sosialisasi kepada semua kalangan masyarakat untuk mengetahui apa dan bagaimana HIV/AIDS itu. Sebab, seringkali orang salah paham tentang HIV/AIDS ini. HIV/AIDS dalam pandangan masyarakat, muncul hanya karena hubungan seksual yang menyimpang.

Ketiga, merubah image dan stigma HIV/AIDS. Dikalangan masyarakat, virus ini dianggap sebagai kutukan, hukum karma bagi orang-orang yang berprilaku seks menyimpang, sehingga kepedulian terhadap pengidap HIV/AIDS sangat lemah bahkan tidak jarang juga dikucilkan. Stigma negatif yang menumbuhkan rasa malu, tidak berharga, bersalah bagi orang yang terjangkiti virus ini masih kental ditengah-tengah masyarakat kita. Dan, jika mereka dibiarkan tanpa ada tindakan solutif untuk merawat, jumlah kematian akibat virus ini akan semakin bertambah. Singkat kata, HIV/AIDS bukan sesuatu yang menjijikkan, memalukan karenanya harus diisolasi.

Keempat, menyediakan jarum suntik steril secara nasional dan outreach (pendampingan). Selain, hubungan seksual di luar nikah, ganti-ganti pasangan seksual, HIV/AIDS akan sangat cepat menular melalui kalangan pecandu narkoba suntik. Disinilah, dipentingkan kerjasama antara pihak keamanan dan pihak kesehatan.

Akhirnya, HIV/AIDS bukan sekedar basa-basi. Perlu ada komitmen dan keseriusan dari semua kalangan untuk mengantisipasi dan memerangi penyakit berbahaya dan mematikan itu. Mari kita jadikan HIV/AIDS sebagai common enemy!

Duta Masyarakat, 12 desember 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s