Mengambil Pelajaran dari Film FITNA


Beberapa hari yang lalu umat Islam dan dunia pada umumnya dikejutkan dengan publikasi film Fitna yang dinilai mendiskreditkan ajaran Islam. Tak pelak film ini mendapatkan protes dan kecaman luar biasa dari berbagai pihak. Terkait beragamnya respon yang bermunculan, Hatim Gazali dan Abd. Malik dari CRSe mewawancarai Prof. Dr. Machasin, MA., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang kini menjadi Direktur Pertais Depag RI, mengenai film tersebut. Machasin menandaskan bahwa Film FITNA tersebut merupakan ilustrasi sosiologis masyarakat islam.

Bagaimana respon bapak terhadap Film FITNA yang dibuat oleh anggota Parlemen Belanda, Geert Wilders?
Memang, ada orang yang dengan sengaja mencitrakan buruk umat Islam. Saya sangat tidak setuju dengan tindakan tersebut. Film fitna tujuan utamanya ingin membedakan antara peradaban maju dan terbelakang, dalam hal ini yang dituju adalah Islam. Ini sebenarnya suatu tindakan dan sikap arogan dan bodoh.
Menurut bapak, apa yang melatarbelakangi munculnya film tersebut, apakah dapat dikatakan sebagai representasi Barat?
Itu murni pandangan pribadi. Di Belanda ada kelompok kecil yang tidak suka kepada pendatang. Wilders dulu separtai dengan Ayaan Hirsi Ali yang pernah membuat film Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh yang akhirnya terbunuh. Kemudian dia mendirikan Partai baru dengan tujuan ingin memanfaatkan kelompok kecil yang tidak suka pada muslim untuk mendapatkan suara. Kelihatannya dia politisi yang ingin memanfaatkan perasaan orang lain. Apalagi memang imigran muslim memang berkembang dengan pesat pada sekitar tahun 70-80-an yang berdatangan dari negari muslim.
Mengapa Film tersebut sampai memunculkan kontroversi di kalangan umat Islam?
Sebenarnya orang Islam tidak perlu marah, karena itu urusan dalam negeri Belanda. Orang Islam terlalu sensitif dan emosional yang sebenarnya tidak ada gunanya. Justru menurut saya, kita dapat mengambil pelajaran dari film ini. Film ini khan mengambarkan guntingan penceramah yang memang betul adanya. Artinya memang ada orang Islam “yang bodoh” yang sering mengajak untuk membunuh Yahudi dan melancarkan ungkapan kekerasan lainnya. Kita harus mempunyai cara bagaimana mendidik para pemimpin Islam yang seperti itu agar tidak mudah menyatakan pernyataan yang emosional. sedikit-dikit halal darahnya. Seperti di Indonesia baru-baru ini ada sebagian kelompok yang memperbolehkan membunuh kepada Jama’ah Aliran Ahmadiyah. Orang-orang yang seperti ini yang membuat citra buruk terhadap Islam. Artinya kita harus mencari cara bagaimana mengurangi orang-orang yang asal bicara tentang Islam.
Artinya film ini tidak menodai Islam sehingga orang Islam tidak perlu marah?
Saya tidak menyatakan begitu, potongan yang dipakai dalam film itu riil perkataan sebagian kelompok kecil dalam Islam. Tetapi kemudian kesimpulan yang diambil oleh Wilders itu yang salah. Karena lalu dia mengatakan orang-orang yang seperti dalam film itu dianggap representasi Islam. Artinya Islam direduksi hanya orang-orang “bodoh” yang berkata tidak benar tentang Islam. Secara fakta dia benar, tetapi dia salah ketika menyimpulkan dan mengeneralisasi bahwa itulah Islam. Sama kasusnya Seperti di Indonesia orang yang mengajak sweeping turis-turis, membunuh Jama’ah Ahmadiyah. Jumlah mereka sangat sedikit, tetapi vocal. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah mengapa mayoritas Islam yang lain itu diam. Kita harus ngomong bahwa Islam itu tidak seperti itu. Artinya ulama yang seperti yang digambarkan Wilders itu riil ada dalam Islam, tetapi hanya kelompok kecil.
Dalam film tersebut, Wilder mengutip sejumlah ayat al-Qur’an sebagai pembuka untuk mengilustrasikan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Wilders membaca satu ayat tetapi tidak mau mengambil ayat lain. Sama seperti umat Islam sendiri. Saya sering denger sendiri ulama yang menyampaikan khutbah Jumah di Makkah dengan gaya seperti itu. Misalnya seperti yang terjadi ketika saya Jumatan di Aceh ada seorang khatib yang mengatakan bahwa tsunami ini hukuman bagi orang muslim yang tidak menjalankan agamanya. Ini artinya mereka mengambil potongan ayat saja.
Tetapi tidak bisa dinafikan bahwa ada dalam Qur’an yang menganjurkan adanya kekerasan tetapi juga perdamaian, kemudian esensi Islam sendiri terhadap orang lain seperti apa?
Ayat-ayat itu mempunyai konteks yang berbeda. Ayat yang membunuh orang kafir atau Yahudi misalnya, itu dalam konteks perang. Akan tetapi, dalam konteks yang berbeda orang-orang Yahudi yang baik itu tidak diapa-apakan. Penyebutan Yahudi dalam Qur’an harus dilihat dan dibaca dalam konteks historisnya. Ini kesalahan yang sering dilakukan dengan cara membaca ayat lepas dari konteksnya. Ini pula yang menyebabkan Qur’an berwajah garang.
Artinya penafsiran Wilders itu benar?
Seperti yang saya katakana tadi, secara fakta film itu benar bahwa memang ada sebagian kecil dalam Islam yang memiliki sikap seperti itu. Akan tetapi kesalahan Wilders terletak pada pengambilan yang kecil untuk mengeneralisir secara keseluruhan.
Apakah ini menggambarkan hubungan Islam-Barat seperti tesis Huntington tentang benturan peradaban (clash of civilization) ?
Tidak sampai sejauh itu. Saya kira ini seperti yang dikatakan Pak Amin sebagai clash of uncivilzed people. Kalau civilzed people tidak perlu berbenturan. Yang perlu saling justru saling memahami. Saya tidak melihat konflik Islam dan Barat, tetapi sekolompok orang yang memanfaatkan kebodohan orang lain. Di Barat banyak orang yang mengerti Islam, tetapi banyak juga yang tidak paham. Mereka yang tidak paham itulah yang dimanfaatkan melalui film ini. Apakah film ini sebagai ekspresi kebencian seorang Wilders terhadap Islam Saya melihat tujuan dia untuk menarik voters yangs ecara politis supaya dia dapat suara dari kelompok kecil yang tidak suka terhadap Islam.
Sewaktu bapak studi di Belanda, bagaimana model kajian Islam yang berkembang disana?
Islam khan fenomana baru di eropa. Baru-baru ini ada hal positif yang lihat. Di Belanda banyak scholars atau pakar ilmu agama yang berusaha untuk mengajak masyarakat Belanda memahami agama lain seperti Islam, Hindu, Budha dan sebagainya. Di sekolah mungkin kalau di Indonesia tingkat SD, sudah diperkenalkan agama-agama. Dan yang menyusun buku pelajaran tersebut memang orang yang ahli dalam agama-agama.
Bagaimana citra Islam di Belanda?
Di mana-mana Islam harus dibedakan antara Islam sebagai ajaran dengan orang Islam yang datang dengan latarbelakang kultur yang berbeda dengan Belanda. Kadang ketidaksenengan orang Eropa terkait dengan kultur yang dibawa oleh imigran yang tidak menyesuaikan dengan kultur Belanda. Ini sebenarnya murni persoalan kultur bukan ajaran. Karenanya harus dibedakan antara kultur orang Islam yang datang di Eropa dengan ajaran Islam itu sendiri.
Apakah reaksi umat Islam terhadap film Fitna ini cukup berlebihan?
Itu urusan kecil masih banyak urusan lain yang perlu diselesaikan. Sikap kita mengambil pelajaran dan berusaha memperbaiki diri. Protes kalau memang perlu dilakukan sebatas untuk mengatakan itu tidak benar. Tetapi protes yang dilakukan di Belanda sendiri itu sudah cukup. Sebelumnya, umat Islam marah terhadap karikatur nabi di Denmark, kini marah terhadap film Fitna.
Apakah hal semacam ini akan terus muncul di kemudian hari?
Akan terus terjadi. Karena masih banyak orang yang mudah dibodohi dan dimanuplasi. Maka tidak usahlah kita mudah kaget dengan hal-hal seperti itu.

Dipublikasikan pada Bulletin al-Hurriyah, kerjasama CRSe dengan RePro. Selengkapnya buka : http://crsejogja.wordpress.com/2008/04/23/bulletin-al-hurriyah-telah-terbit/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s