Apa Yang Kurang dari Negeri ini?


Pada peringatan hari kebangkitan nasional ke 100, tiba-tiba saja terpikir sebuah tanya “apa yang kurang dari negeri ini? Bukankah gas, minyak, timah, emas, belerang, pohon, segala burung, terumbu karang, sawah yang luas dan kekayaan alam lainnya sudah tersedia secara lengkap di negeri ini? Tapi, mengapa negeri ini selalu dilanda kemiskinan, kemelaratan, konflik dan keterpurukan?”

Apakah hari kebangkitan nasional hanya bermakna pada bangkitnya harga-harga sembako karena BBM bangkit dan tak bisa diraih oleh masyarakat? Pada abad ke-100 kebangkitan nasional ini, toleransi dan kebebasan beragama juga melambung tinggi dan tak pernah membumi. Korupsi bukan saja bangkit dari angka nol, tapi meningkat dan menyebar dari segelintir orang menjadi gotong royong. Bantuan Tunai Langsung (BLT) tidak membawa rakyat untuk bangkit dan kreatif. Pengangguran, dari yang tak terdidik sampai yang terdidik, terus meningkat, bahkan jumlah sebenarnya telah melampaui angka statistik pemerintah (BPS).

Lalu, siapakah yang berhak atas negeri yang kaya raya ini? Privatisasi dalam segala bidang semakin menyangsikan hak milik rakyat Indonesia. Orang tak lagi bebas mencari nafkah dari kekayaan bumi. Semuanya diatur. Sebuah peraturan yang tak pernah berpihak pada rakyah. Sebuah aturan yang diundangkan untuk mengorbankan rakyatnya sendiri.

Lalu, apa yang kurang dari melimpah ruahnya kekayaan alam ini? Ternyata, yang kurang adalah moralitas, pengetahuan dan mental. Tanah, laut, hutan tak menyediakan hal tersebut, yang setiap orang bisa mengeruk dan mengeksploitasinya dari bumi ini. Tidak ada BLT yang berupa moral, pengetahuan dan mental. Yang ada tontonan amoralitas dari bapak/ibu pengelola negeri ini, dari tingkat pusat sampai daerah. Yang bisa disaksikan betapa bodoh dan terpuruknya negeri ini. Yang tertanam dihati bangsa adalah mental yang korup, dehumanis, anarkis, eksploitatif, dan sebagainya.

Kemudian, darimana kita bisa mendapatkan moralitas, pengetahuan dan mental? Terhadap moralitas, agama tak lagi berwenang. Sebab, agama ditangan pemeluknya telah berubah doktrin dari mencerahkan kepada doktrin pengkafiran, kekerasan dan ketidakbebasan. Pendidikan pun bukan lagi menjadi tempat untuk membangun pengetahuan dan mental yang baik. Ia hanyalah bangunan-bangunan, mulai dari rusak, kumuh sampai megah, yang bisa menyiapkan kader bangsa yang bodoh dan membodohi, menjual harkat dan martabat bangsanya, memelarat rakyatnya, dan tak bermoral.

Masihkah ada harapan ditengah “keterpurukan” ke 100 tahun ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s