Puasa dan Ketaqwaan Sosial


Secara tekun, umat islam menunaikan ibadah puasa. Setiap tahun, seluruh umat Islam disyariatkan untuk melakukan puasa, yakni pada Bulan Ramadhan. Setahun, dua tahun dan beberapa tahun yang lalu, seluruh umat Islam Indonesia telah melakukan sebuah rukun islam yang keempat, Puasa. Semua umat Islam memahami bahwa puasa adalah wajib hukumnya sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah; Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. “(Al-Baqarah [2] 183).

Akan tetapi, kekerasan, terorisme, Korupsi, Kolusi dan Netpotisme (KKN), penindasan dan lain sebagainya masih saja terus mewarnai kehidupan kita. Tak ada yang berubah. Tahun ini, entah berapa puluh jiwa manusia melayang karena ledakan bom, penggusuran, kemiskinan dan lain sebagainya.

Lalu, untuk apa berpuasa?. Apakah puasa hanya sekedar sebuah ritus tahunan yang harus dilakukan oleh segenap umat manusia tanpa memahami dan lalai atas pesan dan makna yang terkandung didalamnya? Ataukah puasa hanya sekedar pelengkap dari ibadah, ikut-ikutan dan beberapa alasan lainnya?

Jika demikian, adalah benar hadist nabi yang berbunyi Kam min shaimin laisa lahu jaza’ illa alju’ wa al’athsy [Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali sengatan rasa lapar dan dahaga]. Orang-orang dalam kelompok ini, hanya bisa merasakan lapar dan haus, tetapi makna dan kehidarian puasa sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya. Bagi yang bermental seperti ini, kejahatan, kekerasan, KKN akan tetap dilakukan walaupun dirinya dalam keadaan berpuasa.

Sebenarnya, puasa memiliki makna yang sangat dalam baik secara sosilogis maupun teologis. Nabi Muhammad bersabda “”Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kama pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmatAllah di bulan ini”. Karena itulah, puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus sebagaimana sabda Nabi diatas. Lebih dari itu, puasa mengandung pesan dan makna yang sangat mendalam.

Menahan Diri

Ada beberapa pesan dan makna yang bisa kita petik dari puasa. Pertama, menahan. Puasa dalam bahasa Arab adalah al-Shaum. Kata ini secara generik bermakna bermakna menahan (al-imsak). Artinya, kita diharapkan menahan diri dari segala maksiat dan hal-hal yang dilarang oleh Allah (munkar) seperti mencuri, KKN, berdusta dan sebagainya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak bisa menahan diri dari segala hal yang dilarang Allah, maka ia bukan termasuk orang yang berpuasa, walaupun dirinya tidak makan dan tidak minum disiang hari.

Abu Hamied al-Ghazali dalam karya Ihya’ Ulumuddin, ada tiga tingkatan (level) dalam puasa. Pertama, puasa orang awam (shaum al-umum). Yaitu seseorang yang hanya bisa menahan lapar dan haus, tetapi ia melakukan dosa dan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Sementara tujuan dan fungsi puasa tidaklah menjadi hal yang utama. Ada lima hal yang menyebabkan (pahala) puasa seseorang itu batal. Yaitu; berdusta, janji yang palsu, melihat dengan syahwat, mengadu domba, dan membicarakan kejelekan orang lain (al-ghaibah)

Kedua, shaum al-khawas (puasanya orang khusus). Yaitu, bentuk puasa yang menahan dari makan, minum, hubungan seksual dan menahan segala panca inderanya dari segala dosa. Ketiga, shaum al-khawas al-khawas (puasanya orang istimewa). Bentuk puasa yang ketiga ini tidak hanya menahan makan, minum dan menahan panca inderanya, tetapi juga tidak memikirkan segala hal selain Allah. Level ketiga inilah, menurut al-Ghazali adalah bentuk puasa yang paling ideal dan sempurna.

Kedua, kontinuitas ajaran Allah. Sesungguhnya umat sebelum Muhammad sudah mengenal tradisi puasa, walaupun dalam bentuk, format dan mekanisme yang berbeda. Diantara umat terdahulu ada yang menjalankan puasa dengan menahan dari bicara sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Siti Maryam ketika terancam mendapat ejekan dari masyarakat sekitarnya bahwa ia telah melakukan perbuatan yang amat keji (hamil dan melahirkan tanpa seorang ayah). Sebelym islam datang, Abdul Muthallib, kakek Nabi Muhammad, adalah orang yang sangat sangat menghormati bulan ramadhan dan melakukan puasa didalamnya (Khalil Abdul Karim, terj. 2003)

Karena itulah, tidak ada perbedaan mendasar antara agama yang diturunkan kepada Muhammad ataupun kepada umat sebelumnya. Hal ini dalam Ushul Fiqh disebut sebagai Syar’u Man Qablana [ajaran yang syariatkan kepada umat sebelum Muhammad]. Abu Zahro dalam Ushul Fiqh (1985) menjelaskan “inna al-syara’ia al-samawiyah wahidatun fiy ashliha”[Sesungguhnya seluruh agama pada dasarnya adalam sama, satu]. Bahkan al-Qur’an menerangkan bahwa sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Muhammad dan nabi-nabi terdahulu tanpa ada perbedaan diantaranya (QS.2;136, 4;163-165, 45;16-18). Jika demikian, maka konflik sosial yang berdimensi agama sudah saatnya dilenyapkan. Truth and salvation claim masing-masing agama sebenarnya sama sekali tidak memiliki landasan teologis.

Ketiga, taqwa. Dalam ayat al-Qur’an diatas (QS.2;183) dijelaskan bahwa orientasi dan visi dari puasa adalah untuk meraih derajat taqwa. Taqwa disini dapat dipahami sebagai kesadaran ketuhanan (God-Conciousness), yaitu kesadaran akan adanya Tuhan Yang Mahahadir (Omnipresent). Dawan Raharjo dalam Ensiklopedi al-Qur’an (2002) memberikan delapan sikap dan sifat orang-orang yang taqwa. Yakni orang-orang yang menuju keampunan Tuhan, mengorbankan hartanya, sanggup menahan marah, memafkan kesalahan orang lain, tidak menganiaya disi sendiri, berbuat kebaikan kepada orang lain, minta ampun kepada Allah (taubatan nashuha), tidak mengulang kesalahan kembali yang diketahuinya.

Karena itulah, orang bertaqwa bukan saja orang-orang yang khusu’ ditempat ibadah semata tanpa melakukan interaksi sosial (hablun min al-nass) yang baik baik sesama muslim ataupun non-muslim. Singkatnya, Yang mengetahui derajat ketaqwaan seseorang hanyalah Allah semata. Sementara itu, manusia hanya bisa menilai dari sikap dan perilaku seseorang. Karena itulah, ketaqwaan seseorang selama didunia ini hanya bisa dilihat dari sikap, tindakan dan perilakunya. Seseorang yang tidak peduli dengan sesama, melakukan kekerasan, penindasan maka ia dapat dipastikan bukan masuk dalam kategori orang yang bertaqwa meskipun rajin melakukan shalat, puasa dan sebagainya.

Dalam Major Themes of the Quran, Fazlur Rahman menjelaskan, “Taqwa pada tingkatan tertinggi menunjukkan kepribadian manusia yang benar-benar utuh dan integral; inilah semacam ‘stabilitas’ yang terjadi setelah semua unsur yang positif diserap masuk ke dalam diri manusia.” [ ]

Sumber: http://harianjogja.com/web/index.php?option=com_content&view=article&id=2346:puasa-dan-ketaqwaan-sosial&catid=117:aspirasi&Itemid=387

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s