Di Balik Kontroversi Film FITNA


Sebuah karya kembali mengusik sebagian umat Islam. Setelah novel Salman Rusdhie dengan Satanic verses (1998), film Submission karya Theo van Gogh dan Hirsi Ali di Belanda (2004), karikatur Nabi Muhammad di Jyllands- Posten (2006), kartun Nirikes Allehande karya Lars Vilks di Swedia (2007), kini giliran film Fitna yang dibuat Geert Wilders menimbulkan kemarahan sebagian umat Islam. Tak hanya umat Islam, masyarakat Kristen Amerika dan Eropa, Sekjend PBB, Presiden Indonesia dan tokoh-tokoh lainnya turut memprotes buah tangan anggota Parlemen Belanda ini.

Film yang berdurasi 17 menit ini dimulai dengan ayat al-Qur’an QS 8: 60 yang yang berbunyi: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)

kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Setelah menyebut ayat ini, film ini menayangkan tragedi 11 September yang meluluhlantakkan Pentagon dan WTC. Aksi terorisme itu sengaja dihadirkan untuk menggambarkan bahwa pengemboman itu merupakan perlawanan terhadap musuh-musuh Allah.

Terhadap ayat itu, Wilders memahaminya bahwa tindakan teroris pada 11 September itu merupakan perintah Allah. Film ini menulis: “What makes Allah happy? Allah is happy when non-Moslem get killed. Annihilate the infidels and the polytheists. Your (Allah) Enemies and the enemies of the religion. Allah, counts them and kill them to the last one, and don’t leave even one”

Pemahaman yang demikian ini bagi Wilders diperkuat dengan ayat lain QS. 4: 56, yang berbunyi: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tak hanya itu, film ini juga mewawancarai gadis kecil yang berumur 3, 5 tahun yang bernama Basmallah. “Are you Moslem? Yes. Are you familiar with Jews? Because they are what? They are apes and pigs. Who said they are so? Allah. Where did he say this? In the Koran” Dengan pernyataan anak belia yang masih lugu dan polo itu semakin menguatkan pemahaman (ajaran) bahwa Islam hadir kemuka bumi ini untuk memerangi agama-agama lain.

Pasalnya, Islam adalah agama yang paling benar. Ketika menguti ayat 4: 89, film ini menulis “Islam is (more) superior than the Jews, than the Christians, Than the Buddhist, than the Hindus. The only (law) Allah accepts is Islam. And whoever seeks any other (law) apart form Islam, will never be accepted”.

Untuk itulah, karena perkembangan umat islam di Eropa berkembang cukup pesat, Wilders berseru bahwa jika umat Islam ingin tetap tinggal di Belanda, maka ia harus merobek separuh al-Qur’an. Ini karena separuh dari al-Qur’an menyimpan doktrin kekerasan yang membayakan masa depan masyarakat modern. Di akhir film ini sambil menayangkan

karikatur Nabi yang bersumber dari Koran Denmark Jyllands-Posten, Wilders menulis bahwa“Imam legalizes violence against gays. Qur’an licenses to kill. Stop Islamisation. Defend out freedom. !

Apa yang dilakukan oleh Wilders merupakan kesalahan yang sering dilakukan baik oleh umat Islam maupun non-muslim dalam memahami Islam dengan cara, seperti yang diungkap Akbar S. Ahmed mengambil dalil ayat secara selektif. Qur’an sepintas memang tampak paradoks, karena satu sisi ia melegitimasi kekerasan terhadap non-muslim tetapi di sisi lain Qur’an menempatkan agama lain secara sejajar.

Mencoba memilih ayat sesuai dengan kepentingan mereka adalah suatu tindakan yang tidak tepat. Farid Essack menyebut Qur’an as contested scripture. Qur’an memang menjadi ajang kontestasi bagi siapapun yang bertarung untuk mendapatkan legitimasi. Karena itulah, dalam menafsirkan Qur’an hal terpenting yang harus dipahami bahwa teks tidak lahir dari ruang hampa. Teks selalu terikat dengan konteks. Hal ini mengapa Qur’an diturunkan secara gradual.

Karena itulah, salah satu kunci dalam memahami Qur’an agar ia tidak tampak paradoks adalah memahami kontekstualisasi dan gradualitas Qur’an. Wilders adalah salah satu contoh bagaimana ia menempatkan teks lepas dari konteksnya. Sehingga ia menemukan justifikasi bahwa Islam adalah agama kekerasan. Kemudian apa yang harus dilakukan oleh umat Islam.

Sebagaimana dinayatakan oleh Machasin, salah satu Guru Besar UIN Yogyakarta, bahwa kita dapat mengambil pelajaran dari film tersebut tentang bagaimana Islam harus memberikan gambaran Islam yang sebenarnya yang cinta perdamaian.

(Tim Riset: Hatim&Malik)

One thought on “Di Balik Kontroversi Film FITNA”

  1. iyah itu dia! saya juga waktu liat ini agak bengong ko gampang sekali bikin penafsiran yang seenak enaknya begitu cuma dari sepenggalan ayat yang dikutip semena mena hehehe

    ah ya ampun…

    anak umur 3.5 tahun itu mah pastinya oh pastinya sudah diajarkan lebih dlu musti bilang apa!

    hhihihi jadi inget pas orang orang ribut gara gara film ini… maaf sekali, saya ko malah memandang itu suatu kebodohan yang mustinya jangan ikut jadi bodoh karenanya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s