Menuju Kebermaknaan Agama


Belakangan ini, kritik sekaligus interpretasi terhadap agama terus datang secara deras dari banyak kalangan. Bagi yang mengkritik, seperti Nietzsche, Karl Marx, Hendrik Kraemer, Jean Paul Sastre, agama dianggap telah usang, laksana usungan keranda yang mendekati titik ajalnya. Tak pelak, Karl Marx menuduh agama sebagai candu masyarakat (opium of society) yang menghilangkan kesadaran manusia. Sebagian yang lain menghakimi, karena peran dan fungsi agama telah tergantikan oleh science dan teknologi, maka agama tak lebih dari sebuah bejana kosong yang kumuh. Karena itulah, mereka semua hendak mengenyahkan agama dari jagad alam raya ini.

Sementara itu, para agamawan (pemikir dan pemerhati agama) secara intens terus melakukan interpretasi untuk menemukan titik signifikansi agama ditengah-tengah realitas kekinian. Tersebutlah Hasan Hanafi, Asghar Ali Enginer, M. Arkoun, Farid Esack, Abed al-Jabiri, Nashr Hamid Abu-Zayd, Ali Harb, Adonis, Muhammad Syahrour dan lain-lain, disamping melakukan kritik yang tajam terhadap agama (tradisi, turast) masa lalu yang out of date, juga sibuk mendesain agama guna menemukan angin segar bagi agama dimasa-masa yang akan datang. Walaupun semua pemikir memiliki konsep dan epistimologi yang berbeda-beda dalam memecahnya problem diatas, mereka sebenarnya hendak menempatkan dan mengembalikan agama pada khittah-nya, yakni sebagai pembebas, penegak keadilan, pembawa kemashlahatan bagi segenap umat manusia.

Memang harus diakui, bahwa agama telah ditinggal pergi oleh pembawanya (nabi) ribuan tahun yang lalu. Agama terus berlayar tanpa pengawal yang ketat dari nabinya mengunjungi pelbagai negeri, tanpa bisa dikendalikan. Dalam perjalanan mengelilingi dan meluncur ke laut lepas, agama menemukan hantaman badai yang seringkali tak ketulungan. Ia masuk dalam aneka macam peradaban dan konstruksi sosiologis yang plural.

Karenanya, ia tampak kusut dan tak berdaya lagi menghadapi denyut peradaban manusia yang sangat plural sesuai dengan lokalitas dan sosiologis tertentu. Pertumbuhan agama yang masih kanak-kanak—belum didewasakan oleh pembawanya—dalam beberapa hal menghadapi kendala. Ketidakdewasaan agama ini memang disengaja oleh pembawanya, agar ia bisa dibina, diarahkan sesuai dengan peradaban manusia yang mengitarinya. Ia hanya dibekali cita-cita, tujuan yang universal (keadilan, persamaan, kemanusiaan dsb). Sementara, cara dan teknis untuk meraih cita-cita dan tujuan tersebut tergantung pada kondisi sosial masing-masing. Cita-cita itulah yang bisa mempertemukan warna-warni agama disetiap peradaban manusia.

Kini, agama memasuki waktu yang sangat panjang. Ia tampak tua renta. Tidak memiliki vitalitas dan semangat hidup lagi untuk meraih cita-cita yang dititipkan pembawanya. Terlebih, ditangan umatnya ia mengalami politisasi, deprivatisasi, dan kolonialisasi yang tak terhingga. Masa remaja agama sudah lewat, menjelang abad keemasannya. Karena itulah—sebagaimana yang ditegaskan oleh Khaled M.Abou El-Fald—cita-cita dan tujuan agama sebagaimana yang digariskan oleh pembawanya semakin kusut oleh darah manusia yang terus berperang atas nama agama, Tuhan (speaking in God’s name). Konflik di Aceh, Maluku, Ambon, Situbondo dan beberapa daerah lainnya di Nusantara merupakan potret buram dari keberamaan kita. Dibelahan dunia lain, teror 11 September di Amerika yang meluluhlantakan Word Treade Centre (WTC) dan Pentagon dan ribuan manusia. Teros gas beracun Aum Shinrikyo pimpinan Asahara Shoko di Jepang (1990-an), kekerasan kelompok ekstrim Yahudi Israil pimpinan Rabi Mei Kahane, bunuh diri massal pada Peoples Temple pimpinan Jim Jones di Guyana (1970-an) dan pada gerakan David Koresh di Texas (1990-an). Kesemua itu menjadi fakta historis betapa agama terus meminta darah, harta dan jiwa manusia.

Pada sisi lain, agama menjadi barang mewah. Tak semua orang bisa memahaminya secara bebas. Agama yang sejatinya sebagai udara yang bisa dihirup oleh semua kalangan, baik yang ‘alim ataupun awam, kini menjadi milik orang-orang tertentu. Ia menghadapi limit yang ketat dari para elit agamawan dan para negarawan. Bahkan, ketika agamawan menemukan “tafsir liar” atas agama seketika akan dihujat dan mendapat fatwa mati.

Menghadapi fenomena diatas, maka merejamakan agama menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Dalam rangka ini, ada beberapa hal yang penting untuk dikemukakan. Pertama, oposisi kritis atas tradisi. Agama hadir tidak mesti mensahihkan sebuah tradisi. Pada titik tertentu, agama berpretensi untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendasar atas tradisi. Maka tak heran manakala agama menghadapi resistensi dari suatu tradisi tertentu. Muhammad dengan tegas melawan atas sistem sosial masyarakat jahiliyah yang tribal, vandalistik. Namun pada saat yang berlainan, agama lebih bersikap apresiatif dan akomodatif terhadap tradisi (warisan) masa lalu. Indikasinya, adanya konsep syar’u man qablana dalam Ushul Fiqh. Tuhan pernah mengafirmasi akan hal ini ketika menjelaskan tentang puasa. Dijelaskan bahwa puasa yang dilakukan umat Islam saat ini, sebenarnya telah dilakukan oleh umat terdahulu sebelum Muhammad lahir. (QS.2;183). Maka, bukanlah barang mewah ketika Muhammad mengambil sikap aggree in diseggreement terhadap komunitas diluar Islam, termasuk Yahudi dan Nasrani (Amin Abdullah, 1996)

Karena kedua sikap inilah, oposisi kritis atas tradisi menjadi sangat penting. Disini, tradisi dipandang bukan sesuatu yang sakral, tetapi merupakan kreasi manusia yang profan, menyejarah. Maka, sebuah tradisi seketika akan mendapat pensahihan dari agama manakala mengandung nilai-nilai yang tidak berseberangan yang cita-cita universal agama. Sehingga, tradisi yang regresif akan menjadi tanggungjawab agama untuk merubah ke arah progresif seiring dengan nafas agama.

Kedua, desakralisasi agama. Perlu diketahui, kendati agama diturunkan Tuhan Yang Maha Sakral tapi ia melalui lorong-lorong manusia yang menyejarah dan profan. Sehingga, intervensi “pihak luar” dalam membentuk agama tidak bisa nafikan begitu saja. Karena turun kepada manusia yang menyejarah, maka agama tidak akan keluar dari hukum-hukum sejarah dan terus berjalan diatas nalar kemanusiaan. Akibatnya, sekali agama disakralkan, maka ia tidak lagi bisa menjawab persoalan kemanusiaan. Sebab, agama tidak lagi “bebas” ditafsirkan oleh pemeluknya. Padahal, agama diharapkan manusia—sebagaimana juga oleh Tuhan—sebagai problem solver atas kemanusiaan (QS.16:64,89 & QS.27:2). Dr. Muhammad ‘Imarah, juga, pernah menulis bahwa Islam adalah agama yang bersumber dari Tuhan dan berorientasi pada kemanusiaan. Karenanya Islam harus menjadi solusi bagi problem kemanusiaan.

Untuk itulah, sakralisasi agama yang sudah berlangsung beberapa abad yang lalu harus kita dekonstruksi dalam rangka peremajaan agama. Tanpa ada upaya desakralisasi, agama menjadi anakronisme. Alih-alih menjadi “tempat kembali” bagi manusia, agama justru akan mengeluarkan manusia dari zamannya. Pada titik inilah, memeluk agama tidak lebih dari sebuah bentuk kejumudan dan ortodoksi.

Al-hasil, meremajamakan agama sebagai salah satu upaya mengembalikan semangat dan cita-cita pembawanya (syari’, Tuhan dan Nabi) menjadi kebutuhan primer yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Di muat di Harian Jogja, 24 Mei 2008 

One thought on “Menuju Kebermaknaan Agama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s