SKB dan Runtuhnya Islam Moderat


Salah satu televisi swasta menayangkan sebuah debat yang cukup baik tentang Ahmadiyah. Yang dihadirkan adalah kelompok yang kontra dan membela Ahmadiyah. Saya baru saja menyaksikan Debat di acara TV One perihal SKB tiga menteri tentang Ahmadiyah. Dialog yang menghadirkan kalangan pro dan kontra ini tampak kurang produktif. Sebab, yang dipersoalkan antara yang pro dan kontra Ahmadiyah tidaklah sama. Yang kontra Ahmadiyah mempersoalkan teologi Ahmadiyah yang dinilai sesat. Pada dasarnya, vonis sesat terhadap Ahmadiyah ini bukan hanya datang dari kelompok yang kontra, tetapi juga jauh-jauh hari. KH. Hasyim As’ary, pendiri Nahdlatul Ulama, telah memberikan vonis sesat terhadap Ahmadiyah. Begitupula dengan MUI dan sejumlah ormas lainnya.

Bagi yang kontra, hal subtansial yang menyebabkan kesesatan Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah pengakuan adanya nabi setelah nabi Muhammad. Jika diteliti secara mendalam, orang yang mengklaim nabi setelah nabi Muhammad bukanlah fenomena baru dalam sejarah Islam. Musailamah adalah salah satu dari orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi. Di Indonesia, Mushaddiq beberapa bulan yang lalu juga telah memproklamirkan diri sebagai nabi, walaupun pada akhirnya melakukan pertobatan.

Dalam Islam juga dikenal tentang lahirnya Imam Mahdi. Keyakinan tentang Imam Mahdi ini banyak berkembang dikalangan Syi’ah. Imam Mahdi yang diyakini sebagai sosok nabi yang memperbaharui ajaran-ajaran nabi Muhammad yang telah lapuk oleh darah dan sejarah manusia, juga masih kontroversial. Banyak ulama yang menolak lahirnya Imam Mahdi tersebut. Ini membuktikan bahwa penolakan kelompok-kelompok yang kontra terhadap teologi Ahmadiyah bukanlah fenomena baru dalam sejarah Islam. Karena itulah, kontroversi ini tak perlu di dramatisis dan dipolitisasi menjadi kepentingan kalangan tertentu.

Sementara, kelompok yang membela Ahmadiyah seperti Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan tidak mendasarkan pembelaanya kepada hal-hal teologis, tetapi lebih kepada hak-hak sipil yang harus dipayungi oleh negara. Ini membuktikan bahwa pembelaan terhadap Ahmadiyah bukanlah sebuah justivikasi terhadap kebenaran teologi Ahmadiyah, melainkan sebagai perjuangan untuk mendapatkan hak yang sama dalam melaksanakan agama dan keyakinan bangsa Indonesia sebagaimana yang telah dijamin oleh Pancasila dan UUD.

Penulis berpandangan bahwa AKKBB yang terdiri dari pelbagai aliansi LSM Islam, memiliki pandangan yang berbeda dengan Ahmadiyah. Abd. Moqsith Ghazali dari The Wahid Institute dalam debat di salah satu televisi sudah menjelaskan hal tersebut. Bahwa dirinya memiliki pendirian teologis yang berbeda dengan Ahmadiyah.

Karena itulah, ketidaksetujuan FPI dan kelompok-kelompok yang menolak AKKBB tidaklah menukik pada pokok hal yang dipersoalkan oleh AKKBB. FPI dan organisasi dibawahnya telah menuding AKKBB sebagai aliansi yang membenarkan keyakinan Ahmadiyah. Ini tentu perlu mendapatkan klarifikasi. Abdurrahman Wahid yang getol membela hak-hak Ahmadiyah sebagai warga negara, bukanlah sosok yang dengan mudah memperjualbelikan keyakinan primordialnya tentang Islam dengan teologi baru ala Ahmadiyah. Mantan presiden itu adalah sosok intelektual yang memiliki kekuatan keimanan yang tak mudah digoyahkan oleh hal-hal remeh. Kendati telah dibaptis oleh kelompok Kristen, Gus Dur-demikian sapaan akrabnya-tidaklah berpindah menjadi Kristen.

Masa Depan SKB

 

Terlepas dari pro-kontra diatas, SKB tiga menteri telah keluar dan harus diakuinya sebagai fakta politik. Kini ia bergulir sebagai bola liar yang rentan disalahgunakan oleh kalangan-kalangan tertentu. Kendati SKB ini tidak dengan tegas memberikan vonis sesat dan bubar terhadap Ahmadiyah, tetapi kronologi munculnya SKB bermula dari klaim sesat oleh Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) yang terdiri dari unsur kejaksaan, kepolisian, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Agama.

Karena kemunculannya yang demikian, SKB-walaupun tak dikenal dalam tata hokum kenegaraan Indonesia-memberikan peluang untuk munculnya kekerasan dan konflik sosial. Ketika fatwa MUI memberikan fatwa sesat terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sejumlah kekerasan, penyerangan terhadap tempat-tempat Ahmadiyah berlangsung semarak. SKB ini memberikan dasar yang lebih kuat dari fatwa untuk merekomendasikan kekerasan ditanah air. Lihat saja reaksi beberapa kelompok di Banjarmasin, Palembang, Cianjur, Bekasi dan beberapa daerah lainnya yang menuntut pembubaran Ahmadiyah. Walaupun poin keempat SKB itu telah menyebutkan bahwa negara menjamin keselamatan JAI tetapi peluang kekerasan dan konflik sosial makin terbuka lebar.

Karena beresikonya SKB ini, Ahmadiyah kini tengah mengajukan judicial review atas SKB tersebut. Jalur-jalur hukum, diplomasi dan dialog tampaknya perlu dikembangkan sebagai pemecah persoalan, bukan dengan aksi-aksi kekerasan. Terhadap aksi kekerasan ini, PBB juga merasa tertarik untuk mengamati perkembangan demokratisasi keberagamaan di tanah air.

Runtuhnya Islam Moderat

 

Kekerasan demi kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini telah mencoreng image keberislaman di Indonesia yang dikenal moderat dan demokratis. Kekerasan ditubuh Islam bukan semata-mata terjadi karena persoalan internal, tetapi juga kerapkali disulut oleh faktor eksternal, seperti munculnya film Fitna, karikatur nabi beberapa waktu lalu.

Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mengembangkan pandangan dan sikap moderat terkikis oleh aksi segelintir orang yang melakukan aksi kekerasan. Akibatnya, ditengah pergaulan global, umat Islam akan semakin terkucilkan dan terisolasi karena image buruk tersebut. Sejumlah prestasi yang telah dicapai oleh NU dan Muhammadiyah pasca 11 September 2001 untuk menampilkan wajah Islam Indonesia yang ramah dan demokratis semakin tereliminasi oleh kekerasan yang dilakukan kelompok Islam garis keras.

Hal ini membuktikan bahwa membangun Islam rahmat, santun dan anti kekerasan perlu menjadi skala prioritas dimasa-masa mendatang. Tentu, tak cukup hanya dengan mengutuk tragedi Monas tersebut, melainkan perlu disertai langkah-langkah yang lebih maju. Diantaranya, adalah memberikan pemahaman kepada segenap umat Islam dalam hal menyikapi perbedaan keyakinan dan agama. Dalam konteks inilah, NU dan Muhammadiyah diharapkan menjadi organisasi terdepan dalam membela hak-hak sipil warga negara Indonesia, meminimalisasi kekerasan dan mengembangkan Islam rahmat lil ‘alamin. Hanya dengan cara inilah, eksistensi Islam dalam pergaulan dunia bisa diperhitungkan.

Iklan

12 thoughts on “SKB dan Runtuhnya Islam Moderat

  1. Asslww…
    – anda itu katanya jadi pemenang tulisan terbaik 7 kali di UIN Sunan Kalijaga
    – koordinator Community for Religion and Social engineering (CRSe)
    – meraih juara I dalam skripsi award oleh Ditpertais Depag RI tahun 2006 (SK Pemenang Skripsi Award)
    – buat tulisan sampai ratusan di berbagai media massa

    tapi kok tulisannya cuman himbauan moral melulu seperti: ‘jgn melakukan kekerasan’, ‘bersikaplah moderat’, dll. Tulisan ttg itu kan dah banyak sekali yg muat, ngapain harus ditulis lagi.

    cari yg baru, mas. pendapat mas ttg FPI jg ga baru. dilihat dari tulisan mas, keliatan sistematis dan enak dibaca, tetapi kurang inovatif, kreatif dan kalo diliat secara bener2 tak ada bentuk pemikiran segar dari seorang intelektual.

    coba buat tulisan misalnya kaya’ gini
    “Satu Minggu bersama FPI:Catatan dari Seorang Aktivis Islam Liberal”. buat judul ya kaya’ itu dong… judulnya kok “SKB dan Runtuhnya Islam Moderat”, aku pun dah bisa nebak isinya sebelum membacanya

    atau kalo mas mendudukkan diri sebagai intelektual coba pakai pendekatan sosiologis dan psikologis untuk meninjau suatu masalah, jgn melulu komentarnya Pak Satpam diskotek dijadikan teori

  2. asslww…
    sebenarnya tak ada maksud lain selain menulis posting ini agar mas Hatim itu sadar bahwa selama ini mas Hatim itu tidak mengetahui dunia FPI. Oleh karena itu alangkah baiknya mas Hatim itu melakukan tabayyun dengan mereka.

    Mas, selama ini media, bagi saya tak dapat dipercaya menyangkut soal FPI. Bnyk wartawan diundang oleh pihak FPI sebelum melakukan “tindak kekerasan” (menurut bahasanya Mas hatim), mereka sangat lengkap dalam mencermati proses dari awal mula sampai terjadinya kericuhan.
    dari negoisasi antara fpi dan para pemilik tempat hiburan, proses pelaporan fpi kepada pihak kepolisian sampai, laporan fpi yang akan mengancam ‘membantu polisi merusak tempat maksiat’.

    bahkan banyak pihak juga tau bahwa sblmnya pihak fpi gemar mengirimkan mata2 utk mengetahui detail “tempat maksiat; yg akan dihancurkan lengkap dg kondisi sosialnya. Kata Habib sendiri, kalau seandainya tempat maksiat itu mengganggu masyarakat, dan para pihak diskotik menyuruh preman, maka pihak fpi melakukan prosedur yg semi legal (aku katakan demikian) karena prosedur tersebut juga meliputi bukti2 yg dibawa fpi ke pihak kepolisian dan “izin” dari fpi kepada kepolisian terlebih dahulu.

    tapi apabila masyarakat sekitarnya mendukung keberadaan ‘tempat maksiat’ tsb, maka pihak fpi tidak akan memeranginya tapi mengirimkan para da’i untuk berdakwah disana. so, oleh karena itu ada tempat hiburan yg aman2 aja, koz masyarakat sekitarnya jg mendukung. *ini dinamakan sebagai wilayah amr ma;ruf

    tetapi proses dan prosedur dari fpi itu tdk pernah diberitakan. media hanya menampilkan kekerasan yg dilakukan oleh massa fpi, dan tidak menampilkan beberapa saat sebelum fpi itu bertindak. padahal antara preman dan para fpi itu dalam lapangan sesungguhnya saling serang. bahkan lucunya, para wartawan lebih sering mengganti istilah “preman” menjadi “para warga”.

    itu yg tdk diketahui oleh mas Hatim
    ttg duduk persoalan satu juni kemaren, sebenarnya kalo mas pake kacamata psikologi sosial lebih mudah dipahami, yaitu tentang psikologi kumpulan massa. tak mungkin apabila pertemuan dua massa yg emosional dapat bertemu secara damai bersalam-salaman ketika mereka bersua,

    mas bisa bayangin apabila sekumpulan massa PKB bertemu massa PAN, ketika gus dur dilengserkan, logika ilmiah tak mungkin akan mengatakan bahwa mereka akan bertemu dan saling rangkulan, non sens, yg terjadi pastinya adalah bentrok (mohon lihat di Psikologi sosial khususnya membahas psikologi kumpulan massa)

    . no 2, mas juga bisa pake pendekatan komunikasi, artinya birokrasi polisi pasti sudah mengetahuai “aturan diatas”, maka semestinya mampu mengatur bagaimana caranya agar dua massa itu tak bersinggungan. Klo tau fpi ada di situ, dan akkbb ada di situ ngapain tak disiasatin??. Kenapa media memberitakannya sangat subyektif, memihak salah satu golongan dan menyingkirkan golongan yg lain? mas jg dpt menilainya, apabila mas mau jujur.

    habib rizieq merupakan salah satu dari habaib. apabila seorang habib melakukan kesalahan, maka kita harus menegurnya secara sopan. Tetapi apabila habib, keturunan rasulullah, mempunyai ghirah yg tinggi untuk melenyapkan kemaksiatan karena hal itu jelas bertentangan dg islam, pantaskah kita mengutuk-ngutukinya dan mengatakan dia sebagai preman berjubah??

    terasa tak tahan juga mendengar cucu rasulullah dihinakan begitu saja hanya karena ia orang paling konsisten memerangi kemaksiatan. ya Allah ampunilah mereka.

  3. Rizieq Shihab itu bukanlah habib. Sikapnya aja begitu. Emangnya dulu Rasulullah begitu. Masih banyak habib-habib lain yang lebih sopan dan santun. Mau ikut habib yang mengajarkan kekerasan ataukah ikut habib yang mengajarkan perdamaian.
    Emangnya cucu-cucu rasulullah punya pandangan yang sama? Belum tentu. Rizieq Shihab itu hanyalah segelintir habib yang tidak ngerti tentang islam.
    Kalau Rizieq terus melakukan kekerasan, saya secara pribadi mengundang Rizieq Shihab itu untuk tarung dan berkelahi, gak usah ngajak anak buahnya.
    Anak muda NU

  4. gimana entar yang berkelahi antara Habib Rizieq ama David Rahman,
    trus dilanjutkan pertarungan antara Munarman lawan Gus Dur.

    Bakalan seru nichhhh.

  5. Mas David kalo mo kirim komentar dipahami dulu postingnya, Biar nyambung ama posting sebelumnya.. jangan keburu emosi dulu..

    entar jadinya malu2in lhoo

  6. To: Mas Joko
    Mas pengin tau kenapa orang NU benci ama orang FPI???
    caranya mudah, mas. Orang NU kan pengikutnya Gus Dur. Kalo Gus Dur bilang “A”, maka semuanya ikutan “A”, kalo GD bilang “B”, semuanya ikutan “B”. mengenai alasannya tinggal cari argumentasinya. gak usah repot2 ngajak mereka dialog, mas. percuma!!!

    gitu aja kok repot!!!

  7. wah… kok kita jadi ikutan ribut juga ne… tp selama pake jalur otak gpplah…

    aku termasuk orang yang ahistori tentang ini (kasus monas). tapi sebagai orang awam aku melihat bahwa tindakan kekerasan(siapapun pelakunya) sangatlah tidak dibenarkan apalagi pelakunya adalah orang2 yang katanya sih berpendidikan & beragama..

  8. istilah Islam moderat kemudian fundamentalis, itu adalah upaya barat untuk memecah belah umat Islam.Kenapa disebut fundamentalis..? karena bertujuan menegakkan Islam secara Kaffah/sempurna. sedangkan moderat adalah islam yang sekular yang sejalan dengan pemkiran Barat, demokratis , kapitalis dsb. Islam moderat adalah bagian untuk menyebarkan pemikiran2 Barat yang liberal, yang pluralis dsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s