Perlu Agama Yang Tak Bersumber pada Tuhan

Sekarang, aku ragu dengan informasi (wahyu) dari tuhan. Sebab, secara tidak langsung, kita hanya bisa menerima informasi dari Tuhan. Sementara informasi dari rival tuhan yang selalu dihina, dicaci-maki, didiskriminasikan, dimarginalkan tidak pernah kita dengarkan. Kita merasa emoh dan tidak peduli dengan dia. Dia adalah iblis. Sebuah nama dan dzat yang memang dijelek-jelekkan oleh tuhan agar tidak mampu menyangingi kemampuan tuhan. Karena itu, manusia tidak percaya dengan iblis. bahkan banyak diantara kita membencinya. Biar ada keseimbangan informasi, apa salahnya jika kita mendengarkan fatwa dan wahyu dari iblis. Iblis tidak harus dipandangan secara diskriminatif, stereotyp dan dimarginalkan. Ia juga makluk di dunia yang memiliki potensi sebagaimana yang lain. persoalannya, karena tuhan khawatir akan menjadi rivalnya nanti ketika iblis menolak perintah tuhan untuk sujud kepada adam, maka berbagai pandangan negatif tuhan melalui nabi-nabinyapun terjadi. Lihat saja, kita suci pada agama-agama. Semua menghina iblis, tanpa ada satupun yang peduli padanya.Kekhawatiran tuhan kepada iblis sebagai lawan politiknya, ternyata dalam catatan sejarah iblis kalah bermain dengan tuhan. Sebab, tuhan menurunkan ribuan nabi dan kitab suci untuk memblack-list nama iblis dimuka bumi ini. Bahkan, iblis diibaratkan seperti makluk yang paling jelek, tiada duanya didunia ini.Sekarang sudah saatnya, barangkali, membangkitkan dan mendengarkan suara dari iblis. Ingat, iblis bukan harus dimaknai secara negatif dan pejoratif. Cobalah berpikir obyektif dan tidak berprasangka buruk terhadap yang lain. Dorongan kejelekan yang seringkali dikaitkan dan dipengaruhi oleh iblis itu semata-mata stigmatisasi tuhan melalui para nabinya. Buktinya, ketika tuhan berjanji untuk menghukum para iblis, syetan pada bulan ramadhan agar tidak mengganggu manusia, namun pada kenyataannya banyak manusia yang melanggar etika bersama, norma sosial. Lalu, tuhanpun berapologi –sebagaimana yang disabdakan banyak para nabi–bahwa syetan, iblis dihukum benar, tetapi hawa nafsu tidak pernah dihukum. karenaitulah, yang berbuat kejelekan bukan karena iblis tetapi hawa nafsu semata.

Jika demikian, maka menjelek-jelekkan iblis sudah tidak wajar lagi. Gagasan ini muncul ketika aku merefleksikan panjang tentang banyaknya pelaku dosa dibulan ramadhan kemaren. Ini bukan gagasan gila. Ini adalah gagasan yang penting untuk kita semarakkan. Melalui inilah, kita bisa menerima informasi secara seimbang, obyketif, tidak saja dari tuhan, tetapi juga dari musuh-musuh TuhanTulisan ini dipublikasikan di mailing list kmnu, islamlib. Ada sejumlah komentar baik yang mendukung ataupun yang menolak

Jogjakarta, Desember 2003

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s