Jilbab, Nasibmu Kini


Parlemen Prancis telah menyepakati Undang-Undang (UU) yang melarang siswa sekolah-sekolah negari untuk memakai Jilbab, Salib dan Topi Yahudi. 494 anggota setuju, selebihnya (39) anggota menolak. Pelarangan tersebut menuai protes yang cukup signifikan dari kalangan umat Islam. Bukan hanya kalangan islam, Gereja Prancis juga menentang UU tersebut. Begitu juga Paus Yohannes Paulus II (Alm). Baginya, UU tersebut menjadi indikator betapa semakin represip dan fanatiknya terhadap sekularisme. Sungguh pentingkah hal-hal “formalis” tersebut untuk diperjuangkan?. Tulisan ini hendak merefleksikan kembali fenomena Jilbab bagi umat Islam. Sekedar opini, bukan tulisan yang disertai referensi dan riset yang mendalam. Overview Singkat (dikit ilmiah?)Di Indonesia, pelarangan menggunakan Jilbab bagi siswi-siswi sekolah juga pernah terjadi pada tahun 1990-an. Kini, kontroversi itu hanya terdengar sayup-sayup. Pasalnya, saat ini jilbab bukan sekedar busana “islami”, tetapi juga menjadi trend masa kini. Beberapa artis dengan aneka model jilbab telah menyuguhkan kepada kita tentang hal tersebut.Istilah jilbab sebenarnya baru dikenal pasca 1980. Sebelumnya, umat Islam mengenalnya dengan istilah kerudung (masih inget lagu di balik kerudung). Sebagai istilah baru di Indonesia, jilbab pada dasarnya adalah kata impor dari Arab, jalaba yang bermakna menghimpun dan membawa. Istilah ini cukup populer di Indonesia. Di beberapa belahan dunia Islam lainnya, istilahnya pun berbeda. Kita mengenal istilah Chador di Iran, Pardeh di India dan Pakistan, Milayat di Libya, Abaya di Irak, Charshaf di Turki, Hijab di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Perlu dijelaskan pula bahwa istilah jilbab pada mulanya diartikan sebagai tabir dan berubah menjadi pakaian penutup aurat perempuan sejak abad ke-4 H

Apa itu jilbab? Sepintas saja saya melihat jilbab adalah penutup kepala perempuan. Jika itu yang dimaksudkan, maka sesungguhnya discourse ini telah berlangsung cukup lama. Ia telah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Kemudian, kota-kota tua sebelum Islam datang seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria, penggunaan penutup kepala (di indonesia disebut Jilbab) sudah menjadi tradisi. Dan saat itu, penutup kepala digunakan bagi kalangan menengah keatas. Sementara para budak, tidak boleh menggunakannya.

Orang Arab yang menggunakan jilbab tidak lepas dari persentuhannya dengan budaya lain. Tepatnya, ketika Jazirah Arab dijadikan tempat transit perdagangan. Di pilihnya Arab sebagai transit perdagangan dalam rangka menghindari akibat buruk dari peperangan antara Romawi-Byzantium dan Persia. Kultur Byazantium-Hellenisme ternyata memberi pengaruh terhadap kehidupan Arab.

Karena itulah, banyak tokoh yang menyatakan bahwa Jilbab (viel) bukanlah tradisi orisinil bangsa Arab seperti yang dikatakan De Vaux. Dus, pada perkembangan selanjutnya tradisi jilbab yang semula menjadi pakaian pilihan mendapat kepastian hukum; perempuan wajib pakai jilbab. Tak tanggung-tanggung, al-Qur’an juga menyinggungnya dalam Surat Al-Ahzab ayat 33.

Lalu—benar apa yang diprediksikan koordinator Community for Religion and Social engineering (CRSe), Moh Rif’an Shohibun pasca nonton film bareng—bahwa diskusi tentang jilbab akan mengerucut pada dua hal. [1] apakah jilbab itu islami? Ataukah [2] tradisi?. Perdebatan semacam ini tampaknya relatif usang, dan menjadi hangat ketika ada sebuah fenomena atau kasus yang terkait dengannya. Untuk itu, aku ingin merefleksikan sependek dan sedangkal yang aku tahu.

RefleksiTerus terang nich, kalau disuruh memilih istri, so pasti aku akan lebih memilih perempuan yang menggunakan jilbab(catatan; itu kalau diluar rumah, kalau didalam rumah, ya ngerti sendiri, he..he). Karena itulah, aku memilih calon istri yang berjilbab.Konon, dalam benakku, perempuan yang berjilbab lebih baik daripada yang tak berjilbab. Secara implisit, doktrin itulah yang aku terima sejak lahir dan telah mengendam dalam alam bawa sadar. Tetapi, belakangan saya menjadi tahu bahwa jilbab, performance tidak selamanya menjadi standar untuk mengukur keshalehan seseorang. Tidak jarang orang yang tak berjilbab memiliki moralitas yang sangat baik (seperti Mbak Ari, he…he..). Begitu juga sebaliknya. Saya juga pernah menyaksikan langsung bagaimana pelacur menggunakan jilbab dengan rapi dan sopan, semata-mata untuk memberikan makna lain bagi pelanggan.

Akan tetapi, saya terkadang menjadi risih dengan jilbab, khususnya jilbab yang besar-besar yang sering dipakai oleh kelompok yang kerap disebut Fundamentalis. Pasalnya, mereka menggunakan jilbab yang demikian itu berargumen sebagai implimentasi Islam secara kaffah. Padahal, sejauh pengamatan saya, Islam tidaklah demikian. Kendatipun demikian, kita patut menghargai mereka sebagai upaya memahami islam.

Dus, yang perlu diamati secara detail adalah jilbab dimasa kini. Ia bukan sekedar alat menutup aurat (?) tetapi juga merupakan fashion yang penuh dengan estetika. Dengan kata lain, tujuan orang berjilbab bagi sebagian orang bukan lagi untuk menutup aurat (?), tetapi sebagai trend mode. Hal ini pun bukan hal yang negatif. Jilbab, akan tetap memiliki makna jika ia merupakan hasil sebuah refleksi dan kesadaran atas sebuah pilihan.

Singkatnya, berjilbab atau tidak, itu sama saja. Tidak ada perbedaan yang mendasar. Sebab, yang membedakan seseorang adalah etika, moral, kepribadian dan kecantikan (betul kan). Mengapa menggunakan jilbab? Hemat saya ada beberapa alasan; [1] sebagai tuntutan islam, [2] menutup aurat, [3] penegasan identitas diri, [4] biar tampak lebih cantik (ini berlaku bagi perempuan yang merasa lebih cantik menggunakan Jilbab daripada tidak), [5], kebiasaan sejak dini, [6] dan lain sebagainya

Lalu, kenapa perempuan tidak menggunakan jilbab. Alasannya, [1] tampak lebih cantik (kebalikan diatas nomor 4), [2], tidak terbiasa sejak dini, [3], tidak ada anjuran agama, [4] muka bukan aurat, [5] tidak PeDe, [6] dan lain sebagainya.****

Jika Islam mewajibkan menggunakan jilbab berarti cenderung memihak pada kalangan elit? Atau justru dalam rangka “elitisasi” kaum marjinal dan budak. Jika ternyata jilbab membentuk kelas-kelas dalam ruang sosial, ciri-ciri orang sholehah dan tidak, maka hal ini akan menjadi problem. Apakah mereka semua harus berjilbab atau tidak?Sepenuhnya diserahkan kepada keputusan bersama dalam suatu masyarakat.

Sebagaimana yang dikatakan M. Syahrur dalam al-Kitab wa al-Qur’an, bahwa jilbab bukan urusan halal-haram, tetapi tidak lebih sebagai persoalan harga diri. Sehingga, wajar Qasim Amin sangat kritis terhadap fenomena jilbab. Akan tetapi, Qosim Amin—sebagaimana juga saya—tetap mengidealkan penggunaan Jilbab bagi perempuan sepanjang tidak menjadi madhorat bagi dirinya dan orang lain. Pokok persoalannya, lanjut Qosim Amin, bukan persoalan anjuran atau larangan penggunaan Jilbab, tetapi bagaimana jilbab tidak menjadi penghambat bagi kemajuan perempuan. Sebaliknya, dengan jilbab diharapan perempuan semakin produktif dan kreatif. Sebab, esensi taqwa pada dasarnya adalah produktif dan kreatif. Siapa yang tidak produktif dan tidak kreatif, berarti ia tidak bertaqwa. Demikiankah? Entah, hanya Tuhan Yang bisa memahaminya.

*Dipresentasikan dalam diskusi di LKiS Yogyakarta, pada 17 Februari 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s