Penyempitan Islam


Tanpa disadari, dizaman yang kian mengglobal ternyata Islam semakin menyempit. Mudah saja seseorang mengklaim sesat terhadap yang lain. Tak perlu melakukan ijtihad dan membuka literatur, seseorang bisa dituduh kafir, sesat, murtad dan sebagainya. Yang tak sesuai dengan keinginannya, yang tak melakukan seperti dirinya, dan yang tak berkeyakinan seperti yang dipeluknya, mereka itulah orang kafir dan sesat yang harus dibunuh.

Tengok saja “gosip” kafir terhadap suatu keyakinan dan pemikiran. Ahmadiyah, Lia Eden, aliran Hidup di Balik Hidup, aliran al-Qur’an Suci, Sapta Dharma tertuduh sebagai kelompok yang sesat. Liberalisme, pluralisme, sekularisme juga diklaim sesat. Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid (alm), Ulil Absar Abdallah, Quraish Shihab dan sederet nama intelektual muslim lainnya juga divonis sesat. Tentu, kekerasan baik fisik ataupun psikis tak bisa dihindari. (Semoga) Yang terakhir adalah penyerangan Front Pembela Islam (FPI) kepada aliran Sapta Dharma di Sleman Yogyakarta.

Ditangan manusia berjubah (FPI) itulah islam menjadi sempit, brutal dan bringas. FPI masih percaya bahwa hanya dirinya keyakinan yang benar. Bukan hal mustahil organisasi seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah karena memiliki paham keagamaan yang berbeda dengan dirinya juga dituduh sesat. Padahal, latar berdirinya FPI jauh lebih banyak diwarnai nuansa politis, ketimbang persoalan keagamaan.

Di zaman nabi Muhammad, tak ada pengkafiran atau tuduhan sesat terhadap seseorang ataupun kepercayaan lokal. Sebaliknya, Muhammad saw sangat akomodatif terhadap kepercayaan-kepercayaan lokal. Kendati memiliki kepercayaan yang beragam, toh Muhammad tetap terhormat dan dihormati. Bahkan, sedemikian akomodatifnya sehingga nabi membuat perjanjian Madinah.

Dalam al-Qur’an juga telah disebutkan bahwa klaim sesat dan kafir terhadap seseorang hanyalah milik Allah semata. Tak ada kewenangan merampas hak Allah, kecuali hanya bagi yang hendak mempersekutukannya. Karena itulah, dalam sejumlah kitab kuning disebutkan bahwa siapapun yang mengkafirkan orang, berarti yang menuduh itulah kafir. Jika menuduh sesat dilarang, apalagi melakukan kekerasan.

Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh kelompok yang “merasa paling islam” itu sama sekali tak mencerminkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian yang dibawa oleh Islam. Memang, bertoleransi kepada kejahatan merupakan tindakan yang tak bermartabat. Tetapi, apakah orang-orang yang memiliki kejahatan yang berbeda merupakan sebuah tindakan kejahatan?

Saya mengamati bahwa belakangan ini islam semakin mengalami penyempitan. Islam tidak lagi akomodatif terhadap kepercayaan-kepercayaan lokal dan perbedaan agama. Ditangan kelompok minoritas yang merasa paling berkuasa itu (baca: FPI), islam direduksi hanya menjadi sebuah agama yang sempit; selain dirinya adalah salah dan sesat.

Tujuan perjuangan yang terdengar dari suara mereka adalah untuk menjunjung tinggi kebesaran Allah. Sebuah tujuan yang sangat mulia dan layak didukung. Tetapi, tindakannya sama sekali tak mencerminkan kemuliaan tujuan tersebut. Teriakan takbir bukan untuk melakukan kebaikan, tetapi justru melakukan tindakan kekerasan.

Model seperti FPI-kah islam itu? Saya tidak tahu. Saya memiliki keyakinan kepada Islam yang berbeda dengan FPI. Saya percaya bahwa Islam yang saya peluk adalah ramah terhadap perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama. Saya juga percaya bahwa jalan kekerasan bukanlah tindakan yang mulia. Karena itulah, saya tak mau menjual nama-nama Tuhan hanya demi egoisme semata. Jika pemahaman saya terhadap Islam ini dituduh sesat, barangkali saya rela keluar dari Islam-tentu Islam yang dipahami oleh FPI. Saya lebih suka mengikuti pemahaman islam yang lebih terbuka dari Quraish Shihab, Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid daripada ajaran kekerasan dari Abu Bakar Ba’asir, Ja’far Umar Thalib, dan tokoh-tokoh sekubu dengannya.

Sumber: Bulletin al-Hurriyah Edisi VI

2 thoughts on “Penyempitan Islam”

  1. kenapa antum begt benci dgn fpi, hanya krn da’wah mrk dengan cara
    nahi mungkar….memang, yang antm tdk suka caranya tapi antm jgn lihat kekerasan ang dilakukan itu terlebih dahulu, tp lihat proses yg telah dilakukan FPI sblm mrk bertindak.dgn telah mengirim srt kpd polisi untuk menangani mslh tersbt tetapi tdk digubris…….kan itu membuat orang kan jd kesal sendiri..ya shgga mrk trpaksa melakukan hal itu…sebagai yg sedikit mengerti ilmu agama kita seharsnya jg mau berda’wah “amar ma’ruf nahi mungkar” memang tantangan yng dihadapi akan lebih berat nahi mungkar utk dizaman skrang ini.

    “merasa paling islam” kalimat seperti ini perlu di koreksi……sbg orng yang memngrti ilmu agama klmt spt itu sangat tidak layak dikatakan………..itu dpt menimbulkan disintegrasi& konflik sosial

    “Model seperti FPI-kah islam itu? Saya tidak tahu. Saya memiliki keyakinan kepada Islam yang berbeda dengan FPI. Saya percaya bahwa Islam yang saya peluk adalah ramah terhadap perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama. Saya juga percaya bahwa jalan kekerasan bukanlah tindakan yang mulia. Karena itulah, saya tak mau menjual nama-nama Tuhan hanya demi egoisme semata. Jika pemahaman saya terhadap Islam ini dituduh sesat, barangkali saya rela keluar dari Islam-tentu Islam yang dipahami oleh FPI.”

    sangat tidak pantas.walau ini hanya sekedar ungkapan dr ht seseorang yng ..?????????

    antm berarti membiarkan agama anda di obok2 oleh orang yang mengaku islam dengan membawa keyakinan baru sprt nabi palsu etc.
    lalu anda hanya duduk manis melihat perkembangan berita didepan TV lalu anda berkomentar…..semaunya saja……masya Allah…2
    iman sampean perlu dipertanyakan dalam arti apakh anda sdh 100% percaya pd islam dan msk didalamnya scr 100%

    “krn kl disuatu negri ato daerah terjadi maksiat dan anda membiarkannya……ditakutkan Allah akan menimpakan adzab itu tdk pandang bulu, sprt tsunami kmrn Allah tdk pndng bulu kan?

    asiiif jiddan
    waAllahu a’lam bis showab

    Al Faqir Adh Dho’if

  2. bagi saya orang yg menganggap dirinya paling benar berarti ia sakit……dan menyembah Tuhan tidak harus lewat agama krn menyembah Tuhan itu sederhana tdk perlu ditambah2i cara yg aneh2 ato istilah2 yg sulit dimengerti. Bagi FPI harusnya sadar kapan mereka itu dilantik oleh Tuhan tuk jdi tentaranya….klo ingin Tuhan tinggal mengambil nyawa org lain tanpa hrs minta tolong manusia……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s