Siapakah Guru Bangsa Kita?


Pemilihan umum semakin dekat. Calon-calon presiden mendatangpun bermunculan. Diantaranya adalah Nurcholish Madjid. Terlepas dari pro-kontra, munculnya isu pencalonan Nurcholish Madjid didasari beberapa hal.  

Pertama, Nurcholish Madjid sebagai intelektual muslim Indonesia memikili integritas, moralitas dan intelektualitas yang tak diragukan lagi. Berbagai gagasan visioner dan progresif baik yang berkaitan dengan agama, bangsa maupun negara muncul dari tokoh pembaharuan Islam di Indonesia ini. Kritik konstruktif, saran dan fatwa-fatwanya, tanpa interest politik terhadap penguasa sering dia lontarkan.

Kedua, adanya krisis multidimesi yang melanda Indonesia terutama krisis moral dan maraknya tradisi KKN dikalangan elit negara. Disini Cak Nur–panggilan akrab Nurcholish Madjid—mendapat posisi yang sangat stategis dan dipandang representatif untuk menyelesaikan persoalan bangsa, khususnya terkait dengan moralitas pemerintah.

Disamping itu, karena tidak aktifnya Cak Nur dalam salah satu partai menjadikan ia bisa bisa diterima disemua kalangan. Sayangnya, isu pencalonkan Cak Nur dihembuskan oleh partai yang dikenal dengan status qou, Golkar. Sehingga ia menjadi sulit diterima oleh masyarakat, khususnya kalangan awam.

Kenapa Golkar mencalonkan Cak Nur ?. Tentu saja memiliki target-target politik tertentu, yakni (khususnya) perbaikan nama baik Golkar yang sudah tercoreng. Dengan mengangkat Cak Nur sebagai calon presiden dari Golkar tentu memiliki implikasi-implikasi positif untuk menyedot simpati massa yang banyak bisa dimiliki.

Akibatnya, keharuman nama Cak Nur akan tenggelam ditelan oleh posisi Golkar yang kini semakin tidak dipercaya. Dan, ketika misalnya Cak Nur dicalonkan oleh partai lain, dia juga akan mengalami hal yang sama meskipun tidak separah dicalonkan Golkar. Sebab, partai-partai yang ada dan tampak subur di Indonesia ini sulit dipercaya. Saat kampanye, ia hanya bisa menjanjikan harapan-harapan baik. Dan ketika meraup kekuasaan, mereka lupa akan janji-janji palsu yang diberikan kepada rakyat.

Inisiatip untuk memperbaiki bangsa dan negara hampir tidak ada. Apalagi ketika terjepit oleh lawan politiknya, pada saat itulah yang muncul adalah bagaimana meraup kekayaaan sebanyak-banyaknya untuk dinikmati setelah ia berkuasa.

Jika pencalonan Cak Nur benar-benar terjadi, disamping memberi nuansa baru dalam perkembangan politik Indonesia, juga tampak problematis. Problemnya, jika pada masa lalu kita memilki Gus Dur dan Nurcholish Madjid sebagai guru bangsa, kini Gus Dur karena aktif di dunia partai politik, identitas Gus Dur sebagai Guru bangsa semakin luntur. Jika Nurcholish Madjid mengikuti jejak Gus Dur, yakni aktif atau menerima tawaran pencalonan presiden besar kemungkinan label Nurcholish Madjid sebagai Guru Bangsa juga akan luntur.

Bagaimanapun, keberpihakan terhadap partai yang mencalonkannya mesti terjadi. Sehingga, hal tersebut menjadi salah satu penghambat dalam upaya memperbaiki moralitas pemerintah. Cak Nur yang diharapkan menjadi menjadi teladan baik (uswatun hasanah) bagi pemerintah, besar kemungkinan terjebak dan terikut arus pada tradisi yang berkembang saat ini.

Dan pada saat itulah, label Cak Nur sebagai guru bangsa semakin terkikis. Politik memang memberi harapan-harapan yang sangat menggembirakan sekaligus juga menjerumuskan. Lihatlah sejarah Gus Dur. Sebelum ia aktif di dunia politik praktis (PKB), gagasan-gagasan dan fatwa-fatwanya selalu menjadi “penawar dahaga bangsa”, dan kritik terhadap pemerintah bisa lebih steril.

Namun, kini Gus Dur berada pada posisi yang sulit. Disamping karena ketidakberhasilan memimpin bangsa ini, juga massa mengambang (floating mass) yang berada di luar massa inti (Nahdlatul Ulama) yang pada awalnya pro terhadapnya, kini tidak simpati lagi, atau bahkan antipati.

Meskipun bangsa ini membutuhkan seorang Nurcholish Madjid untuk memimpin bangsa, akan tetapi posisi semacam itu justru akan mengancam, tidak saja kepada pribadi Cak Nur tetapi juga seluruh bangsa. Sebab, rektor Paramadina ini ketika mendapat tawaran-tawaran politik yang sangat menggiurkan dan menerimanya, lalu siapakah yang akan menggantikan posisi Cak Nur sebagai guru bangsa ?. Gus Dur tidak bisa diharapkan lagi. Kini, Cak Nur masih penuh dengan tanda tanya. Adakah Cak Nur bisa mempertahankan posisinya sebagai guru bangsa.?

Karena itulah, isu pencalonan Cak Nur secara tidak langsung akan menjadikan bangsa ini hidup tanpa kendali. Dan, sebagai guru bangsa akan lebih terhormat dan dihormati oleh bangsa daripada menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia yang tidak bisa membawa bangsa dan negara ke arah yang lebih baik, prospektif. Bagi saya, Cak Nur cukup berada diluar garis struktur, sehingga ia nanti bisa diharapkan sebagai penyambung aspirasi rakyat kepada pemerintah. Sebab, menjadi guru bangsa tidak perlu kampanye-kampanye politik.Tapi publiklah yang akan mengklaim dengan sendirinya. Dan karena itulah, perjuangan, gagasan, dan tingkah laku Cak Nur akan selalu dikenang oleh bangsa disepanjang zaman.

Cak Nur, janganlah terjebak pada sekelompok orang yang akan menjerumuskan nama baikmu ! . Semoga Cak Nur tetap berada di garis perjuangan rakyat.

Di muat di Jawa Pos, 13 Meri 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s