Bersahabat Dengan Alam Demi Kedamaian


Oleh Muwafiqotul Isma (Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Harian Jogja, 06 November 2008

Bencana tahunan akan segera terjadi di negeri ini? Memasuki musim hujan, di beberapa daerah akan mengalami banjir secara rutin dalam setiap tahunnya, termasuk Jakarta. Musim hujan yang mestinya menjadi berkah bagi para petani, tetapi seringkali justru menjadi malapetaka. Sawah dengan luasan ratusan bahkan mungkin ribuan hektare tertimpa banjir. Di lingkungan kota yang padat seperti Jakarta, banjir seakan menjadi hal yang mesti dan pasti terjadi. Sebelum memasuki bulan banjir, alangkah pentingnya jika merefleksikan ulang tentang alam lingkungan Indonesia yang kian tak bersahabat.

Adagium bahwa Indonesia adalah surga dunia karena teramat subur, semakin hari semakin rusak. Hal yang sangat mendasar adalah refleksi tentang bencana alam, etika lingkungan dan posisi manusia dengan alam. Sembari melakukan refleksi sungguh sangat penting jika bangsa Indonesia sudah mulai waspada dengan bencana alam tahunan yang akan datang.

Sewaktu penulis belajar di pesantren, dikatakan oleh sejumlah ustadz bahwa bencana alam merupakan takdir dari Tuhan, sebagai ujian dan cobaan. Tetapi, betapa pentingnya mengajukan pertanyaan terhadap keyakinan penulis di pesantren tersebut dan telah diyakini banyak bangsa Indonesia. Mengapa Tuhan mengirimkan bencana kepada manusia dalam setiap tahun? Apakah ujian Tuhan sama seperti ujian nasional yang diterima oleh para siswa untuk naik kelas atau lulus dari suatu tahapan pendidikan tertentu. Jika demikian, kelas berapakah manusia Indonesia saat ini sehingga ujian tak ada henti-hentinya diberikan Tuhan. Dan, mengapa yang selalu menjadi korban adalah kebanyakan dari mereka yang tak punya kekuatan baik ekonomi, sosial atau politik. Bukankah para koruptor dan para penjahat jauh lebih pantas untuk mendapatkan musibah tahunan tersebut?

Kemudian, penulis mencari-cari jawaban yang pasti dalam tradisi Islam. Dalam Al-Qur’an disebutkan “Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Ruum: 41).

Membaca ayat di atas sangat jelas bahwa bencana alam yang menimpa kita adalah sanksi dari Allah karena kita telah melakukan perusakan terhadap lingkungan sekitar kita. Penggundulan hutan, buang sampah/limbah sembarangan dan hal-hal lain. Semua itu dilakukan hampir setiap hari. Itulah karma-dalam istilah Buddhisme-yang mesti diterima oleh kerakusan manusia.

Allah memang menegaskan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi (QS. 2: 30). Sebagai khalifah bukan berarti manusia bebas untuk melakukan apa saja yang ia mau. Melainkan keharmonisan hidup dan alam ini sepenuhnya berada dalam tanggung jawab manusia, bukan yang lain.

Hasil penelitian Forest Wacth Indonesia (FWI) menyebutkan kerusakan hutan di Indonesia sangat mengkhawatirkan dan paling parah di planet bumi ini. Sejak tahun 2001-2003, kerusakan hutan Indonesia sudah mencapai 4,1 juta hektare/tahun.

Saat ini saya baru tahu bahwa bencana alam yang terus menimpa bangsa ini bukan semata-mata takdir Allah, tetapi juga sebagai akibat dari perilaku kita yang terus melakukan perusakan terhadap alam.

Ekologi Islam

Islam sebenarnya telah memberikan ajaran untuk selalu memelihara lingkungan, memberikan contoh (tamsil) tentang akibat perusakan terhadap alam. Dalam kitab-kitab kuning sudah dijelaskan bahwa Adam dan Hawa jatuh dari surga yang sangat hijau dan sejuk ke muka bumi ini karena ia telah melanggar perintah Allah, yakni memakan buah khuldi (QS.2:35-39).

Cerita tersebut memberikan satu pengertian kepada kita untuk selalu memelihara alam. Jika Adam-Hawa hanya memakan, bukan menebang pohon, bisa diusir dari Surga bagaimana jika kita yang seringkali tidak memelihara lingkungan sekitar kita. Andai saja manusia sekarang yang menjadi Adam dan mendapat perintah untuk melarang buah Khuldi, maka ia bukan sekedar memakan tetapi juga akan menebang buah khuldi. Lalu, sanksi apa yang akan diberikan Allah kepada kita. Tentu tak cukup hanya dengan diusir dari Surga. Entah apa? Tapi ini hanya sekedar pengandaian yang tak mungkin terjadi.

Larangan untuk tidak memakan buah khuldi ini datang setelah perintah untuk menyembah kepada Allah. Sehingga, ajaran untuk memelihara alam berada pada urutan kedua setelah percaya kepada Allah. Jika kita masih percaya kepada-Nya mengapa mesti melakukan pengrusakan?
Tidak cukup dengan cerita Adam-Hawa, Allah juga secara tegas berfirman dalam al-Qur’an. Barang siapa yang membunuh seorang manusia, dan membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh kehidupan manusia. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan manusia, maka dia seakan-akan memelihara seluruh kehidupan manusia. (QS. Al-Maidah; 32).

Membuat kerusakan, membunuh sesama berarti telah membunuh kehidupan manusia semunya. Dengan kata lain, tidak memelihara lingkungan berarti kita telah mempercepat adanya kiamat. Segala bentuk eksploitasi dan pengrusakan terhadap alam merupakan pelanggaran yang amat. Sebab, alam dicipatakan dengan cara yang benar (bi al-haqq, QS. 39:5), tidak main-main (la’b, QS; 21: 16) dan tidak secara palsu (QS. 38: 27).

Alam raya yang begitu subur, hijau, dan kaya raya ini tidak lain merupakan bukti (ayat) akan kebesaran Allah. Maka merusak keindahan alam ini berarti telah merusak kebesaran Allah. Lalu, bisakah kita dikategorikan sebagai orang kafir? Sebab, kata kafir bukan saja bermakna tidak percaya kepada Allah, tetapi juga tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah. Kita senantiasa lalai untuk memelihara lingkungan.

Yusuf Qardhwi dalam Ri’ayah al-Bi’ah Fiy Syari’ah al-Islam (2001) bahwa memelihara lingkungan sama halnya dengan menjaga agama (al-din), jiwa (nafs), keturunan (nasl), akal (al-aql) dan harta (al-mal), dalam bahasa As-Syatibi disebut dengan lima tujuan dasar islam (maqasid al-syari’ah). Dari itu, dapat diambil satu pengertian bahwa menjaga lingkungan adalah suatu keharusan dalam rangka menjalankan mandat manusia sebagai khalifah.

Bahkan, nabi Muhammad telah bersabda bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Kebersihan di sini bukan sekedar bersih-bersih rumah, tetapi juga lingkungan disekitarnya. Dengan kata lain, untuk mencapai kesempurnaan iman, maka seorang muslim tidak boleh tidak harus memerlihara terhadap lingkungan sekitarnya.

‘Ala kulli hal, menjaga dan melestarikan lingkungan sebenarnya bukan sekedar anjuran agama, tetapi juga merupakan panggilan nurani. Alam raya ini bukan untuk dihuni oleh kita, tetapi juga harus bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Tentu, kita tidak akan membiarkan anak cucu kita melarat, tertimpa musibah, kelarapan akibat pengrusakan kita terhadap alam lingkungan sekitarnya.

Sumber: http://harianjogja.com/web/index.php?option=com_content&view=article&id=4212:bersahabat-dengan-alam-untuk-kedamaian&catid=117:aspirasi&Itemid=387

One thought on “Bersahabat Dengan Alam Demi Kedamaian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s