Kongres PMII di Batam, apa yang kurang?


Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) akan menyelenggarakan Kongres di Batam pada tanggal 16-22 Maret 2008. Hiruk pikuk politik yang mengitari momentum suksesi ini sudah bisa dirasakan sejak awal. Sejumlah kader mulai tersedot energinya untuk merespon kongres.

Pertanyaan saya, kapankah sebuah kongres, konkorcab, konfercab, RTK, RTA bisa mengurangi tensi konflik primordial sekaligus diwarnai oleh kontestasi gagasan dari masing-masing calon? Kapankah momentum suksesi ini tidak menambah deretan panjang konflik antar masing-masing yang berkepentingan? Kapankah acara pemberhentian dan pengangkatan ketua baru tidak beraroma money politic? Inikah cermin bangsa ke depan? Bukankah mahasiswa juga komando gerakan, moral, dan gagasan sekaligus?

Ada yang mau berkomentar silahkan? Bersambung……

One thought on “Kongres PMII di Batam, apa yang kurang?”

  1. Catatan kecil pra Kongres PMII

    Tiap kali suksesi politik di gelar, tentu kita akan merasakan gencarnya para pemain dan petualang politik yang ingin menancapkan kepentingannya. Kali ini, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) akan menyelenggarakan Kongres di Batam pada tanggal 16-22 Maret 2008. Jelas, kalimat pertama tadi mencerminkan bagaiana perhelatan itu bercerita.

    Saya tidak ingin membahas bagaimana peta politik yang kini tengah berjalan. Karena tentu untuk membaca konteks itu butuh ‘keahlian khusus’. Dan saya tentu bukan orang kira-kira mumpuni dan tapat untuk membaca itu. Jadi saya pikir cukup hanya menjadi penonton dan mengamati saja sudah cukup, sebagai seorang kader PMII, dengan tanpa mengurangi tingkat komitmen dan ideologi gerakan. Wah, jadi nglantur gitu..

    Sederhana saja, ada cerita yang tampaknya menarik menurut saya untuk dibagi pada khalayak dan pembaca.

    Kebetulan saya sudah tinggal beberapa bulan di Jakarta. Mendengar ada perhelatan PMII di Batam sana, saya hanya pasang mata dan telinga untuk sedikit urun perhatian mengamati suksesi organisasi besar ini.

    Singkat cerita, sahabat-sahabat saya dari Jawa Tengah (khususnya, Kota Semarang), menelpon saya untuk datang di kantor PB PMII di Jalan Salemba Tengah No. 57 A. Ya, langsung saya manfaatkan saja sebagai ajang temu kangen sekaligus ingin menumpahkan seribu tanya soal perkembangan PMII di tempat asal dan khususnya even kongres kali ini.

    Pertama kali saya kunjungi jelas teman-teman dari Kota Semarang sebagai ‘hulu’ gerakan asal saya melakukan proses di PMII. Banyak cerita yang saya dapatkan dari mereka. Termasuk cerita-cerita lama yang membangkitkan romantisme asa yang dulu sempat kita siram bersama-sama di Kota Semarang. Sahabat saya Pujianto, Kang Adib Ach, Gufron, Sotek, Asep Cuwantoro, Zuyyina laeli sebagai Ketua Cabang, serta sahabat-sahabat lain ikut serta menghangatkan kelakar kami mengenang masa-masa itu.

    Tak terasa, malam pun merayap, dan saya bersama temen-temen asik sekali ngobrol soal apapun, ngalor-ngidul, meski tak jelas, tapi sedikit-sedikit, ada bumbu gerakan, hingga bumbu-bumbu seronok, lagi jorok. Yach, biasa lah, apalagi anak muda yang lagi pada titik gejolak paling tinggi tentu sangat wajar untuk membincangkan hal seperti itu, sehingga saya anggap maklum. Sekaligus saya ingin melihat perkembangan mereka.

    Rupanya, di ujung ngobrol kita itu saya juga disempatkan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat dari luar kota Semarang. Mereka itu dari PMII cabang Purwodadi.

    Kali ini saya dikenalkan oleh Sahabat Pujianto yang dulu akrab di sapa dengan G-peng. Mungkin karena postur tubuhnya yang kata orang gepeng itu, sehingga dipanggil dengan sebutan itu.

    Sebuah ketakutan
    Nah, ceritanya, ada satu curhat yang kemudian secara tak sengaja muncul. Biasa lah, awal-awal mereka ngobrol soal bagaimana pertama kali datang ke Jakarta. Kemudian lama-lama tampaknya saya melihat mulai ke titik pembahasan. Saya sekadar iseng, coba memancing bagaimana peta Jawa Tengah yang kini tengah terjadi.

    Sedikit jawaban yang saya dapat. Namun, karena kebetulan kita ngobrol sambil ditemani oleh makanan Pecel Lele dari Jawa Timur itu, maka sedikit-demi sedikit cerita itu muncul juga.

    Mereka tengah mengalami semacam ketakutan kalau saya nilai. Kenapa demikian. Pasalnya, bagaimana tidak. Soal kebijakan dan keputusan organisasi yang sejatinya itu muncul dari penilaian dan analisa internal di satu daerah (baca: cabang), bisa-bisanya itu diintervensi sekaligus ditekan oleh kepengurusan yang lebih tinggi (baca: Korcab) untuk menentukan satu pilihan.

    Istilahnya, mereka diintervensi untuk memilih satu calon dalam perhelatan kongres nantinya. Tampaknya dari cerita itu, saya menilai, tampaknya nuansa politik yang tidak sehat masih saja menghinggapi Jawa Tengah. Penekanan dan monopoli keputusan organisasi dipaksakan di tengah arena persiapan kongres demi menancapkan kepentingan satu golongan saja.

    Yang lebih lucu, miris sekaligus memprihatinkan dan tak rasional, dari cerita mereka keluar pengakuan bahwa intervensi politik dari kepengurusan Korcab itu ditujukan pada sang ketua cabang yang konon takut, jika tidak memilih “si-Anu” nanti akan diancam karir politiknya (di PKB, diceritakan) akan di potong.

    Wah, ini yang merusak!!, gumam saya. Masa ada keputusan organisasi itu dikeluarkan karena ada satu penekanan dari satu golongan tertentu, terlebih alasan keputusan itu karena takut nantinya tidak tersalur eksistensi politiknya

    Sampai kapan itu akan terus berlangsung? Tentunya, kita semua tidak menginginkan penyemaian politik yang tidak sehat terjadi. Kita justru berharap dan mendorong bagaimana pembelajaran politik yang terjadi di setiap even kongres, ataupun even suksesi lainnya, itu dijadikan sebagai sarana belajar bagi kader-kader PMII. Bukan sebaliknya, justru pembelajaran itu dikotori oleh segelintir orang untuk menancapkan panji-panji kepentingannya sendiri di atas kepentingan yang lebih besar.

    Sebuah catatan kecil yang tampaknya harus mendapat perhatian besar.

    Tulisan ini saya terbitkan di blog http://wiwitrahman.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s