Menyoal Fatwa Golput MUI


Usulan sejumlah politisi, termasuk Hidayat Nur Wahid, untuk memfatwakan golput yang semula sebagai respon atas sikap dan seruan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), akhirnya direspon oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI telah mengeluarkan fatwa haram bagi golongan putih, sehingga umat Islam tidak punya pilihan lain keculi mencoblos partai politik, calon legislatif dan presiden pada pemilu nanti.

Dalam Islam, pengambilan sebuah keputusan halal-haram bukanlah perkara yang remeh. Secara normatif, melakukan sesuatu yang telah diharamkan akan mendapatkan dosa sebagaimana juga meninggalkan kewajiban. Jika dibaca dari logika ini, maka umat Islam yang tak mencoblos pada pemilu nanti akan mendapatkan dosa, sehingga, secara normatif, akan mendapat siksa. Karena itulah, keputusan untuk memvonis fatwa haram terhadap fenomena politik seperti Golput harus diambil dengan penuh keseriusan dan kehati-hatian.

Dalam al-Qur’an-Hadist tidak ada ketentuan bagi umat Islam untuk mencoblos dalam pemilu. Fatwa MUI ini didasarkan pada hasil ijtihad dengan menggali sumber hukum (al-istinbath al-ahkam) dalam nalar Ushul dan kaidah-kaidah fiqh. Karena itulah, kualitas keharaman yang dikeluarkan oleh fatwa MUI tidaklah sekuat haramnya memakan babi. Begitu juga, kewajiban mengikuti fatwa ulama tidak seperti wajibnya melakukan shalat, puasa, zakat dan haji.

Sebagai hasil ijtihad terhadap fenomena politik, fatwa haram golput ini tak lebih dari sekedar seruan moral yang tak memiliki kekuatan untuk menjatuhkan sanksi bagi yang melanggarnya. Bahkan, fatwa haram golput ini sebagai upaya untuk terlahirnya kepemimpinan yang legitimate dan kuat. Karena memilih pemimpin dan mengikutinya kendatipun pemimpin yang non-Muslim adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam.
Upaya untuk melahirkan pemimpin yang legitimate memang tidak bisa hanya ditemppuh dengan jalur fatwa haram golput. Pemilu di AS yang dimenangkan oleh Obama walaupun tidak ada fatwa dari ulama Islam, Kristen ataupun agama lain di AS untuk berpartisipasi pada pemilu. Akan tetapi, sistem politik dan kharisma Obama-lah yang mampu menyedot suara yang sedemikian besar. Jika saja calon-calon legislatif dan presiden mampu menyihir rakyat Indonesia sehingga setiap orang merasa penting untuk berpartisipasi dalam pemilu, maka hal ini jauh lebih efektif dibanding dengan fatwa MUI.

Karena itulah, jika tujuan dari fatwa haram golput ini untuk melahirkan pemimpin yang legitimate maka hal yang mesti ditempuh adalah memperbaiki sistem politik dan munculnya kepemimpinan yang baik, kharismatik. Sejauh ini, politik yang berkembang masih menempatkan rakyat Indonesia sebagai objek politik yang selalu diingat menjelang pemilu dan dilupakan ketika pesta demokrasi itu usai. Tidak semua rakyat merasakan kehadiran seorang presiden atau merasa terwakili di gedung parlemen. Akibatnya, suara yang diberikan pada pemilu nanti hilang ditelan angin.

Maka, sebagai seruan moral, fatwa haram golput ini tidaklah mengikat (ghair mulzim). Ketika seseorang tidak memberikan suaranya pada pemilu nanti bukan berarti ia mendapatkan dosa dari Allah. Sebab, Islam sangat terbuka akan adanya ijtihad-ijtihad, bukan saja ijtihad kolektif tapi juga ijtihad personal. Bisa saja, seseorang melakukan ijtihad seperti yang dilakukan oleh MUI dan memutuskan untuk tidak mencoblos pada pemilu nanti dengan alasan-alasan yang spesifik dan personal. Ijtihad personal inipun absah walaupun tak bisa menganulir fatwa MUI (al-ijtihad la yunqadu bi al-ijtihad). Sehingga, jika hasil ijtihad setiap orang atau kelompok berbeda-beda, maka seseorang dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti salah satunya.

Anjuran untuk melakukan ijtihad dalam Islam sedemikian besar. Bahkan, dalam tradisi Islam disebutkan bahwa ketika hasil ijtihad seseorang salah, ia pun masih mendapatkan satu pahala dari proses ijtihad tersebut. Seperti halnya fatwa terhadap rokok. Walaupun MUI telah mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok dengan sejumlah catatan, saya masih yakin sejumlah kiai, bahkan sebagian ketua dan anggota MUI, masih sangat sulit untuk berhenti merokok. Mereka pun memiliki alasan-alasan yang kuat dan absah untuk tidak mengikuti fatwa rokok MUI.
Memosisikan Fatwa dan Ijtihad

Lazimnya, fatwa lahir dari sebuah ijtihad atas sebuah fenomena tertentu di masyarakat. Ia tak lebih dari sebuah opini, yang setiap orang bisa melakukannya. Hanya saja, banyak kalangan yang memahami bahwa era ijtihad, khususnya personal, sudah ditutup semenjak meninggalnya para imam madzhab; Malik, Hanafi, Syafi’I, Hambali. Pasca era imam madzhab, para ulama memberikan standar-standar yang sangat rumit dan tak memungkinkan untuk melakukan ijtihad. Padahal, Islam menempatkan posisi yang sangat istimewa terhadap ijtihad sebagai bentuk dari kebebasan berpikir.

Tentu, ijtihad disini sebagaimana makna generiknya “bersungguh-sungguh” tidak sekedar berpikir sederhana, melainkan berpikir secara mendalam dan jernih tentang suatu pokok soal tertentu. Apalagi ketika menyangkut jamak orang, hidup bermasyarakat dan bernegara, maka fatwa perlu kehati-hatian dan kedalaman dalam memahami duduk perkara.

Sebagai sebuah opini, fatwa atau hasil ijtihad tak semestinya bertentangan dengan nilai-nilai universal dan Hak Asasi Manusia. Dalam masyarakat demokratis, setipa warga negara memiliki hak untuk tidak memberikan suaranya. Sebab, memilih atau tidak memilih adalah hak setiap warga yang mesti dihargai. Ini penting, sebab jika sebuah fatwa bertentangan dengan nilai-nilai universal dan HAM maka fatwa tersebut harus segera ditinjau kembali. Sejumlah ulama seperti Ahmad Ibn Hambal menyatakan bahwa jika sebuah fatwa diduga keras akan memunculkan keresahan, kerusuhan dan konflik maka fatwa tersebut harus ditinjauh kembali.

Karena itulah, jika fatwa MUI ini dianggap sebagai keputusan yang mesti diikuti maka bukan hal mustahil akan terjadi keresahan dan pemaksaan kehendak pada pemilu nanti. Dengan berlandasrkan fatwa MUI, seseorang merasa terpaksa dan dipaksa untuk memilih, sebuah sikap yang bertentangan dengan HAM dan demokrasi.

Al-hasil, menempatkan fatwa secara proporsional yakni sebagai opini, baik individu atau kolektif, yang tak mengikat harus menjadi pilihan yang tepat. Sebagaimana terhadap imam madzhab, umat Islam bebas untuk mengikuti Syafi’I, Hanafi, Hambali ataupun Imam Malik. Organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU)-pun mengakui keempat-empatnya dan bisa diikuti oleh setiap pengikut NU (nadhiyin). Yang terpenting adalah bahwa seseorang mengikuti sebuah fatwa tidaklah taklid, mengikuti tanpa mengerti alasan dan tujuannya. Disinilah, reputasi fatwa MUI akan diuji berhadap-hadapan dengan rasionalitas dan hasil ijtihad setiap warga negara. Jika seseorang memiliki alasan-alasan yang kuat untuk mengambil jalan lain dari fatwa MUI, disamping absah juga akan mengurangi acceptability dan legitimasi fatwa MUI. Jika nanti angka golput tetap besar berarti fatwa MUI tak memiliki taring lagi dimata masyarakat. Apa arti sebuah fatwa jika tidak menjadi dasar pendirian seseorang?

4 thoughts on “Menyoal Fatwa Golput MUI”

  1. Andaikan sebagian rakyat indonesia tidak memilih alias golput, pemilu akan tetap jalan. Berarti cuma ada separuh rakyat indonesia yang memilih. Lha klo separuh pemilih itu adalah golongan pemilih yg buruk atau memilih krn dibayar calegnya atau alasan buruk lainnya..berarti kelak PEMIMPIN yang terpilih di indonesia adalah pemimpin buruk rupa.

    Sodara2 kita dari salafi, hizbutahrir dan tak ketinggalan gusdur jauh2 hari menyatakan golput.Bagaimana umat islam mendapat pemimpin yg dpt memperjuangkan nasib umatnya bila umat islam sendiri golput dan malah saling cakar2an dan adu dalil antar sesama umatnya.

    Keresahan ini ditangkap MUI sebagai wadah para ulama.Para ulama lebih berfikir rasional global dan tidak berfikir parsial/ memikirkan diri sendiri. Namun masih banyak teman2 kita masih sering menertawakan ulamanya sendiri.

    Saya bukan caleg atau sodara saya caleg, tapi mari kita berpikir kedepan. Coba teliti lagi dari 11.800 caleg, tidak adakah yang baik atau minimal keburukannya sedikit ketimbang kebaikannya. Pilihlah yang amanah, jujur,aktif aspiratif dll.

    trimakasih, baca ulasan saya di di blog saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s