PTN Sebagai Lahan Bisnis


Pendidikan kini tidak lagi bisa dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. Setelah pemerintah lepas tangan dari tanggungjawabnya, yakni mencerdaskan bangsa, PTN bebas mengeluarkan kebijakan apa saja, khsusunya PT yang menjadi badan hukum. Mulai dari biaya kuliah sampai penjualan kursi di PTN. Akibatnya, anak orang miskin hanya bisa berpangku tangan, meskipun juga memiliki kecerdasan, cita-cita dan idealisme yang tak kalah tingginya.

Alasan yang sering diungkapkan adalah untuk mendidikan calon-calon sadraja yang berkualitas membutuhkan biaya yang banyak. Karena itulah, untuk menutupi kekurangan biaya pendidikan, kursi-kursi PTN di jual dengan harga yang sangat mahal, khususnya fakultas-fakultas favorit seperti kedokteran, teknik, ekonomi. Mulai dari harga 60 juta sampai dengan 200 juta.

Maka, hanya anak orang kaya yang mampu menembus mahalnya kursi pendidikan seperti itu. Sementara anak orang miskin tidak bisa menikmatinya. Padahal, anak orang miskin yang pintar hendak mengubah nasibnya dengan cara bersekolah di fakultas-fakultas favorit agar kelak menjadi orang sukses. Namun, apa boleh buat. Mereka sudah pasrah untuk menjadi pengangguran.

Anak orang miskin hanya bisa menikmati perguruan tinggi yang kumuh, jelek. Dan hasilnyapun jauh dari target pendidikan nasional. Kuliah hanya prosesi hidup yang tidak memiliki arti apa-apa dalam hidupnya. Tidak bisa mengubah nasibnya. Tidak pintar. Selalu termarginal. Untuk bersaing dengan orang-orang kaya tidak mampu. Itulah nasib mereka.!

PTN seperti ITB, UI, UGM, hanyalah milik orang berduit, bukan orang yang berkualitas. Sebab, dengan penjualan kursi fakultas-fakultas favorit menjadi bukti kuat bahwa yang didahulukan adalah uang. Padahal, biasaya orang tua yang bersedia membeli kursi yang harganya ratusan juta itu, anaknya tidak cerdas. Dalam pandangan orang tua semacam itu, apapun jalan yang ditempuh yang penting kuliah di fakultas favorit.

Jika demikian, maka calon mahasiswa yang cerdas yang secara kebetulan lemah dalam aspek ekonomi tidak mempunyai peluang di PTN-PTN yang favorit. Potensi mereka yang seharusnya berkembang, justru mati ditengah jalan hanya gara-gara ekonomi. Padahal jumlah kemiskinan di Indonesia semakin bertambah banyak setelah di landa kiris ekonomi yang berkepanjangan ini. Tidak hanya di desa-desa, dikota-kota besarpun juga bertebaran rakyat yang kekurangan makan, miskin.

Maka benar apa yang dikatakan Randall Collins dalam salah satu karyanya, The Credential Society, pendidikan formal adalah pelopor utama dalam pembentukan stratifikasi sosial, kesenjangan sosial. Orang berduit bisa menyekolahkan anaknya pada perguruan tinggi yang memiliki mutu dan kualitas baik. Sementara, anak orang miskin hanya bisa mengeyam pendidikan apa adanya, semampunya. Bahkan, terkadang tidak mampu menyekolahkan anaknya.

Lalu, bagaimanakah seharusnya dalam menyikapi hal demikian ?. Pertama, pemerintah harus tetap bertanggungjawab dalam kapasitasnya untuk mencerdaskan bangsa. Sehingga, bantuan dari pemerintah terhadap rakyat miskin niscaya dibutuhkan. Sebab, sebagaimana yang telah disebutkan dalam UUD 45 bahwa seluruh bangsa Indonesia berhak mendapatkan pengajaran dan pelajaran. Maka kalau mengacu UUD 45 tersebut, pendidikan seharusnya digratiskan kepada seluruh bangsa Indonesia.

Kedua, oreintasi pendidikan. Dengan adanya sistem penjualan kursi di PTN, beratri target yang hendak dicapai bukanlah pencerdasan, tetapi keuntungan secara ekonomis. Jika memang yang dikedepankan adalah kualitas, penjualan kursi seharusnya dikhsususkan kepada calon mahasiswa yang cerdas sekalipun lemah dalam ekonomi dengan harga yang murah.Seharusnya, yang dipriorotaskan bukan ekonomi, tetapi kualitas. Sehingga persaingan intelektualitas dan kualitas mahasiswa bisa terjadi. Jika penjualan kursi di PTN dengan didasarkan pada ekonomi masih dipertahankan, maka fakultas-fakultas di PTN-PTN besar akan dipenuhi mahasiswa-mahasiswa goblok, tapi berduit. Itulah mahasiswa borjuis, tanpa memiliki idealisme. Inilah fenomena yang berkembang saat ini. Mahasiswa di fakultas favorit pada PTN besar tidak mesti pintar.

Ketiga, perlu adanya keseimbangan antara menjual ilmu dengan kursi di PTN. Sekalipun PTN-PTN besar bermutu dan berkualitas, namun transformasi pengetahuan masih perlu dipertanyakan. Hal ini tidak lain, karena yang diprioritaskan oleh PTN bukan mendidik peserta didik dengan baik, mencerdaskan, tetapi justru mengerut keuntungan yang sebanayak-banyaknya. Hal ini juga bisa dilihat dari kasus adanya Semester Pendek (SP). Program tersebut memang disedikan bagi mahasiswa yang lemah kualitasnya, mendapat nilai jelek, tetapi kuat pada aspek ekonominya. Akibatnya, dosenpun berlomba-lomba untuk membuka jalur pendidikan melalui Semester Pendek ini. Perguruan Tinggi kini sudah menjadi lahan bisnis, bukan sebagai wadah transformasi pengetahuan. Inilah potret buran dari pendidikan kita.Singkatnya, mahalnya biaya dalam proses pendidikan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kemampuan rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan dan pengajaran. PTN semakin tidak memberikan kesempatan kepada orang-orang yang tidak mampu. Maka pandangan yang mengatakan bahwa kuliah di PTN lebih mural daripada di PTN perlu ditinjau ulang.

Lalu, dimana letak kemanusiaan dari pendidikan kita ?. Tidakkah pendidikan dengan biaya yang sangat mahal akan menambah jumlah kemiskinan ?. Dan, bukankah itu merupakan proses kearah pembodohan secara massal.? UUD yang mengatakan bahwa semua bangsa mempunyai hak sama dalam mendapatkan pengajaran dan pelajaran sudah tidak berfungsi lagi. Apa perlu mengamandemen UUD tersebut, jika ternyata pendidikan kita sudah diatas langit?

Dimuat di Duta Masyarakat, Rabu 02 Juli 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s