Soekarno Tetaplah Soekarno


“Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” (Jasmerah), begitu kata Bung Karno. Artinya, sejarah merupakan salah satu entitas penting dalam semua hal yang tak boleh terlupakan. Sebab, dengan membaca sejarah masa lalu kita bisa menatap masa depan. Melalui optik sejarah, kita bisa memprediksikan kejadian-kejadian yang akan datang, apalagi kalau bersifat sirkular. Karena itulah, ungkapan Soekarno diatas penting untuk selalu diingat guna tidak terjebak pada kesalahan dimasa silam.

Namun, ungkapan tersebut tidak selamanya berjalan mulus. Orde Baru ternyata cukup mampu memutarbalikkan sejarah, salah satunya sejarah Bung Karno. Di mata Orde Baru, Soekarno adalah sosok manusia yang kejam dan ateis. Bahkan Soekarno dinyatakan terlibat dan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab dalam peristiwa Gerakan 30 September PKI 1965 sehingga ia perlu diberhentikan seumur hidup yang diawali dengan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 [Tap MPRS No IX/MPRS/1966].

Pelajaran sejarah di sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah selalu menempatkan Soekarno sebagai biang kerok dari PKI dan ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme. Untungnya, dengan modal Supersemar, Soeharto telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari adanya ajaran terlarang, yakni komunisme. Karena itulah, Soeharto diposisikan secara sakral dan menjadi pahlawan yang sangat berjasa bagi seluruh bangsa Indonesia. Begitulah kira-kira isi sejarah yang disampaikan guru di sekolah yang sempat penulis tangkap.

Kondisi seperti inilah yang menuntut F-PDIP-sebagai kelompok Marhaen yang dipimpin Presiden Megawati sebagai anak Seokarno-menuntut adanya perombakan empat Tap MPRS, yakni Tap MPRS No IX/MPRS/1966 tentang Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS RI, Tap MPRS No XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno, Tap MPRS No XLIII/MPRS/1968 tentang Penjelasan Tap MPRS No IX/MPRS/1966, Tap MPRS No XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara RI bagi PKI dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunis/Maxisme-Leninisme.

Karena itulah, usulan F-PDIP mencabut Tap MPRS itu perlu dibaca melalui dua hal. Pertama, secara politis, yakni untuk menganulir keabsahan kekuasaan Orde Baru yang berada di tangan Presiden Soeharto. Disamping itu, juga untuk memperkuat kekuasaan Megawati-sebagai putrinya-yang selama Orde Baru senantiasa mendapat perlakuan diskriminatif dan tidak adil. Hal semacam ini bisa dipandang sebagai counter atau justru balas dendam untuk mengubur kekuatan Orde Baru saat ini dan mendatang.

Secara bersamaan, F-PDIP -terutama Megawati–juga ingin membangkitkan emosi bangsa yang terpesona dengan mitos kebesaran nama Bung Karno di masa lalu. Tentunya, nama dan slogan Bung Karno akan menjadi bahan dalam kampanye nanti, sehingga F-PDIP tetap memperoleh suara terbanyak sebagaimana Pemilu 1999 dan tetap memegang kekuasaan.

Kedua, koreksi sejarah. Sejarah memang sangat terkait dan terikat dengan kekuasaan. Siapa yang berkuasa, seakan dialah yang mempunyai otoritas untuk menciptakan sebuah sejarah. Karena itulah, tawaran F-PDIP perlu disambut dengan hangat, tidak secara uforia. Hal ini penting dilakukan untuk meluruskan sejarah Bung Karno yang selama kepemimpinan Soeharto dipandang secara diskriminatif. Segala hal yang merugikan citra dan merendahkan martabat Soekarno memang harus dihapus, tetapi tidak menggantikannya dengan Tap baru yang mengkultuskan Soekarno.

Sebenarnya, ditangah-tengah masyarakat rehabilitasi nama Soekarno tidaklah begitu signifikan. Sebab, ia tetap diabadikan sebagai pejuang kemerdekaan. Gambar-gambar Soekarnopun bertebaran dan digantung ditempat yang istimewa, buku-buku dan gagasannya mulai diapresiasi dan disebarkan secara luas dan hari kelahiran dan kematiannyapun dirayakan besar-besaran.

Bahkan, konsep-konsep, kepribadian Soekarno kini banyak digandrungi oleh mahasiswa diseluruh penjuru. Ajaran Marxisme-Leninisme yang secara jelas dilarang oleh pemerintah masih tetap dipandang sebagai sebuah konsep yang mampu menggerakkan dan menggetarkan semangat bangsa Indonesia untuk melakukan revolusi sosial.

Karena itulah, dicabut atau tidak Tap MPRS tersebut bagi masyarakat bawah tidaklah signifikan. Ketika di cabut, belum tentu berpengaruh pada perbaikan ekonomi secara makro. Dan, kalau tidak dicabut, ternyata juga tidak membuat inflasi meningkat sampai 600 persen sebagaimana yang terjadi pada masa Soekarno dulu. Yang terpenting bagi masyarakat bawah adalah adanya keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan.

Akan tetapi, sekalipun tidak berkaitan langsung dengan masyarakat bawah, rehabilitasi nama baik Seokarno memang diperlukan. Bukan untuk mensakralkan dan memitoskan, tetapi sebagai balancing atas sejarah yang diciptakan oleh Orde Baru. Kita tidak harus menerima manipulasi sejarah diciptakan dibikin oleh penguasa demi kepentingannya. Tugas kita adalah mencari ruang historis untuk mengkritisinya.

Begitupula dengan Soekarno. Soekarno tidak perlu dikultuskan dan disakralkan, juga tidak harus dicoreng nama baiknya. Seokarno tetaplah Soekarno. Ia akan tetap dicatat dalam sejarah dunia sebagai pahlawan yang telah berhasil memerdekakan Indonesia. Dengan semangat Marxisme-Leninisme, Soekarno telah mampu membangkitkan semangat seluruh rakyat Indonesia untuk berjuang melawan kolonial Belanda. Karena itulah, tidakkah pelarangan ajaran Marxisme-Leninisme atau bahkan Komunisme adalah pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia ?.

Maka, mengelu-elu Soekarno untuk hadir kembali ke dunia sebagaimana yang banyak dialami oleh pengagumnya merupakan tindakan yang kurang arif. Era Soekarno telah berlalu. Namun, yang terpenting saat ini adalah bagaimana memahami dan mengaktulisasikan semangat perjuangan Bung Karno. Soekarno adalah sosok yang anti dan menentang kapitalisme. Karena sikap antipati terhadap Kapitalisme Barat, Soekarno harus mundur dari kursi kepresidenan.

Jatuhnya Soekarno dari kursi empuk itu juga ada intervensi dan korporasi dari pihak asing (baca : Barat), disamping juga faktor internal dalam Indonesia. Soekarno, kita hanya bisa mencatat nama baikmu, mengenang jasamu dan mewarisi semangatmu. Adakah, anaknya (Megawati Soekarnoputri) yang kini menjadi presiden memiliki semangat sepertimu ?. Bisakah ia (Megawati) melanjutkan perjuanganmu, Soekarno ?. Biarkanlah sejarah yang akan mencatat dan menjawab pertanyaan ini. Kita hanya tinggal membaca gerak langkah, semangat perjuangan Megawati saat ini dan dimasa-masa yang akan datang.

Dimuat di Harian Umum Suara Karya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s