Tak Sepi dari Terorisme


Beberapa daftar nama teroris sudah tertangkap, dan diganjar sesuai dengan ketentuan hukum di Indonesia. Akan tetapi, hal ini tidak menujukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya sepi dari terorisme. Ini terbukti tertangkapnya Wahyu yang dinilai akan meledakkan sejumlah tempat di Jakarta. Amrozi cs boleh saja di eksekusi mati, tetapi ajaran-ajarannya tak pernah di eksekusi sehingga ia akan terus berkembang. Ditambah lagi dengan tak tertangkapnya Nordin M. Top yang masih menjadi buronan teroris kelas wahid di negeri ini. Adalah benar bahwa aksi terorisme semakin berkurang karena sebagian pelakunya telah ditangkat, tetapi tak bisa disangkal bahwa Indonesia belum sepenuhnya sepi dari terorisme. Ajaran-ajaran Amrozi dan Nordin M. Top terus menyebar. Teror terhadap presiden SBY-JK adalah salah satu bentuk nyata betapa terorisme masih harus terus diwaspadai.

Sesungguhnya, genderang perang terhadap terorisme telah ditabuh secara nyaring sejak tragedi 11 September 2001 silam yang meluluhlantakan WTC dan Pentagon Amerika. Tetapi, tujuah tahun proses peperangan terhadap terorisme belum sepenuhnya tuntas. Bibit radikalisme yang kerap berujung pada aksi terorisme masih bisa dijumpai disejumlah tempat, tak terkecuali di Indonesia. Karena itulah, mewaspadai serta mengantisipasi aksi-aksi terorisme perlu terus dilakukan, termasuk mengesekusi pelaku bom bali. Jika tidak, terorisme akan benar-benar menjadi ancaman terbesar sepanjang awal abad ini.

Pertanyannya, mengapa terorisme tetap eksis sampai sekarang? Bukankah sudah banyak yang mengutuknya sebagai tindakan biadab? Bukankah tindakan terorisme jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan aliran-aliran keagamaan yang diklaim sesat oleh pemerintah walaupun tak melakukan aksi terorisme? Lalu, apa yang mesti dilakukan?

Menumpas Faktor dan Sebab

Ada banyak faktor dan motif dari aksi terorisme. Sebagian bersemangatkan pada ketidakadilan dan ketidakmerataan ekonomi. Orang yang berada dibawah kemiskinan dengan mudah diprovokasi dan diberi janji-janji entah janji jaminan finansial ataupuan janji keselamatan eskatologis sebagai pelarian atas problem hidupnya di dunia. Sebagian disemangati oleh faktor agama. Kelompok ini berasumsi bahwa dunia harus terbangun dari suatu agama tertentu yang diyakininya paling benar, sementara agama lain adalah salah. Karena itu, memerangi kelompok agama lain adalah hal yang absah.

Sebagian juga disemangati oleh faktor anti-Amerikanisme. Sebagaimana yang tercermin pada hasil penelitian Saiful Mujani dkk (Benturan Peradaban, 2005), bahwa Amerika adalah negara yang paling dibenci (21%), kemudian disusul oleh Israel (7%). Dan, mereka yang anti-Amerika banyak menyuarakan aspiranya atas nama Islam, karena dianggap merugikan dan menyerang Islam (41 %). Tak hanya itu, faktor anti-Amerikanisme ini juga tergambar dari sejumlah pernyataan disejumlah tempat dari beberapa orang seperti Abu Bakar Ba’asir, Amrozi cs, Ja’far Umar Thalib. Tentu ada banyak faktor lain yang sangat kompleks dan sangat beragam dari sejumlah aksi terorisme.

Jika saja langkah pemerintah hanya selalu menangkap, memenjarakan bahkan memberikan hukuman mati para pelaku terorisme, tentu langkah tersebut hanya mengurangi jumlah kuantitas pelaku terorisme. Akan tetapi, langkah seperti ini tidak mengurangi para “calon teroris” yang akan meledakkan sejumlah tempat di negeri ini. Artinya, pemerintah hanya menangkap “akibat” bukan sebab atau faktor yang melatarbelakangi aksi terorisme. Memang, memberikan ganjaran setimpal terkadang menjadi shock therapy yang efektif untuk membuat jera sebagian orang. Akan tetapi, bagi teroris yang sudah terjangkiti virus terorisme dari sejumlah faktor, tentu ganjaran setimpal bukanlah hal yang menakutkan. Sebaliknya, hukuman mati atas tindakan mereka dianggap sebagai mati syahid (martir) yang kelak akan diganjar dengan kenikmatan surga.
Seperti yang kerap dilontarkan oleh Amrozi cs, ia adalah martir Tuhan dan surga telah menunggunya. Eksekusi mati yang diterima Amrozi cs nyaris tak menyurutkan murid-muridnya untuk bertindak seperti apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya, Amrozi cs. Maka tak heran jika ancaman terror baik terhadap presiden ataupuan pada sejumlah fasilitas publik tak terhenti dengan tereksekusinya Amrozi cs.

Lagi pula, menangkap para pelaku terorisme membutuhkan energi dan biaya yang tak sedikit jumlahnya. Saya tidak mengerti berapa biaya yang telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk memberi ganjaran kepada Amrozi cs. Tentu tidaklah sedikit. Biaya yang demikian besar itu tidak memberi jaminan akan surutnya jumlah terorisme di negeri ini. Penangkapan dan eksekusi mati terhadap para pelaku terorisme juga rentan diselewengkan oleh sejumlah pihak menjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Kelompok-kelompok yang pro terhadap aksi Amrozi cs akan menilai bahwa hukuman pemerintah terhadap pelaku bom Bali tersebut telah melanggar HAM dan syariat Islam.

Dalam konteks inilah, mengeksekusi faktor/sebab dan ajaran-ajaran terorisme jauh lebih strategis untuk diperjuangkan dan dikembangluaskan. Sekurang-kurangnya ada dua langkah strategis yang mesti diperhatikan. Pertama, pengembangan pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran. Paham eksklusiv yang seringkali di impor dari sejumlah teks keagamaan harus dirombak menjadi ajaran-ajaran yang inklusif dan toleran. Memang, dalam sejumlah teks agama secara tersirat telah disebutkan bahwa membela agamanya dan klaim sesat terhadap agama lain adalah hal yang absah dan bahkan harus dilakukan. Teks-teks agama yang rentan disalah tafsirkan menjadi doktrin terorisme inilah yang mesti didekonstruksi menjadi pemahaman yang inklusif. Keharusan melakukan penafsiran teks agama bukan saja karena teks tersebut diturunkan dalam ruang dan waktu tertentu, sementara perkembangan zaman terus bergulir, tetapi juga telah ditegaskan dalam teks agama sendiri untuk menggunakan akal pikirannya. Akal pikiran yang sehat tentu dengan tegas menolak aksi kekerasan dan terorisme.

Kedua, mendialogkan Islam dan Barat. Yang seringkali menjadi faktor lahirnya aksi terorisme adalah pemosisian islam dan Barat secara berhadap-hadapan. Dominasi Barat dalam segala bidang telah dianggap mendeskriditkan Islam. Bagi kelompok seperti Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, Front Pembela Islam, dan yang serupa Barat adalah icon musuh dari Islam. Padahal, term Barat sendiri tidak mencerminkan suatu agama tertentu. Di Barat juga terdapat sekelompok agamawan yang religius, bahkan lebih religius dari mereka yang mengklaim dirinya paling religius. Tetapi, bagi kelompok-kelompok tersebut, Barat telah diasosiakan terhadap kelompok agama Kristen dan Yahudi yang dinilainya menjadi musuh Islam.

Bahkan, mereka menilai bahwa representasi Barat tersebut adalah Amerika. Sebuah cara pandang yang berbeda dengan Edward Said dalam orientalism. Dalam konteks ini, saya kira penting menyinggung respon kelompok-kelompok islamis (fundamentalis) terhadap kemenangan Obama. Seorang kawan saya yang telah berdiskusi dengan salah satu anggota Hizbut Tahrir menyatakan bahwa kemenangan Obama yang disambut dengan kegembiraan dunia tidak memiliki implikasi positif terhadap dunia Islam, kecuali Amerika menggunakan syariat Islam. Sebuah ungkapan dan harapan yang naif bukan?

Papringan, Desember 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s