Keluarga, Agama Dan Politisasi Pendidikan


Disahkan atau tidak RUU Sisidiknas selalu menarik untuk dikaji. Sebab, meskipun perbincangannya sudah melenceng dari isu pendidikan menjadi persoalan politik, yakni mendukung atau menolak tanpa rasionalisasi yang jelas dan tidak argumentatif, namun RUU Sisdiknas merupakan salah satu kunci jawaban untuk menyelesaikan pelbagai problem yang dihadapi oleh bangsa Indnesia. Mulai dari persoalan krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai pada persoalan dunia politik.
Peran pendidikan dalam menentukan masa depan Indonesia tidak bisa diragukan lagi. Ia telah menghantarkan Nusantara ini menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Peran seagung ini kini berada dalam simpang siur antara menolak atau menerima. Karena itulah, perbincangan RUU Sisdiknas bukan lagi harus diarahkan pada penolakan atau penerimaan. Akan tetapi, perlunya pembahasan secara mendalam tanpa disertai tendensi dan bias kepentingan. Juga, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas, sehinggu isu ini tidak nampak elitis sebagaimana yang kita saksikan saat ini. Masyarakatlah yang lebih arif dan mengetahui kondisi masing-masing daerahnya. Dan secara tidak langsung masyarakatlah yang akan menjadi obyek dari penentuan nasib RUU Sisdiknas.

Dalam RUU Sisdiknas yang seringkali dipersoalkan adalah pasal 31 ayat 1 tentang pengajaran agama sesuai dengan masing-masing agama yang dianut oleh peserta didik. Tak ada pasal yang sekrusial pasal 31. Hal ini sebenarnya berkaitan dengan pola relasi antar agama-agama.

Pertanyaannya, apakah pendidikan agama harus diajarkan oleh guru yang seagama ? Haruskah pendidikan agama masuk dalam pendidikan formal seperti sekolah atau kampus ? Dan bagaimana nasib bangsa Indonesia manakala RUU Sisdiknas di sahkan. Paling tidak, pertanyaan itulah yang seharusnya diperbincangkan oleh para praktisi pendidikan, mahasiswa, guru, dosen, DPR, pemerintah dan elemen lainnya.

Pada awalnya pendidikan agama bukan berada dalam lingkungan sekolah formal. Ia berada dalam lingkungan yang sangat privat, yakni keluarga. Keluarga berada dalam posisi yang sangat strategis dalam menentukan pendidikan sang anak. Apakah ia nanti akan berada Islam, Kristen, Yahudi ataupun lainnya itu tergantung pada keluarga serta kosntrusi sosial disekitarnya.

Peran semacam ini terkadang tidak disadari dan terbaikan oleh orang tua. Posisi orang tua seakan hanya bertugas memberi makan, minum, membelikan baju, tapi sangat jarang berurusan dengan pendidikan agama, moral, etika sang anak. Jika sang ayah tidak bisa memberikan kasih sayang pada anak, tentu sikap anak cenderung untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan. Sebab, kepada orang tualah anak melakukan identifikasi diri—atau dalam konsep Peter L. Berger di sebut internalisasi.

Berbeda halnya ketika persoalan pendidikan agama, moral, diserahkan kepada para pendidik seperti guru, dosen ataupun kepada pembantu. Guru, dosen sebagai outsider yang tidak paham akan kondisi anak sejak kecil tentu terasa kesulitan dalam mengarahkan sang anak. Bahkan terkadang, apa yang diajarkan oleh guru sama sekali tidak sinkron dengan apa yang dibutuhkan oleh anak. Karena ketidakpahaman perkembangan psikologi anak sejak kecil, maka anak seringkali dipaksa bahkan menggunakan kekerasan agar sang anak patuh dan tunduk pada guru. Hal seperti itu sebenarnya sangat ironis. Sebab, yang dihasilkan bukanlah pendidikan, tetapi justru pengekangan dan kekerasan dari seorang guru.

Jika demikian, pendidikan agama yang hanya sampai pada ranah kognitif berpengaruh pada model pengajaran yang hanya menghafal dalil, norma atau ajaran yang ada dalam agama. Sehingga, banyak siswa yang lulus memiliki nilai pendidikan agama sangat tinggi, tetapi moral kepribadiannya masih layak dipertanyakan. Dengan kata lain, pendidikan agama di sekolah hanya mampu melahirkan intelektualis agama bukan moralis keagamaan (lulusan yang bermoral).

***

Dus, jika memang RUU Sisdiknas Sisdiknas di sahkan, secara tidak langsung menggambarkan akan kegagalam kelaurga dalam mengembangkan dan menentukan pendidikan anaknya. Dan tentu saja, disamping memiliki dampaik positif juga memiliki banyak implikasi negatif terhadap nasib pendidikan nasional kita. 

Pertama, besarnya kemungkinan terjadinya politisasi pendidikan agama. Pendidikan agama bukan lagi persoalan privat, tetapi sudah masuk dalam wilayah negara atau kekuasaan. Sehingga kontrol dan pengekangan dari negara mungkin sangat besar. Akibatnya, otonomi pendidikan sebagai privatus tidak bisa tercapai. Dan, penentuan keberhasilan pendidikan sang anak hanya bisa ditentukan dengan kalkulasi matematik. Artinya, jika anak mampu menjawab pertanyaan dalam soal-soal ujian dikelas, secara otomatis dipandang berhasil dalam pendidikan.

Kedua, pendidikan seperti apakah yang hendak diajarkan oleh para pendidik kita disekolah-sekolah sementara pemahaman terhadap agama sangat plural. Hal ini terkait dengan kekuasaan. Artinya, pengajaran pendidikan agama bisa ditentukan oleh pemerintah. Jika sang penguasa memiliki paham keagamaan sangat eksklusif, rigid, kaku tentu yang yang akan menjadi kebijakan dalam hal kurikulum tidak jauh berbeda dengan ideologi sang penguasa. Ditambah lagi dengan banyaknya sekte-sekte, aliran, ordo, majelis dalam agama.

Disamping itu, terciptanya pro-kontra tentang Sisdiknas memunculkan beberapa ancaman, penculikan, kekerasan baik secara fisik maupun psikis. Seperti penculikan terhadap Presiden IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta sekaligus sebagai Koordinator Umum Aksi terbesar penolakan RUU Sisdiknas, Munir Che Anam, oleh orang yang tak dikenal sebagaimana di lansir oleh majalah Tempo edisi Juni 2003. Hal semacam ini sungguh tidak mendewasakan dan memalukan. Betapa tidak, persoalan masa depan pendidikan bangsa masih harus memerlukan adanya penculikan dan ancaman. Hal ini membuktikan bahwa persoalan RUU Sisdiknas sudah tidak fair lagi. Permainan kotorpun terjadi demi melancarkan target kepentingan kelompok tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s