Kisah Korban-Korban Penyerangan di Monas


http://www.jawapos.co.id/

Tendang dan Keroyok Berlanjut meski Telah Terkapar

Sejumlah korban penyerangan anggota Komando Laskar Islam (KLI) dan massa berjubah FPI harus mendapat perawatan serius. Sampai tadi malam banyak yang masih opname. Berikut kisah-kisah pilu mereka.
DIAN WAHYUDI – Jakarta

KH Maman Imanulhaq tak mengira hari lahir Pancasila dua hari lalu justru dirobek oleh insiden kekerasan. Kiai muda pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka, Jawa Barat, itu datang ke Jakarta untuk mengekspresikan sikap kebangsaannya. Ternyata, kepala, dagu, dan tulang rusuknya luka oleh gerombolan pengeroyok. Dia terkapar dan dibawa ke rumah sakit.

Kiai berusia 36 tahun itu tak lantas emosional setelah insiden tersebut. Dia tetap berharap mereka mau berdialog. “Saya pribadi sangat menyesalkan. Insiden Monas itu seharusnya tak terjadi,” ujar KH Maman kemarin. Kejadian tersebut tidak akan muncul, lanjutnya, jika semua pihak bersedia menyelesaikan setiap perbedaan dengan dialog.

Kiai muda yang akrab disapa Kang Maman itu termasuk salah seorang korban yang menderita luka-luka. Dia juga harus mendapat perawatan di RS Mitra Internasional, Jakarta Timur. Dia opname sehari semalam. Dagunya yang robek harus mendapat lima jahitan. Kepala dan tulang rusuknya juga memar.

Kemarin (2/6) sore tim dokter memperbolehkannya pulang dan menjalani rawat jalan. Meski luka-lukanya cukup serius, dia merasa masih enteng. “Luka saya termasuk tidak terlalu parah. Beberapa teman lain bahkan sempat kritis,” ujar sosok moderat itu.

Kang Maman lalu menceritakan penyerangan yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut. “Yang terjadi kemarin (dua hari lalu) jelas bukan bentrok, tapi murni penyerangan,” kata anggota Dewan Syura DPP PKB itu.

Menurut Kang Maman, saat itu dirinya bersama rombongan yang berjumlah sekitar 150 orang baru datang di lokasi Monas. Mereka berencana melakukan aksi damai untuk memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni. “Awalnya, kami bergerak dari Stasiun Gambir,” ujarnya.

Rombongan Kang Maman lantas bergabung dengan puluhan peserta aksi yang datang terlebih dulu. Mereka melebur menjadi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang terus berdatangan. “Tidak lama berselang, terjadilah penyerangan itu,” katanya.

Sekitar 500 orang yang menggunakan atribut FPI mengepung anggota AKKBB. Menurut Kang Maman, massa tersebut menyerang sambil terus berteriak-teriak. “Bunuh Ahmadiyah! Lantas ada teriakan: ‘Allahu Akbar!’ Bahkan, ucapan-ucapan tak senonoh semisal anjing, babi, dan sebagainya juga terlontar,” ungkapnya, mengingat insiden tersebut.

Secara refleks, kata dia, dirinya berusaha melindungi beberapa peserta aksi dari AKKBB yang juga banyak terdiri atas anak-anak dan perempuan itu. Namun, akibatnya, dirinya sendiri harus menerima serangan dari beberapa orang yang membawa kayu dan bambu. ”Suasana sangat kacau, teriakan ketakutan dan tangisan bergabung dengan suara takbir serta umpatan dari massa FPI,” ujarnya.

Menurut Maman, dirinya dikeroyok sekitar 10 orang. ”Saat jatuh di tanah pun, rusuk saya terus ditendangi bergantian,” ungkap ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Majalengka tersebut.

Beruntung, dia bisa menyelamatkan diri. Selanjutnya, oleh beberapa santrinya, Maman pun langsung dibawa ke rumah sakit.

Selain Maman, Direktur Wahid Institute Ahmad Suaedy juga terluka. Intelektual muda itu menderita luka di dagu dan memar di beberapa bagian tubuh. Dia pun mengutuk keras kekerasan atas nama Islam tersebut.

Seperti halnya Maman, Suaedy dipukuli sekelompok anggota massa FPI. Saat itu, dia sedang bersama istrinya. ”Saya tidak mungkin lari saat itu karena ada istri saya di samping,” ungkapnya di Kantor Wahid Institute, Jl Amir Hamzah, kemarin (2/6).

Saat itu, kata dia, selain istrinya, ada orang tua dan satu orang lagi yang menggunakan kursi roda tak jauh dari dirinya. ”Saya berusaha melindungi mereka karena mereka juga hendak dihajar,” ujarnya.

Sampai tadi malam, sejumlah korban masih dirawat di rumah sakit. Nong Darol Mahmada, aktivis AKKBB, menyatakan, sedikitnya di RSPAD ada empat orang, satu orang di RS Budi Kemuliaan, satu orang di RSCM, dan dua orang di RS Tarakan.

Salah seorang yang dirawat di RSPAD adalah Muhammad Guntur Romli. Aktivis Jaringan Islam Liberal tersebut mengalami luka parah. Tulang pipi patah dan hidungnya bergeser karena hantaman kayu. Dia menjalani operasi sekitar tiga jam untuk mengembalikan posisi tulang itu.

Ceritanya, kata Nong, Guntur berusaha menyelamatkan ibu dan bapak bersama anak kecil yang diserang gerombolan tersebut. Dia pun menghadang bahaya. ”Wajah Guntur lalu dipukul kayu,” jelas Nong.

Guntur yang terkapar dibawa ambulans ke puskesmas. Namun, dalam keadaan wajah sudah berdarah, dia tak mau. Dia ingin kembali ke Monas untuk melihat rekan-rekannya.

Tapi, dia kemudian kehilangan tenaga dan hampir jatuh. Oleh warga setempat, dia dibantu ke wartel dan menelepon teman-temannya. Setelah itu, dia diusung ke RSPAD dan dirawat di sana.

Yang kemarin masuk RSPAD adalah Dr Syafii Anwar. Tokoh kerukunan antaragama tersebut, setelah mendapat pukulan, merasa tidak apa-apa. Padahal, kepala sebelah kiri bocor berdarah. ”Tapi, dia tadi (kemarin) merasa pusing-pusing dan akhirnya dirawat,” jelas Nong.

Nong yang waktu itu juga menyaksikan penyerangan tersebut luput dari keroyokan. ”Yang datang kepada saya hanya satu orang. Saya marah-marahi dia. Ternyata, dia balik,” ungkap putri kiai dari Banten tersebut.

Dia juga menyaksikan spanduk-spanduk AKKBB diturunkan. Bersama backdrop acara, spanduk itu dibakar. ”Mobil panitia sempat akan dibakar, tapi berhasil dicegah,” katanya.

Seperti aktivis AKKBB yang lain, dia tak menyangka hari itu akan berubah jadi tragedi. ”Maunya acara itu jadi apel kebangsaan yang sejuk, seperti piknik,” ujar Nong.

Karena itulah, mereka mengundang para keluarga beserta anak-anak untuk acara di Monas tersebut. (roy)

One thought on “Kisah Korban-Korban Penyerangan di Monas”

  1. ass.akhifillah,semoga Alloh swt tetap memberikan taufiq dan hidayahnya kpd kaum muslimin.dan sholawat dan salam kpd nabi dan junjungan kita Muhammad saw.bersatulah kaum muslimin! Jangan terpedaya nafsu syahawat,kalau ada perbedaan maka kembalikan kpd Alloh dan rosul saw(Alqur’an dan sunnah) jikalau ada masalah maka ambilah sikap tabayyun(teliti) bisa jadi ada org kafir dibelakang kita yg mau mecah-belah kita,jika kita pecah,adudomba,berperang.maka mereka(org kafir) akan tertawa terbahak bak menonton adegan drama kolosal.ingatlah kpd sabda nabi:Alqotil wal maqtul finnari.syukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s