Obama Bukan Segalanya….!


Menyimak pidato pertama presiden terpilih AS ke 44, Barrack Obama, pada acaa pelantikan membuat banyak orang kecewa. Pokok soal yang menjadi kekecewaan adalah absennya persoalan Gaza dari materi ceramah Obama. Karena itu, sebagian orang pesimis terhadap kepemimpinan Obama. Tak kan ada perubahan sebagaimana yang dijanjikan, demikian komentar sebagian kalangan. Memang, pidato Obama pada pelantikan tersebut tak sebaik pidatonya pada acara kemenangannya dengan McCain.

Kekecewaan sebagian kalangan itu wajar dengan besarnya harapan masyarakat dunia terhadap kepemimpinan Obama. Sejauh ini, masih banyak orang yang menaruh optimisme kepada Obama. Keinginan untuk menciptakan hubungan lebih baik dengan dunia Muslim adalah point yang cukup tepat akan hal tersebut. Rencana menutup penjara Guantanamo, menarik pasukan di Irak dan memperbaiki ekonomi AS dianggap sebagai langkah-langkah dari perubahan yang dijanjikan Obama tersebut.

Saya percaya bahwa kepemimpinan Obama akan berbeda dengan Bush. Tidak banyaknya “kotoran” pengalaman masa lalu bisa positif juga negatif. Performance Obama sejauh ini menjadi sihir yang sangat ampuh bagi masyarakat dunia. Ini akan menjadi modal yang cukup baik untuk merealisasikan keinginannya, perubahan. Langkah-langkah strategis harus segera diambil sebelum aura dan kharisma Obama meredum jika dibelakang hari tindakannya tak berbanding dengan janjinya.

Pesimis dan optimis terhadap Obama adalah wajar. Tak perlu berlebihan. Karena Obama bukan segalanya bagi dunia. Amerika Serikat bukan satu-satunya kekuatan di dunia. Obama juga tidak sendirian di Gedung putih. Ada banyak kepala yang akan turut membentuk kebijakan Amerika, walaupun mesti diakui bahwa Obama memiliki karakteristik kepemimpinan yang kuat dengan dukungan yang cukup kuat di Amerika.

Karena itu, bersikap wajar (moderat, tawassuth) terhadap kepemimpinan Obama menjadi pilihan yang tepat. Tak terlalu pesimis, juga tak begitu optimis. Dengan cara ini, maka langkah dan kebijakan Obama yang baik untuk perubahan dunia perlu didukung. Sebaliknya kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika yang diskriminatif harus ditolak. Sekarang, lihat dan saksikan perkembangan dunia berikutnya. Tapi bukan berdiam diri. Harapan yang begitu besar terhadap Obama seringkali mencelakakan diri kita sendiri. Seakan-akan perubahan akan datang dan muncul dari pihak luar, entah bernama Obama atupun yang lain. Padahal, perubahan datang dari diri sendiri. Karena itu, apapun rencana perubahan yang dicanangkan oleh Obama, atau oleh siapapun, tak akan bermakna apap jika diri kita tak mampu memperbaharui diri. Begitu juga dengan pemerintah Indonesia. Untuk memperbaiki persoalan Indonesia, kebijakan Obama tidak akan bisa menyelesaikannya. Jadi, kita perlu menyelesaikan pekerjaan rumah kita masing-masing, tanpa tergantung pada harapan-harapan yang belum pasti. Benarkah langkah ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s