Lia Eden dan Agama Masa Depan


Syaefudin Simon, mantan pengikut Komunitas Eden

Sastrawan Danarto, sewaktu masih aktif di komunitas Lia Eden, pernah bertanya kepada saya. Seandainya sosok yang mengaku Jibril itu bukan Jibril yang sebenarnya, apa yang akan terjadi pada komunitas Kerajaan Eden? “Bubar. Komunitas Lia Eden tidak ada artinya sama sekali!” jawab saya.

Danarto tampaknya perlu mempertanyakan sosok yang mengaku Jibril yang konon “selalu” menyertai Lia Aminudin dan mendominasi seluruh urusan Kerajaan Eden tersebut. Sosok yang mengaku Jibril inilah yang sesungguhnya menjadi “episentrum” yang mengendalikan jemaah Lia Eden sehingga ketika Jibril memberikan instruksi yang aneh-aneh, seperti menyebarkan surat-surat yang berisi wahyu penghapusan semua agama, anggota Komunitas Eden tak bisa berbuat lain kecuali menaatinya tanpa reserve.

Ketaatan buta terhadap Jibril ini bagi Komunitas Eden adalah sebuah keniscayaan, karena Jibril adalah “tangan kanan” Tuhan dan penyampai wahyu Tuhan kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya . Itulah sebabnya, bila seseorang melanggar perintah Jibril, sama artinya melanggar perintah Tuhan. Bagi para pengikut agama-agama Semit seperti Islam, Kristen, dan Yahudi–meminjam istilah Karen Amstrong–konsekuensi tersebut bisa dimengerti karena Jibril adalah sosok sentral yang menjadi perantara wahyu dan pembimbing para rasul. Tapi sejauh manakah orisinalitas Jibril yang hadir dalam sosok Lia Eden, itulah yang menjadi pertanyaan para pengikut agama-agama Semit di atas.

Dengan latar belakang inilah–di mana Jibril menjadi episentrum Jamaah Lia Eden–kita bisa memahami sepak terjang Komunitas Eden tersebut. Lia Aminudin, seperti diceritakan dalam ceramah-ceramah, risalah-risalah, dan buku-bukunya yang dikirimkan kepada publik, dinyatakan telah dipilih Tuhan untuk memimpin sebuah era baru bahwa umat manusia akan diperintah langsung oleh Jibril melalui sebuah Kerajaan Tuhan (Kingdom of God). Kehadiran Kingdom of God ini, menurut Lia Eden, merupakan penggenapan wahyu Tuhan dalam kitab-kitab sucinya yang pernah dibawa para rasul (Al-quran, Injil, Taurat, Zabur, Veda, Avesta, Tripitaka, Tao The King, Lun Yu, dan kitab-kitab suci yang lain).

Dalam agama Islam maupun Kristen, misalnya, kehadiran Kerajaan Tuhan ini telah lama dibicarakan orang. Dalam Islam, misalnya, ada kepercayaan bahwa kelak di akhir zaman akan muncul Imam Mahdi dan Isa Al-Masih yang akan memerintah umat manusia dengan keadilan yang sempurna. Dalam agama Kristen, kepercayaan seperti itu juga muncul, yakni Yesus akan menjadi raja dalam Kingdom of God yang akan menegakkan keadilan yang sempurna kepada umat manusia.

Membubarkan agama

Menurut “wahyu” yang turun kepada Lia Eden, kekacauan dunia disebabkan oleh konflik-konflik yang muncul dalam umat beragama. Umat beragama dengan keimanan terhadap tuhannya masing-masing telah menyebabkan bumi penuh pertikaian, peperangan, dan ceceran darah. Karena itu, untuk menciptakan perdamaian di dunia, maka faktor penyebab kekacauan itu–yaitu agama–harus dibubarkan. Dalam konteks inilah, mengapa Lia Eden mengirimkan surat-surat yang berisi deklarasi penghapusan agama-agama di dunia. Dalam kaitan ini, agama Islam dituduh sebagai “biang kerok” dari munculnya kekerasan dan terorisme di dunia saat ini. Karena itu, wahyu tentang penghapusan agama pertama-tama ditujukan kepada agama Islam. Setelah itu, agama-agama lain juga harus dihapuskan karena, bagaimanapun, agama adalah faktor pemicu konflik dan kekerasan di tengah kehidupan manusia.

Jamaah Lia Eden sendiri telah lama diperintahkan keluar dari “agama-agama” formal, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan Buddha. Mereka memilih “Bertuhan tanpa agama”. Dengan cara demikian, manusia bisa dipersatukan tanpa hambatan perbedaan label keimanan; tanpa hambatan perbedaan label agama yang sering menimbulkan kekacauan dan peperangan.

Bertuhan tanpa agama sebetulnya sudah lama menjadi fenomena keberagamaan modern. Kaum perenialis–yang juga menjadi klaim diri dari Komunitas Eden–telah lama melakukan pendekatan keagamaan seperti itu. Meski demikian, ada perbedaan yang menonjol antara fenomena perenialisme modern dan perenialisme Komunitas Eden.

Kaum perenialis modern merefleksikan keimanannya terhadap Tuhan (yang tak bernama ) dengan memperbesar cinta kemanusiaan (humanisme), menegakkan demokrasi, dan memperjuangkan tegaknya HAM. Kaum perenialis modern adalah orang-orang yang bekerja keras dengan mengedepankan profesionalisme untuk mempertinggi kualitas hidup manusia. Bagi kaum perenialis modern, bekerja untuk mewujudkan cita-cita (tegaknya humanisme, demokrasi, dan HAM) adalah sebuah keniscayaan dalam membentuk dunia baru yang damai dan sejahtera. Tanpa adanya kemakmuran ekonomi, intelektualitas, dan kedewasaan kultural, perenialisme modern tidak akan berkembang. Dengan demikian, demokrasi dan HAM merupakan tujuan utama gerakan perenialisme. Karena itu, jika pun akan lahir agama baru dari rahim perenialisme modern, agama baru itu niscaya akan mengusung demokrasi dan HAM sebagai basis keimanannya. Lebih jauh lagi, seperti ditulis Neale Donald Walsch dalam bukunya yang inspiratif, Conversation with God, agama baru di masa datang haruslah agama yang mengedepankan prinsip-prinsip keimanan untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Karena itu, basis keimanan agama masa depan adalah kesadaran manusia terhadap pentingnya penegakan demokrasi, HAM, dan perbaikan lingkungan hidup.

Ini berbeda dengan Komunitas Eden. Di satu sisi, mereka memperjuangkan perenialisme–bahkan secara ekstrem mendeklarasikan pembubaran agama demi tegaknya perenialisme–tapi di sisi lain mereka mendeklarasikan kehadiran Kingdom of God, dengan pemimpinnya “Bunda Maharaja Lia Eden” yang setiap kata-katanya harus ditaati tanpa reserve. Dalam Kingdom of God, prinsip-prinsip demokrasi dan HAM justru dienyahkan. Titah Maharaja Lia Eden sebagai “personifikasi Jibril”, yang merupakan “tangan kanan” Tuhan, tak bisa diganggu gugat. Mereka, para pengikut Kingdom of God, hanya tahu satu kata: sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat) apa yang diperintahkan oleh Sang Raja, betapapun perintah itu tidak rasional, tidak demokratis, dan tidak humanis. Itulah anomali perenialisme Komunitas Eden: gagal merespons dan memberikan perspektif agama masa depan. Kegagalan ini terjadi karena perenialisme yang diusung Komunitas Eden melawan arus peradaban manusia saat ini.

Kita tahu, sejarah kemunculan agama-agama baru di dunia selalu memperbaiki kondisi-kondisi agama yang ada sebelumnya dengan fokus memberikan “penghargaan” terhadap manusia yang makin rasional, dewasa, dan mempercayai kedaulatan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, apa yang dilakukan Komunitas Eden? Mereka lebih mempercayai ramalan-ramalan masa depan, menghidupkan kultus, dan puncaknya meyakini kedatangan Sang Mesiah yang mempunyai otoritas tunggal dalam menyelamatkan bumi dan mengatur kehidupan manusia. Dan Sang Mesiah itu, menurut Komunitas Eden, kini sudah hadir dalam sosok Lia Aminudin.

Dari perspektif inilah kita bisa memahami pertanyaan Danarto di atas. Siapakah sosok yang mengaku Jibril itu jika dia bertindak anomalis terhadap perkembangan dan arus peradaban manusia modern? Bukankah kehadiran Jibril pada masa-masa lalu selalu tepat merespons perkembangan zaman dengan menghadirkan agama-agama yang membebaskan manusia dari kejumudan dan kultus individu? Jibril, dalam Kingdom of God, sayangnya, justru datang dengan isu-isu yang sebaliknya: mengenyahkan demokrasi dan menghidupkan kultus. Sebuah isu yang tidak akan laku dalam komunitas manusia modern saat ini. *

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/12/24/Opini/krn.20081224.151888.id.html

6 thoughts on “Lia Eden dan Agama Masa Depan”

  1. apa danarto masih mau berbodoh2 ria ikuti mama eden?
    gue gak heran soalnya si danarto ini memang rada nyeleneh senag yg berbau klenik.
    semoga danarto tetap ikut sama lia aminuddin sampai ke neraka haawiyah. aminn.

  2. Agama memang menjadi biangkeroknya permusuhan umat manusia, dengan meninggalkan Agama serta kembali ke DIENULISLAM dengan Taat pada ALLAHswt dan Rasulullah saw lah manusia bisa slamat minaddunia ilal akhirah, tekun khusyu, Tahhajud qiyamullail, menegakkan Shalat 5 waktu bertasbih, tahlil, tahmid,toleransi pada yang lain ramah tamah, menghargai pendapat oranglain

    1. sama aj namanya situ yang berpikiran individu

      kalo g ad agama y g ada islam,kristen,hindu,budha,dll
      jd kita jd manusia di dunia berpegang satu keyakinan tpi bukan kepercyaan…keyakinan yang lebih ke arah ham dan rasional yng bukan individu

  3. Sbetulnya gampang saja bagi lia eden utk meyakinkan manusia. Buat saja suatu kejadian yg sangat luar biasa untuk menunjukan ke’jibril’annya, Saya, seorang biasa, tanpa mengikuti tarekat trtntu, tnpa melakukan ritual khusus, hanya menjalani ritual islam yg sewajarnya +slalu mengusahakan tahajud +dzikir, dianugrahiNYA ma’unah (anugrah thd orang awam) bisa mengobati orang dg brbagai mcm penyakit kronis hanya dg brdo’a dan memijat bag trtntu dr pasien, alhamdulillah sudah brsilaturahim dg lbih dr 1500 orang. Ke kiyai dibri barokah yg lbh dr ma’unah, wali diberi karomah dan nabi diberi mukjijat. Nah skarang tinggal perlihatkan saja mukjijatNYA, seharusnya lbih dr mukjijat krn dia jibril.
    Sy sendiri gk mrasa aneh lia ngaku jibril, fir’aun aja ngaku tuhan. Yg aneh kalo ada orang yg prcaya dia.

  4. yang menjadi akar permasalahan atas persoalan kemanusian , sebenarnya bukan pada agama itu . Ini lebih pada persepsi individu maupun kelompok atas apa yang terjadi . Konflik , pembunuhan,perang,ataupun yang menimbulkan disharmoni dalam kehidupan lebih pada aspek subyek pelaku ajaran agama. Kalau agama sebagai sebuah risalah yang diyakini dapat menghantarkan kehidupan yang baik kemudian dijalankannya tepat / mutlak sesuai dengan perintahnya sudah pasti disini tidak ada distorsi antara ajaran dengan perilaku dalam pengamalnya.Nah kenapa timbul ajaran – ajaran baru yang mencoba mengkritisi ketidakharmonisan di dunia dengan segala aspek kehidupannya itu tidak lain karena menyamakan antara agama dengan perilaku penganut agama, jadi tidak heran ada stigma negatif dan cenderung menstempel jika misalnya teroris itu islam. Perilaku beragama yang merupakan penafsiran atasan ajaran agama yang kadang menimbulkan konfilk, terlebih kalau sudah terlembaga dalam organinisasi, maupun pemerintahan dan negara. Kemudian bila ada pengikut suatu ajaran yang merasa menemukan apa yang dicari dalam perjalanan kehidupannya itu hal yang wajar, tentunya manusia sebagai individu mempunyai track record dengan segala permasalahannya yang dihadapinya.Ketika dalam perjalan menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman ,damai, menyenangkan saya kira itu hal yang wajar. Namun dalam kontek ajaran baru dan itu bersinggungan dengan ajaran lain yang sudah ada, singgungan singgungan yang tidak bersesuain sudah pasti akan diuji apakah ajaran baru tersebut mampu membuktikan bahwa ajaran baru tersebut benar benar dalam kebenaran yang hak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s