Muslim-AS di Era Obama


Pidato pertama presiden Amerika Serikat, Barrack Obama pada 20 Januari 2009 telah menjawab harapan dan ekspektasi masyarakat dunia perihal “perubahan” yang dijanjikannya. Tidak sedikit yang kecewa terhadap pidato presiden AS berkulit hitam pertama ini, terutama menyangkut fenomena mutakhir di Jalur Gaza. Absennya respon Obama terhadap krisis kemanusiaan di Gaza menjadi jantung kekecewaan masyarakat muslim di dunia, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Harapan yang begitu besar terhadap Obama secara perlahan mulai surut.

Dalam pidato pertamanya, Obama tak berbicara secara kongkret langkah-langkah yang mesti ditempuh dalam menghadapi problem-problem global ataupun internal Amerika Serikat. Selain hendak menarik pasukan militer dari Irak, menambah pasukan di Afganistan, isi pidato Obama hanya merespon persoalan dalam negeri Amerika Serikat sendiri. Sebagai presiden kulit hitam pertama, Obama lebih banyak menekankan loyalitas, persatuan, multi entik dan agama. Ini mungkin dirasa penting untuk mempertahankan popularitas Obama karena jumlah rakyat kulit hitam adalah minoritas.

Hal lain yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh terkait dengan hubungan Amerika dengan negara-negara luar, khususnya dunia Islam, adalah pernyataan Obama bahwa AS akan bersahabat dengan semua bangsa dan membangun hubungan lebih baik dengan dunia Muslim. Sayangnya, Obama tidak secara spesifik menyinggung bagaimana kebijakan luar negeri AS terhadap persoalan Israel-Palestina. Apakah ia akan mengikuti jejak presiden sebelumnya dengan memberikan dukungan penuh terhadap Israel ataukah akan melakukan terobosan baru untuk menciptakan perdamaian. Menjawab pertanyaan ini tak perlu keburu-buru, tunggu dan saksikan saja bagaimana langkah berikutnya. Yang hendak penulis diskusikan secara khusus dalam tulisan ini adalah hubungan AS dan dunia Islam.

AS Vs Muslim

Tak bisa dipungkiri, baik AS ataupun dunia Muslim sama-sama menaruh kecurigaan satu sama lain. Bagi masyarakat AS, muslim seringkali diidentikkan dengan kekerasan, terorisme, fundamentalisme dan keterbelakangan. Pandangan terhadap dunia muslim ini telah berurat akar sejak meletusnya revolusi Iran (Fawas A Gerges, 1999) Pandangan yang demikian inferior terhadap muslim ini tidak lepas dari kajian-kajian orientalis. Sebaliknya, bagi masyarakat muslim, Amerika merupakan simbol kekacauan, amoralitas. Sikap anti Amerika ini lebih banyak dibentuk oleh persepsi popular yang dominant, yakni kedigdayaan (dignity), kemenduaan (double standard) dan pemaksaan demokrasi. Hasil riset PPIM UIN Jakarta (Benturan Peradaban, 2005) tahun 2005 menyebutkan bahwa AS adalah negara yang paling memusuhi Islam (54, 9%) dan paling tidak disukai oleh umat Islam (21 %) kemudian disusul oleh Israel (7%).

Sikap saling curiga antara AS dan muslim ini diperkuat oleh Samuel P. Huntington melalui proyek clash of civilization-nya. Baginya, dimasa-masa mendatang, Amerika dan Muslim-lah yang akan berbenturan dari delapan peradaban yang disebutnya. Walaupun mengandung banyak kelemahan, tesis Huntington tersebut tampaknya semakin mendekati kenyataan, terutama pada saat dan setelah agresi Israel ke Gaza. Amerika diklaim sebagai negara yang terlibat bersama-sama Israel dalam penyerangan ke Gaza.

Tak hanya itu, absennya persoalan Gaza pada pidato pelantikan Obama diyakini sebagai bentuk dukungan terhadap Israel, atau sekurang-kurangnya ketidakpedulian AS kepada krisis di Gaza. Masyarakat dunia-pun kecewa, sehingga Obama menelpon langsung presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert. Sejauh ini, kecurigaan antara Muslim dan AS tidak mengalami perbaikan yang signifikan, kendati kharisma presiden Obama cukup menyihir masyarakat dunia.

Namun demikian, sebagaimana yang telah disampaikan pada pidato pelantikan, kepemimpinan Obama akan melakukan terobosan baru untuk membuka jalan baru dengan dunia Muslim berdasarkan mutual interest dan mutual respect. Pertanyannya, muslim seperti apakah yang hendak di dekati oleh Obama? Apakah muslim seperti Hamas, Hizbullah, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam (FPI) yang anti Amerika itu juga akan di rangkul oleh Obama? Ataukah seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang moderat yang akan menjadi partner strategis bagi Amerika?

“Muslim Amerika”

Dalam hemat penulis, tidak semua dunia Muslim akan didekati oleh Obama sebagaimana janjinya pada pidato pelantikannya sebagai presiden ke-44 AS, melainkan beberapa kelompok muslim yang dinilai strategis dan bersinergi dengan nilai-nilai universal Amerika. Tidak semua nilai-nilai AS bertentangan dengan nilai-nilai universal Islam. Disini, ada beberapa point titik temu antara nilai-nilai AS dengan Islam. Ini penting disamping untuk memprediksi kelompok muslim yang akan dirangkul oleh Obama, juga untuk meminimalisasi apa yang disebut Huntington dengan clash of civilization.

Salah satu proyek AS yang tak kunjung usai sejak revolusi Iran, terutama pasca tragedy 11 september, adalah perang terhadap terorisme. Adalah sejumlah kelompok muslim yang tertuduh sebagai teroris seperti al-Qaida, Jama’ah Islamiyah, dsb. Disini, AS percaya bahwa terorisme lebih banyak diwarnai oleh unsur agama ketimbangan faktor-faktor lain. Cara pandangan AS terhadap terorisme ini tidak lepas dari ketakutan terhadap kekuatan Islam sebagaimana yang telah ditunjukkan pada saat revolusi Iran.

Sesungguhnya, kemunculan terorisme tidaklah berlatar belakang tunggal. Salah satu faktornya adalah agama. Tak jarang gerakan fundamentalisme yang melakukan pembacaan literal terhadap teks agama berujung pada gerakan terorisme. Karen Armstrong (2001; xi) menggambarkan fundamentalis sebagai berikut: fundamentalists have gunned down worshippers in a mosque, have killed doctors and nurses who work in abortion clinics, have shot their presidents, and have even toppled a powerful government. Perlu juga dicatat bahwa fundamentalisme tak hanya bercokol pada satu agama, tetapi juga diseluruh agama-agama. Pernyataan Armstrong tersebut menyiratkan bahwa fundamentalisme sangat terkait dengan terorisme.

Karena itulah, keinginan Obama untuk merangkul dunia Islam hanya akan terbatas kepada kelompok-kelompok Muslim yang anti terorisme. Mencari model keberislam yang anti terorisme sebenarnya tidaklah sulit, terlebih jika membuka lembaran-lembaran kitab suci yang berisi tentang ajaran-ajaran perdamaian. Akan tetapi, jika mengikuti perkembangan gerakan Islam di dunia pada saat dan pasca agresi militer Israel ke Gaza, akan didapati bahwa nyaris seluruh kelompok Islam bersimpati dan bersolidaritas dengan korban di Gaza. Dengan kata lain, sikap keras kepala Israel telah membuat kelompok-kelompok Muslim yang sebelumnya lebih bersahabat dengan Israel secara perlahan mulai mengecamnya.

Disini, jika pemerintah AS lebih mengedepankan dan mengutamakan sekutunya, Israel, maka mencari kelompok Muslim yang pro terhadap Israel akan sulit di dapati. Memang, kutukan kelompok Muslim terhadap krisis kemanusiaan di Gaza tidak serta merta didasari pada solidaritas agama (Islam), tetapi juga lebih banyak didasarkan kepada aspek kemanusiaan. Bahkan sejumlah kelompok Kristen dan Yahudipun anti terhadap agresi Israel. Dalam konteks inilah, Hamas telah berhasil menarik simpati dunia, melintasi batas geografis dan agama.
Maka, keinginan untuk merangkul kelompok Muslim sembari mengutamakan Israel akan sulit dilakukan, kecuali Obama melakukan dua hal sekaligus. Pertama, karena mengutuk Israel tak memungkinkan bagi politik luar negeri AS, maka memberikan tekanan terhadap Israel untuk mengedepankan jalur-jalur diplomasi dalam menyelesaikan kasus di Gaza adalah hal yang harus diagendakan oleh Obama. Cara ini disamping untuk memperbaiki citra AS di dunia Muslim juga untuk menghadirkan perubahan yang dijanjikannya sewaktu kampanye.

Kedua, memberikan tafsir baru terhadap Muslim. AS atau Obama tak perlu terlampau khawatir terhadap kelompok-kelompok Muslim, karena tak semua kelompok Muslim mengajarkan terorisme. Cara ini dirasa penting untuk mensejajarkan dunia Muslim dengan AS, sehingga tercipta dialog peradaban, bukan clash.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s