Surat Keputusan Bersama dan Mitos Islam Moderat


Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/27/index.html

Beberapa hari lalu sebuah televisi swasta menayangkan debat hangat tentang SKB Ahmadiyah. Yang dihadirkan adalah kelompok yang kontra dan membela hak hidup Ahmadiyah. Dialog ini tampak kurang kondusif.

Di sana-sini teriakan takbir menggema, sehingga tampak mengganggu fokus dan konsentrasi narasumber yang hadir. Kelompok pertama yang membela hak hidup Ahmadiyah di-wakili Usman Hamid dan Abd Moqsith Ghazali, sedangkan kelompok kontra diwakili Mahendradatta dan Adnin Armas. Sebenarnya, yang dipersoalkan antara yang pro dan kontra Ahmadiyah tidaklah sama. Kelompok pro ingin melindungi hak-hak sipil warga Ahmadiyah, sementara yang kontra mempersoalkan teologi Ahmadiyah yang dianggap sesat.

Memang, tak bisa dimungkiri bahwa vonis sesat terhadap Ahmadiyah bukan hanya datang dari kelompok kontra yang hadir di studio saat itu. Jauh sebelum itu, KH Hasyim As’ary, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), berpendapat bahwa ajaran Ahmadiyah berbeda dengan tafsir Islam mainstream di Indonesia.Hal substansial yang menyebabkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dinilai sesat adalah pengakuan adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Jelas, sebagaimana ditunjukkan sejarah, orang yang mengklaim nabi bukanlah fenomena baru. Musailamah adalah salah satu dari orang- orang yang mengklaim dirinya sebagai nabi.

Sebagai Perjuangan

Di Indonesia, Ahmad Mushaddeq beberapa bulan lalu juga telah memproklamirkan diri sebagai nabi, walaupun akhirnya melakukan pertobatan. Atas klaimnya itu, Mushaddeq telah dinyatakan bersalah dan dipenjarakan.

Sementara itu, kelompok yang membela hak hidup Ahmadiyah, seperti Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tidak mendasarkan pembelaannya kepada aspek teologis, tetapi lebih kepada hak-hak sipil yang mestinya dilindungi negara. Ini membuktikan bahwa pembelaan terhadap Ahmadiyah bukanlah sebuah justifikasi terhadap kebenaran teologi Ahmadiyah, melainkan sebagai perjuangan agar JAI mendapatkan hak yang sama dalam melaksanakan agama dan keyakinannya sebagaimana di- jamin UUD 1945.

Penulis berpandangan bahwa AKKBB yang terdiri dari pelbagai LSM dan organisasi masyarakat itu memiliki pandangan yang berbeda dengan Ahmadiyah. Abd Moqsith Ghazali, salah seorang narasumber dan anggota AKKBB, dalam debat itu menjelaskan hal tersebut, bahwa dia memiliki pendirian teologi yang berbeda dengan Ahmadiyah.

Karena itu, ketidak setujuan Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok-kelompok yang menolak AKKBB tidak menukik pada pokok hal yang dipersoalkan oleh AKKBB. FPI dan organisasi di bawahnya telah menuding AKKBB sebagai anggota Ahmadiyah itu sendiri. Ini tentu perlu klarifikasi. Abdurrahman Wahid yang getol membela hak-hak sipil jemaat Ahmadiyah sebagai warga negara, jelas bukan anggota atau simpatisan JAI.

Masa Depan SKB

Terlepas dari pro-kontra tersebut, SKB tiga menteri yang melarang JAI menyebarkan ajaran dan keyakinannya telah keluar. Kini ia bergulir sebagai bola liar yang rentan disalahgunakan kalangan- kalangan tertentu.

Kendati SKB ini tidak dengan tegas memvonis sesat dan bubar terhadap Ahmadiyah, tetapi kronologi munculnya bermula dari klaim sesat oleh Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem), yang terdiri dari unsur kejaksaan, kepolisian, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Agama.

Karena kemunculannya yang demikian, SKB -walau tidak dikenal dalam tata urutan perundang-undangan di Indonesia- memberikan peluang munculnya kekerasan dan konflik sosial. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa sesat terhadap JAI, sejumlah kekerasan dan penyerangan terhadap tempat-tempat ibadah dan rumah-rumah pengikut Ahmadiyah berlangsung semarak.

SKB ini potensial disalahgunakan untuk melakukan kekerasan di Tanah Air. Dia bisa dijadikan sebagai license to kill oleh sebagian kalangan yang ekstrem. Lihat saja reaksi beberapa kelompok masyarakat di Banjarmasin, Palembang, Cianjur, Bekasi, dan beberapa daerah lainnya yang menuntut pembubaran Ahmadiyah. Walaupun poin keempat SKB itu telah menegaskan bahwa negara menjamin keselamatan anggota JAI, peluang ke- kerasan dan konflik sosial tak bisa ditutupi.

Karena berisikonya SKB ini, Ahmadiyah kini tengah mengajukan judicial review. Jalur-jalur hukum, diplomasi, dan dialog, tampaknya perlu dikembangkan sebagai pemecah persoalan, bukan dengan aksi-aksi kekerasan. Kekerasan bukan cara terbaik untuk memecahkan perbedaan pendapat dan tafsir atas agama. Kekerasan hanya relevan dalam hukum rimba dan bukan dalam hukum positif di Indonesia.

Mitos Islam Moderat

Kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini telah mencoreng citra keberislaman di Indonesia yang dikenal moderat dan demokratis. Bahkan sebagian orang secara ekstrem berpandangan bahwa Islam moderat di Indonesia hanya mitos. Ini, saya kira, karena kelompok-kelompok prokekerasan semakin berani unjuk kekuatan di tengah diamnya kelompok atau ormas keagamaan yang berhaluan moderat.

Citra NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang mengembangkan pandangan dan sikap moderat, terkikis oleh aksi segelintir orang yang melakukan aksi kekerasan. Akibatnya, di tengah pergaulan global, umat Islam akan semakin terkucilkan dan terisolasi, karena citra buruk tersebut.

Sejumlah prestasi yang telah dicapai oleh NU dan Muhammadiyah pasca-11 September 2001 untuk menampilkan wajah Islam Indonesia yang ramah dan demokratis, tereliminasi oleh kekerasan yang dilakukan kelompok Islam garis keras.

Hal ini membuktikan bahwa membangun Islam rahmat, santun, dan antikekerasan, perlu menjadi skala prioritas di masa-masa mendatang. Tentu tak cukup hanya dengan mengutuk tragedi Monas tersebut, melainkan harus disertai langkah-langkah yang lebih maju.

Di antaranya, memberikan pemahaman kepada segenap umat Islam untuk menyikapi perbedaan agama dan tafsir keagamaan secara arif dan nir-kekerasan.

Dalam konteks inilah, NU dan Muhammadiyah diharapkan menjadi organisasi terdepan untuk membela hak-hak sipil warga negara Indonesia, meminimalisasi kekerasan, dan mengembangkan Islam rahmat lil’alamin. Hanya dengan cara inilah eksistensi dan citra Islam sebagai agama yang santun dan ramah akan pulih kembali.

19 thoughts on “Surat Keputusan Bersama dan Mitos Islam Moderat”

  1. dalam bayangan otak Hatim Gazali itu, ummat islam itu identik dengan kekerasan, mempunyai bayangan membunuh orang lain, dan mempunyai sifat agresif terhadap ummat lain. so, gak usah heran apabila ia melambangkan dengan sebuah pedang.

    sudah tentu kebiasaan sok tau mas Hatim juga ada di tulisan ini “……..FPI dan organisasi di bawahnya telah menuding AKKBB sebagai anggota Ahmadiyah itu sendiri. Ini tentu perlu klarifikasi…..” . gak perlu klarifikasi, mas. so, kita2 ini dah tau anda itu bukan Ahmadiyah, jangan sok tau tentang kami kalo anda itu gak tau. sudah tentu kami tau bahwa ibu2 yg bawa anak2 mereka bukan bagian dari JIL tapi bagian dari massa bawah ummat islam, yg diajak ke monas utk diajak JIL bersama2 mengkampanyekan pluralisme, tanpa mereka ketahui memancing kemarahan ummat islam lainnya, dan sudah tentu kami tak menyalahkan mereka. selain itu perlu ditegaskan bahwa antara JIL dengan ummat islam lainnya itu berbeda, mas bukannya sama.

    JIL itu tak mengenal antara yg benar dan salah, karena antara benar dan salah itu relatif, yg ada cuman perbedaan. selain itu kebenaran menurut JIL itu plural bukan tunggal, beda dg kaum muslimin bahwa kebenaran itu sifatnya tunggal, yaitu Islam. jadi aqidah jIL dg kaum muslimin itu sendiri beda, mas. so gak ada manfaatnya ngaku2 kita mempunyai akidah yg sama (paling2 anda akan menyatakan bahwa kebenaran itu milik Tuhan, dan manusia tak berhak mengklaim kebenaran).

    apabila Mas Hatim berfikir matang2, apabila ummat islam mempunyai kecenderungan apa yg mas Hatim pikirkan (bhw islam itu identik dg kekerasan), org kayak Mas Hatim saat ini sudah tak dapat bernafas lagi. tapi faktanya mereka masih bernafas, masih bisa ngritik2 ummat islam, tidak hanya kritik atas perbuatannya, tetapi kritik terhadap apa2 yg telah disakralkan oleh kaum muslimin itu sendiri.

    di benak kaum muslimin itu logikanya mudah, mas. kamu boleh ngritik apa saja tentang kehidupan kaum muslimin, mereka akan tetap tabah dalam menjalani kritik mas. tetapi apabila anda mengkritik agamanya (ataupun mendekonstruksikan agamanya), maka nyawa taruhannya. gak peduli itu dinamakan kekerasan kek, kekelakaran atau apa aja. anda gak bisa memaksakan kehidupan kaum muslimin agar menerima pluralisme, relativisme, dan lainnya (anda gak usah bo’ong, bahwa org semacam anda sll memaksakan dan menyinggung2 perasaan kaum muslimin ttg hal itu)

    dan hal ini sama sekali mas Hatim gak mau tau ttg hal ini, walaupun sering menyatakan toleransi, tapi gak pernah toleransi dan bersikap inklusif dan terbuka terhadap kaum muslimin itu sendiri (buktinya mas Hatim sampai saat ini gak tau perasaan kaum muslimin). yg ada hanyalah bersikap terbuka dan inklusif terhadap pihak2 yg mempunyai kepentingan yg bertentangan dg kaum muslimin itu sendiri (semoga aja anda jujur ttg hal ini).

    anda jg menyatakan “..Walaupun poin keempat SKB itu telah menegaskan bahwa negara menjamin keselamatan anggota JAI, peluang ke- kerasan dan konflik sosial tak bisa ditutupi….”. anda juga lebih baik diam aja, karena anda itu bukan pakar sosial dan tau keadaan lapangan secara nyata. bukankah saya sudah menantang anda untuk membuat tulisan dg pendekatan sosiologis, tetapi sampai tulisan ini tak pernah anda buat.

    sekarang aku mau tanya nih. ummat islam sudah tersinggung karena sakralitas mereka dikoyak2, dg masuknya JIL membela Ahmadiyah, (sudah tentu hal ini semakin membuat ummat islam menjadi lebih tersinggung, apalagi membawa umat beragama lain dalam AKKBB). dan di pihak lain, kaum Ahmadiyah tetap meyakini Ghulam Ahmad sebagai nabi terakhir, maka;
    a. membiarkan aja, dg konsekwensi akan terjadi konflik secara terus menerus. sudah tentu hal ini membuat negara dalam keadaan genting
    b. membuat peraturan perundang-undangan yg mampu menciptakan ketentraman bersama (sudah tentu itu merupakan nilai yg mendasari suatu hukum positif itu), nilai kebebasan diberikan, tetapi dibatasi dengan kebebasan orang lain.

    anda bebas, tetapi sejauh itu tidak menyinggung perasaan orang lain maupun melukainya.

    kalo anda menyatakan.. “wah itu kekerasan!!!” … “tidak boleh menghakimi orang lain!!”, “.. kebenaran itu milik Tuhan…”, … “kami tidak seperti mereka, kami hanya membela hak mereka untuk hidup disini”. apakah dapat menyelesaikan masalah?, atau malah membuat ummat islam lebih tersinggung dan membuat keadaan makin kacau.

    jadi ini masalahnya tidak hanya kebebasan meyakini Ghulam Ahmad, tetapi juga menyangkut perasaan jutaan kaum muslimin, jangan cuma memandang cuman dari satu masalah saja mas. anda hanya memandang telah terjadi pemaksaan, tetapi di sisi yg lain anda sama sekali mengabaikan perasaan kaum muslimin. sudah berapa kali JIL dan anda (tentunya) berkali2 telah melakukan kekerasan verbal terhadap kaum muslimin (kekerasan itu bukan hanya kekerasan fisik sebagaimana yg anda ketahui), tapi sampai kini Ulil masih hidup dengan nyantai, Zuhairi masih bisa bercengkerama tanpa terganggu. tetapi anehnya mereka tetap melancarkan kekerasan verbal terhadap kaum muslimin dengan mengidentikkan dengan kekerasan.

    pikirkan, mas.

  2. Mas,Joko bahasa anda barangkali perlu diperhalus, jika anda merasa muslim.
    Ada beberapa point yang bisa saya tanggapi.
    Jika islam itu tunggal, kenapa masih ada banyak penafsiran tentang al-Qur’an? Tafsir memang bukan al-Qur’an. Tapi apakah anda akan mengerti tentang al-Qur’an tanpa berupaya memahami tafsir, asbab nuzul dan hal-hal terkait.
    Islam memang satu. Itu sebuah agama. Tetapi jika sudah menjadi keyakinan, ia masuk ke dalam hati setiap orang. Bayangan tentang Tuhan masing-masing orang berbeda. Ini hal yang subtansial dari islam. Adakah yang lebih subtansial dari persoalan ketuhanan dalam Islam? Lalu, jika bayangan tentang Tuhan itu berbeda, bayangan yang mana yang paling benar?
    Beberapa pemikiran JIL dan mas Hatim tidak saya sepakati. Walaupun berbeda, saya tidak pernah merasa Islam sendiri, seperti anda.
    Gak usah sok jagoan mas….Saya tahu dari golongan mana anda? Bukan hal mustahil, anak buah saya mensweeping kawan-kawan anda di Jawa Timur. Saya orang NU dan aktif di Anshor. NU dan Muhammadiyah–walaupun sekedar organisasi–memiliki pemahaman pandangan yang berbeda tentang Islam. Kalau wajibnya shalat sich sama, Tetapi dalam hal-hal lain apakah sama. NU dan Muhammadiyah masih mayoritas. Gak usah macam-macam orang-orang FPI, HTI, MMI dan yang sejenis.
    Gak usah nantang secara terbuka di media massa seperti Rizieq Shihab itu. Jika suatu nanti saya ketemu dengan anda atau golongan anda, gak usah rame-rame, kalau mau tarung saya tunggu dimanapun. Jika jalan kekerasan ini yang anda mau, kecuali anda mau sedikit mengembangkan sikap ramah dan santun.

  3. Jika islam itu tunggal, kenapa masih ada banyak penafsiran tentang al-Qur’an? Tafsir memang bukan al-Qur’an.
    – Klo gitu yg bukan tunggal bukan islam saja. Kristen bukan tunggal, makna surat cinta yg anda baca itu bukan teks tunggal, dan jangan2 posting yg aku baca ini bukan tunggal. terus kata pakar hermeneutika kan “segala sesuatu adalah teks”. so that, kebenaran akan selalu berbeda, so???

    apa salahnya jika aku kemarin menyatakan bahwa menurut JIL itu kebenaran dan kesalahan adalah relatif. ya, udah.. klo kebenaran menurut loe relatif, makan aja relatif, gak usah dipaksain ke saya.

    Islam memang satu. Itu sebuah agama. Tetapi jika sudah menjadi keyakinan, ia masuk ke dalam hati setiap orang. ni hal yang subtansial dari islam
    – Lho katanya kebenaran itu relatif… ya udah, bilang aja bisa kalo islam itu bisa satu bisa dua. nah terus kalimat berikutnya kan juga multitafsir, bisa substansial bisa juga gak substansial.

    penafsiran menurut kata anda kan sifatnya plural.. ya udah relatifkan aja pemikiran JIL gak usah merelatifkan islam. toh islam gak perlu loe relatifkan.

    (emang islam dapet apa dari pemikiran relatif2 itu?)
    dah basi mas… ngomong yang lain aja gimana sihh?? argumentasi anda itu mbosenin dan gak mutu!!!!

    “Bayangan tentang Tuhan masing-masing orang berbeda”. Lho emangnya darimana mas itu tau kalo bayangan Tuhan antara orang yg satu dengan yg lainnya sama??

    mas kalo antar kaum muslimin itu masalah khilafiyah gak perlu dipersoalkan. dah tentu apabila terjadi perbedaan, semisal itu cuman qunutan, yasinan, dan sebagaimnya itu bagi kami gak masalah. tapi bagaimana mungkin kami menerima bahwa islam itu produk budaya, keotentikan al QUr’an, theologi islam dipertanyakan melalui sudut pandang historisitaas. apalagi dengan kalimat2 pluralisme “semua agama itu benar!!!”. tolong anda kritik intelektual2 muda anda, mas. gak usah bikin emosi ummat islam yg lain (entar kalo tersinggung yg disalahin kan temen2 kaya’ FPI kan?)

    Aku tau anda itu dari NU, dan saya juga salut kepada NU dan sangat menghormati mereka, dan aku tau kenapa mereka sangat tersinggung ama kasus yg kemaren? tapi apa anda tau perasaan kami??? itu yg kami maksud.

    Jadi kantor NU, PKB, ANshor di Jakarta alhamdulillah aman, karena kami tau posisi mereka. tetapi beda kantor FPI yg di Jatim. walaupun anehnya “kekerasan” masih dilengketkan kepada kami. justru kami menghormati perbedaan antar muslim, maka kantor PBNU tidak kami serang. tetapi kami sama sekali tidak menghargai pemikiran semacam pluralisme, liberalisme (yg nyata2 itu wacana yg tidak sesuai dg islam) atau aliran sesat itu sendiri, moga mas tau.

    kalo tentang nantang menantang sih.. bukankah pihak kami sudah siap menyambut anda dengan ramah apabila anda dg temen2 anda datang dg persahabatan, tapi juga bersikap sebaliknya kalo kelompok anda datang dg nenteng2 senjata???

    kami tetap menjunjung keramahan dan kesantunan walaupun anda menyebut pemimpin kami dg “njangkar”, kami akan menyebut pemimpin anda dengan embel2 Gus. Kalo aku balas mengejek pemimpin anda, maka anda akan marah, walaupun sebenarnya pihak anda dulu yg lebih dulu ngejek2. so, gak usah kaya’ anak2.

  4. ma’af bahasa saya di atas terkesan kasar. tapi Insya Allah, ini akan menjadi ajang yg menarik utk diskusi permasalahan kita secara terbuka dan transparan.

    anda memahami kenapa FPI itu begitu keras dengan JIL tetapi sebaliknya aku juga mau memahami kenapa orang NU di Jatim itu sangat membenci FPI. semoga menjadi diskusi yg bermanfaat

  5. Kalau mas berani, bakar aja kantor PBNU di jakarta. Kalau itu sudah dilakukan, berarti bunuh diri mas….Bukan hanya di Jatim, tapi juga diseluruh nusantara FPI akan dihabisi. Jakarta emang ada FBR. Tapi kita tau, jenderal siapa dibelakang. Ingat, jakarta masih menjadi basis NU, walaupun tak sefanatik di jawa timur.
    Jika anda lebih sopan, sungguh sangat salut. Dan betapa indahnya persaudaraan sesama muslim ditopang oleh toleransi, perdamaian, senyum, bukan dengan pedang, pentongan seperti yang sering anda lakukan.
    Aku rindu dengan suasana muslim yang santun, ramah. Tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada pemeluk agama lain. Perbedaan agama adalah takdir tuhan. KIta hadir kedunia bukan untuk melawan takdir tuhan, dengan menyeragamnya agama yang ada,atau dengan menghapus salah satu paham.
    Jika ulil, gus dur, amin rais, quraish shihab dikategorikan oleh anda sebagai orang kafir, biarkan Allah menghukum di akhirat nanti. Sebaliknya, jika habib riziq, jakfar umar thalib, ust. abu bakar ba’asyir dikategorikan sebagai muslim yang kaffah, biarkan allah mengganjarnya dengan surga.
    Semuanya akan dihukum dan diadili oleh Allah.
    Itu yang saya baca dari al-Qur’an. Bahwa ketika terjadi persilihan diantara manusia, maka kebenaran yang sebenarnya ada pada Allah. Maka, tidak perlu merasa paling benar.
    Karena itulah, marilah kita berlomba-lomba untuk meningkatkan taqwa kita kepada ALlah, bertoleransi sesama sesama (bukan bertoleransi kepada suatu pemikiran). Bertoleransi sesama manusia beda dengan bertoleransi terhadap pemikiran dan keyakinan.
    Saya tidak bisa mentoleransi keyakinan Ahmadiyah karena berbeda dengan keyakinan saya, tetapi saya masih bisa mentoleransi mereka sebagai manusia. Dengan cara inilah, kekhawatiran malaikat ketika hendak mengutus manusia ke muka bumi secara perlahan bisa dijawab dengan santun. Bahwa khalifah yang diutus oleh Allah tidak untuk membuat kemungkaran, pertumpahan darah, melainkan dengan perdamaian, kasih sayang.
    Salam damai buat teman-teman FPI, MMI, HTI, MUhammadiyah, Ahmadiyah dan keyakinan-keyakinan lain. Berkat dan Rahmat hanya akan mengalir kepada orang-orang yang bertaqwa dan tidak kepada orang-orang yang menumpahkan darah sesamanya.

  6. Ahmadiyah = umatnya Ahmadiyah
    Muhammadiyah = umatnya Nabi Muhammad SAW
    nah kan dah jelas mau ikut yang mana hayoooo???
    he..he..

  7. Mas anda itu kalo posting pahami yang bener maksud posting saya. masak nggak nyambung, sih???

    oke .. aku ikuti logika anda saja………
    anda akan menghabisi seluruh FPI di seluruh nusantara klo FPI berani bakar kantor PBNU???
    siapa yg mo bakar???!!!! cermati dong postingan gue… toh kalo FPI di jawatimur dihabisin, dan PBNU di Jakarta gak dihabisin, kalo dihabisin anda akan menghabisi semua orang FPI.

    anda itu suka memberi lebel kami “kekerasan” tapi anda sendiri suka menghabisi sesama muslim, dan selalu menyudutkan FPI tanpa mendengar penjelasan kami dulu.

    suara anda mana ketika saudara muslim di POso dibantai??? atau ketika di Ambon, ketika muslim semua dibantai, mana suara anda??
    anda itu beraninya hanya antar sesama muslim/ ktk misi kristen menggila, mana pembelaan anda? paling anda akan menjawab :”wah kita harus toleransi sesama”. gak usah kamu ceramain seperti itu aku dah tau, mas.

    kita harus toleransi, mas. bukankah aku kemarin ngajak kamu berdiskusi, kenapa sih Kamu dan rekan NU lainnya begitu membenci FPI?

    kita juga bisa toleransi, mas walaupun itu gak pernah termuat dalam berita. kasus kami lawan tempat kemaksiatan dlm masyarakat muslim dan kami membiarkan dan memberikan dakwah apabila di masyarakat abangan/ apakah apabla di pondok anda ada kemaksiatan akan anda biarkan atas nama toleransi?

    kasus kami dengan gereja, bukan kami tidak toleransi, mas. kami hanya memperhatikan dampak dg dibangunnya gereja di sembarang tempat dan missi yang makin lama tidak kenal aturan. dan hal itu saya yakin gak akan pernah sampai di telinga mas. mas hanya tau kalo sebagian muslim kayak kami tidak toleran, sukanya ingin membantai agama lain, dll. kok bayangan anda terhadap muslim kayak kami kayak bayangan orang amerika terhadap muslim, sih???

    siapa yg mengkategorikan Gus Dur, amin rais dll kafir??? kayaknya gue gak pernah posting kayak gitu deh…

    gue juga baru tau kalo loe sekarang gak lagi mengkafirkan amin rais sebagaimana loe kafirkan bahkan loe rusak semua fasilitas Muhammadiyah di Jatim. ngapain harus bawa2 nama toleransi, kalo anda sendiri gak pernah toleransi, mas?

    dan anehnya anda menyatakan bahwa manusia itu khalifah yang diutus oleh Allah tidak untuk membuat kemungkaran, pertumpahan darah, melainkan dengan perdamaian, kasih sayang. apakah anda pernah menyatakan itu ketika amien rais menjatuhkan gus dur?? anda itu kan memakai dalil itu kan cuman tujuan memojokkan fpi aja kan?? kalo gak ngapain harus siap ngabisin seluruh fpi di nusantara. coba deh.. susun sistematika berfikir yang klop, mas. kalo gak entar jadinya berbenturan dg pernyataan mas sebelumnya.

    Saya rasa anda itu cocoknya jadi penganut teori fungsionalis deh.. masyarakat dipahami akan selalu akur melulu, tanpa ada friksi kepentingan antar mereka. kalo himbauan moralitas kayak gitu sihh.. terlalu sering mas. dan aku yakin anda akan menggunakan ketika para “laskar islam” mempunyai friksi dengan kelompok lain. tapi ketika ada golongan yg punya friksi, anda akan diam. karena kerjaan anda kan, emang selalu nyudut2in islam kayak kami.

    friksi antara fpi vs tempat maksiat, fpi vs gereja, dll (jadi harus dipahami majikan vs buruh) adalah friksi antar kepentingan kalo tidak dicarikan solusinya secara cepat akan terjadi benturan, mas. dan sudah tentu apabila terjadi friksi antar kepentingan, yang kami bela adalah kepentingan islam. anda membela kepentingan siapa??

    kalo anda menyatakan “jangan berkelahi, menumpahkan darah… jangan!!!” kayak anak SD yg dijejali ilmu dari gurunya, tanpa merasakan sendiri bagaimana realitas di lapangan sesungguhnya. sudah tentu.. kami juga menginginkan masyarakat uthopi sebagaimana bayangan anda yang ngawang-awang.

  8. saya anggap anda tidak memberikan jawaban yg tepat pada jawaban posting saya sebelumnya.. bahkan apabila anda bisa mencermati argumentasi mas terbaru sudah terjawab di jawaban saya sebelumnya. terima kasih

    wassalamu’alaikum wr wb

  9. Bener juga ya….
    wah itu emang manajemen zakat belom dikelola dengan baik dan banyak kaum muslimin yg sadar akan kewajibannya.
    thank’s banget telah ngingetin

  10. SALAM KENAL.
    Dengan FRONT KOMUNITAS INDONESIA SATU (FKI-1),Ormas Independen. Untuk lebih mengetahui kegiatan dan AD/ART FKI-1 dapat dilihat di Website:www.apindonesia.com. Sekretariat:Gd.Dewan Pers.Lt.5.Jl.Kebon Sirih No:32-34 Jakarta Pusat. Tlp:0213503349, 3864167. Email:satufki@gmail.com.

  11. To: Mas Joko
    Mas pengin tau kenapa orang NU benci ama orang FPI???
    caranya mudah, mas. Orang NU kan pengikutnya Gus Dur. Kalo Gus Dur bilang “A”, maka semuanya ikutan “A”, kalo GD bilang “B”, semuanya ikutan “B”. mengenai alasannya tinggal cari argumentasinya. gak usah repot2 ngajak mereka dialog, mas. percuma!!!

    gitu aja kok repot!!!

  12. to: Irfan

    assalamu’alaikum wr wb
    sebenarnya gak sesimpel dalam fikiran mas, kok. emang GD mempunyai sumber otoritas melebihi kiai lainnya; seperti nasab, ilmu, (kepercayaan mempunyai)ilmu laduni, dan ditunjang dengan sosoknya yg mempunyai “nama” sebagai mantan presiden RI dan terkemukanya di tingkat internasional ditambah sosoknya yang cerdas dan jenaka… (mungkin Gus Dur seorang tokoh yang paling unik dalam ranah kelompok nahdliyin) jadi ada perpaduan akan sosok Gus Dur dengan ketakjuban, kebanggaan, dan penghormatan yang diberikan kepada warga Nahdliyin kepada sosok tersebut.

    kebanggaan dan ketakjuban apabila tidak diimbangi dengan manajemen dari kita, maka semakin tidak terkontrol dan bahkan kehilangan akal fikiran kita sendiri, dan menjadikan seseorang itu melebihi dari sebesar apa kapasitas seseorang itu.

    Dalam pelajaran kita telah mendapatkan pelajaran yang sangat besar, bagaimana sosok Kristus yg begitu dibanggakan, dihormati, dan disanjung disertai rasa ketakjuban yg tidak terkontrol dari para “pengikutnya” sehingga ia makin dikultuskan sampai naik ke tingkat Tuhan.

    Budaya kultus memang ada dalam wilayah nahdliyin tetapi memang apabila dipikirkan secara mendalam membuat kita khawatir. kepercayaan akan laduni, wasilah, berkah, kewalian dll, merupakan suatu bentuk tradisi yang harus kita hargai sebagai bagian dari bagian ikhtilafi dalam islam itu sendiri, tetapi yg harus kita perhatikan adalah dampaknya.

    klo di Madura, ada seorang yg sangat begitu disakralkan dan dikenal sebagai kiai yg sangat kondang di Madura, yaitu Ra Liur. Ra merupakan anak dari kiai, so sama dengan julukan gus apabila di Jawa, Ra Liur atau dikenal dg KH Kholilurrahman, seorang yang dipercaya mempunyai garis keturunan dengan Mbah Kholil Bangkalan. Ia mempunyai banyak sekali keunikan terutama dalam bidang spiritual, sehingga ia dipercaya mempunyai tingkat makrifat atau setingkat wali. Ia memang mempunyai kualitas dan kharisma yang sangat luar biasa, hal itu memang harus kita harus menaruh hormat padanya.

    Tetapi ia didudukkan satu derajat tidak hanya dengan wali, tetapi disamakan dengan Nabi Khidzir, karena mempunyai banyak persamaan. ia dipercaya mempunyai pengetahuan akan hari esok, suka hidup di air, dan sering bertindak nyleneh. Bahkan ada sebuah pondok pesantren yang dibakarnya di dekat rumahnya, tanpa ada orang yang melawannya termasuk dari pemilik pesantren itu sendiri.

    saya tidak menyalahkan tradisi kepercayaan masyarakat terhadap pengikut tarekat yang memang suka “nyleneh”. tetapi kebiasaan pengikut tarekat itu adalah bagaikan “orang asing” dimana seluruh potensi kehidupannya hanya berkutat kepada Allah, sehingga mempunyai dampak psikologis yang berbeda dengan orang biasa. ia cenderung cuek, tidak menghiraukan materi, bertindak berdasarkan a-sosial atau dalam arti norma, kebiasaan, yang berlaku dalam masyarakat tidak begitu ia hiraukan, so ia mempunyai tindakan yang berlainan dengan anggota masyarakat lainnya. (walaupun bagi kita hal itu lebih merupakan fenomena psikologis biasa dari seseorang dan dihormati dalam suatu kultur masyarakat tertentu).

    “kenylenehan” Kiai lebih disebabkan sistem nilai yang berlaku pada suatu masyarakat yang memang mendukung bagi sebagian dari anggota masyarakatnya untuk mempunyai privelege tertentu. dalam contoh di atas, Ra Liur hanya bisa bertindak seperti itu hanya dimungkinkan apabila nilai yang berlaku dalam masyarakatnya memang memungkinkan ia dapat melakukan hal itu. (jadi itu bukan fenomena luar biasa tetapi hanya fenomena sosial dan psikologis sosial semata)

    Gus Dur juga seperti kiai di atas, dipercaya mempunyai kualitas yang sama dengan kiai di atas (walaupun tidak diberikan titik tekan pada dunia tasawuf). Tetapi kepercayaan pada masyarakat nahdliyin kepadanya, melebihi dari “kapasitas semestinya”. di pesantren kami dulu, sosok Gus Dur dipercaya mempunyai IQ 500, sering ditolak kuliah di luar negeri karena tingkat keilmuan yang dipunyainya sangat luar biasa, dll.

    jadi sama dengan kasus dari Lora Liur di atas. kalo Ra Liur diberikan suatu maqom spiritual tetapi kalo Gus Dur diberikan maqom keduniawian, seperti wawasan pengetahuan yang sangat luar biasa. Dan suatu tradisi yang berkembang berdasarkan nilai yang berlaku dalam masyarakat nahdliyin adalah pengkultusan dan pembelaan yang sangat luar biasa dari mereka, dari pelecehan terhadap kiai. Hal ini dapat kita lihat dari kasus “Ninja” di tahun 1999. karena “kiai” bukan hanya status sosial semata yang dimiliki oleh seseorang, tetapi sebagai simbol kesakralan itu sendiri. Dari itu maka kita jangan heran apabila Mas Davied Rahman merelakan diri mati demi membela kiai yang dicintainya. Karena mas Davied hidup dalam suatu masyarakat dimana memungkinkan ia untuk merelakan mati demi kewibawaan dan suatu kehormatan bagi kiai, walaupun kita gak usah heran apabila ada ummat Islam lain yang dibantai ia akan diam seribu bahasa, karena penghormatan kiai itu melebihi dari ukhuwah islamiyah itu sendiri.

    Mungkin ini dulu, kapan2 akan aku lanjutkan lagi…
    wassalamu’alaikum wr wb

  13. to: Hatim Gazali
    kamu di Buku tamu menyatakan;“…..Karena, organisasi ini bertemu dalam satu asas terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila. Perihal perbedaan dalam konsep gerakan itu adalah wajar. Karena itulah, musuh yang lebih nyata adalah gerakan fundamentalis yang direpresentasikan oleh HTI, MUI, FPI, PKS dan KAMMI
    mas coba pakai akal sehatnya…. mengajak semua orang untuk sama2 memusuhi gerakan Islam, aku tak tau jalan pikiran mas itu kayak apa??
    bagaimana aku tau….
    strategi kamu kan menyerang dan menghindar, dan gak pernah bertahan. mana pertanggungjawaban intelektual kamu, mas??

    oke, kalo Mas Hatim (yg mempunyai setumpuk penghargaan intelektual ini) gak bisa dialog dengan kita, tolong sms (atau telpon) kakak kamu yang katanya Doktor dengan nilai cumlaudes. Tolong ajak ia sama kamu diskusi di sini lawan tukang sayur(Joko).

  14. Dear Mas Joko (sorry, anda aku sebut Si Tukang Sayur, karena suka jualan teori tapi sebenarnya pemikiran anda sendiri banyak cacatnya):
    – so, aku ajak kamu diskusi tentang sosiologi pemikiran daripada mengajak kamu diskusi tentang benar atau tidaknya FPI.
    – Banyak hal yang aku setujui terhadap kamu. Tetapi anda itu terlalu memaksakan diri memakai pendekatan sosiologis. coba jawab pertanyaan saya: “kenapa orang Islam Liberal lebih mempertahankan Gus Dur tetapi kurang memiliki rasa hormat terhadap tradisi?”. Teori anda itu tidak bisa dipakai dalam pertanyaan di atas karena asumsi anda itu terlalu menggenarilisir peristiwa aja. dari fakta “penghormatan terhadap tradisi” anda langsung njujug ke penghormatan terhadap Gus Dur.
    oke aku tunggu kamu di blog saya.. kalo itu untuk sekedar diskusi “pendekatan sosiologis” yang banyak kamu sombongkan. koz aku liat kamu itu hanya amatiran aja…

    to: Mas Hatim
    Mas coba KAMMI dan PKS itu tolong dicabut dari daftar kata yang disamakan begitu saja dengan gerakan “semi-teroris” semacam FPI dan MMI, karena kami berbeda dengan mereka. Oke .. salam kenal aja

  15. to : Arifin
    sorry, anda aku sebut Si Tukang Sayur, karena suka jualan teori tapi sebenarnya pemikiran anda sendiri banyak cacatnya
    – tiap teori apalagi “teoriku” (sebenarnya lebih tepat disebut sebagai hipotesa, perkiraan, atau kalkulasi sosiologis dll) .. pasti ada salahnya, koz gak ada teori yang sempurna.

    Teori anda itu tidak bisa dipakai dalam pertanyaan di atas karena asumsi anda itu terlalu menggenarilisir peristiwa aja
    – tiap teori pasti dibangun dari peristiwa-peristiwa khusus dan dari persamaan dari peristiwa khusus, dijadikan sebagai suatu kesimpulan umum. Jadi kalo mo salahkan, jangan hanya salahkan aku, tapi salahkan aja semua ilmuwan.

    oke aku tunggu kamu di blog saya.. kalo itu untuk sekedar diskusi “pendekatan sosiologis” yang banyak kamu sombongkan. koz aku liat kamu itu hanya amatiran aja
    – buat apa kita berdebat untuk menunjukkan keunggulan kita masing2. Karena sebagai hamba kita diwajibkan untuk tunduk kepadaNya. Bukankah lebih baik kamu membantu saya?? koz ketika ngliat postingan di blog kamu, kayaknya kamu itu juga banyak persamaannya denganku kok.
    oke.. salam ukhuwah.. “assalamu’alaikum” for u

  16. yang paling tidak bisa saya mengerti adalah kenapa ya orang-orang islamis itu merasa hak asasinya terlannggar hanya karena ada orang yang berkeyakinan berbeda? orang-orang silamsi itu kan ya masih bisa meyakini apa yang mau mereka yakini dan bisa menjalankan ibdah yang mereka jalankan? kenapa sewot? heran deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s