Maulid dan Transformasi Sosial


Harian Jogja, 9 Maret 2009

Sebelum Islam datang, penduduk Arab (Mekah) disana kebanyakan adalah para mulhidin (penyekutu Allah). Sementara, konstruk sosialnya penuh dengan ketimpangan, ketidakadilan dan kesenjangan. Perang antar kabilah (suku/kelompok) seringkali terjadi. Kehidupan dibawah gurun pasir tidak menemukan titik terang sama sekali. Disana, perampokan, pencurian, penjarahan adalah salah satu tradisi yang melekat.

Ditengah situasi kacau balau seperti itulah lahir Muhammad kedunia dari keluarga yang sangat sederhana, di Kota Mekah. Seorang bayi yang kelak akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu yatim, bapaknya yang bernama Abdullah meninggal kira-kira tujuh bulan sebelum ia lahir. Kehadiran bayi itu tidaklah disambut oleh ayahnya. Kemudian, bayi itu dibawa ke Ka’bah dan disanalah diberi nama Muhammad. Kelahiran Muhammad (Maulidun nabiy) diperingati setiap tahun oleh kalangan muslim Indonesia. Muhammad lahir tanggal 12 Robiul Awal. Tak lama kemudian, ibu Muhammad, siti Aminah, meninggal setelah Muhammad berumur enam tahun.

Dus, yang memelihara Muhammad adalah kakeknya, Abdul Muthallib dengan penuh kasih sayang. Setelah dirawat sekitar dua tahun, kakeknya meninggal dan yang merawat setelahnya adalah pamannya, Abu Thalib. Karena memburuknya kondisi ekonomi Abu Thalib, memaksa Muhammad bekerja kasar dengan tekun sejak dini. Beliau mulai berbisnis dengan pamannya dan semakin luas dagangannya ketika mengenal saudagar kaya yang kelak menjadi istri beliau, Siti Khadijah.

Penderitaan-penderitaan yang dialami sejak kecil membuat dia peka terhadap segala penderitaan manusia. Beliau dengan sangat lembut menolong orang lain, khususnya kaum miskin (al-masakin) dan kaum lemah (al-mustadh’afiyn). Budi pekerti yang baik yang tertanam sejak dini ini membuat beliau mendapat julukan “Yang Jujur”, “Yang Mulia” dan masih banyak sebutan lain terhadap beliau. Begitulah cerita pendek tentang kehidupan Muhammad sejak kecil.

Makna Maulid

Maulid secara generik bermakna kelahiran seorang manusia yang bernama Muhammad di Arab pada abad ke-6 M. Jika demikian, Maulid merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak memiliki nilai lebih. Sekalipun ia sering diperingati oleh umat Islam, namun tak lebih dari pesta, festival, kemegahan dan kemerihaan. Maulid menjadi semacam ritual yang tidak memiliki pesan dan makna apa-apa. Ia ibaratnya sebuah pesta ulang tahun yang dirayakan setiap tahun. Tak ada makna yang cukup signifikan.

Akan tetapi, jika kita teliti lebih mendalam, sebenarnya ada sejuta makna yang terkandung dalam peristiwa ini. Yakni merefleksikan kembali kehidupan Muhammad, tingakh laku beliau, sumbangan-sumbangan beliau pada dunia, perubahan serta perjuangannya yang selalu setia digaris perjuangan rakyat. Dunia tidak akan seperti yang kita alami sekarang tanpa ada kelahiran seorang Muhammad.

Jika mengikuti cerita pendek diatas, hikmah yang dapat diambil dari cerita diatas adalah-salah satunya–tabah dan sabarnya menahan segala cobaan. Meskipun ia hidup yatim, namun sikapnya selalu menjadi contoh dan suri tauladan (uswatun hasanah). Bahkan kejujuran yang dimilikinya membuat beliau sukses dalam bisnis. Ini barangkali yang membedakan dengan masa sekarang. Pada masa sekarang, untuk meraup hasil atau laba yang banyak, mereka harus mempromosikan dengan menggombal dan berbohong kepada konsumen. Muhammad justru karena kejujurannya mampu menarik konsumen sebanyak mungkin.

Selain itu, Muhammad adalah orang yang tekun dan kreatif. Meskipun yatim, namun beliau cukup kreatif, produktif. Dengan penuh semangat dan tanpa mengenal lelah, beliau membantu pamannya mencari penghidupan. Semangat hidup mandiri mulai muncul sejak kecil.

Arti Sosiologis

Muhammad datang tidak lain untuk melakukan perubahan-perubahan yang sangat mendasar, membangun peradaban dunia yang berkeadilan, berperikemanusiaan. Nabi bersabda bahwa dirinya diutus untuk memperbaiki akhlak. Dengan berpegang pada firman Tuhan (Al-Qur’an), beliau memberantas dekadensi teologi, sosial dan moral. Secara teologis, beliau mengajak adanya peralihan dari kondisi kemusyrikan menuju ketahudian (monoteisme). La ilaha illa allah. Artinya, bahwa seluruh proyek sesembahan dan semua sasaran kultus adalah Tuhan serta Allah-lah satu-satunya dzat yang berhak menyandang predikat Tuhan. Sehingga tidak ada ketertundukan kepada selain Allah.

Sementara itu, secara sosiologis, Muhammad berupaya dengan keras dan tegas untuk menghancurkan sistem sosial yang serba reaksioner, eksploitatif, diskriminatif, feodalisme-kapitalistik, monopolistik. Beliau juga memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban diantara seluruh masyarakat. Tradisi peperangan, permusuhan dirubahnya dengan tradisi saling menghormati, saling percaya, perdamaian, keadilan.
Lebih lanjut, Al-Qur’an menjelaskan kepribadiaan Muhammad. Allah berfirman “benar-benar telah datang kepada kalian seorang utusan dari kalangan kalian sendiri yang berat terasa olehnya (tak tahan ia melihat) penderitaan kalian; sangat menginginkan (keselamatan dan kebahagiaan) bagi kalian; dan terhadap orang-orang yang beriman, penuh kasih lagi penyayang” (QS. 9 : 128). Karena itulah, Siti Aisyah ketika ditanya tentang suaminya, nabi Muhammad, ia menjawab “kaana khuluquhu Al-Qur’an” (pekertinya adalah Al-Qur’an)

Karena itulah, orang yang memperingat Maulid bukanlah orang berdiam diri melihat penidasan, kemiskinan, ketidakadilan. Akan tetapi, mereka yang berubah dengan meningkatkan solidaritas sosial dan selanjutnya mampu memberi dan mentrasnformasikannya kepada masyarakat secara luas. Maulid tidak harus dirayakan dengan pesta, kemegahan yang kering akan makna dan refleksi akan diri Muhammad. Muhammad justru tidak suka dengan kemegahan, kemeriahan sementara disekelilingnya masih bergelimpangan rakyat miskin kelaparan. Tidakkah lebih baik biaya perayaan pesta Maulid diberikan pada kaum miskin yang tertindas, terisolasi oleh lingkungannya.

Jika makna Maulid dihayati dengan sungguh-sungguh, maka bangsa ini akan terbebas dari segala bentuk kemiskinan, eksploitasi dan kesenjangan sosial. Maulid akan memiliki makna ketika diiringi dengan niat dan upaya transformasi sosial kearah yang lebih baik, humanis, berkeadilan, persamaan. Semoga kita termasuk orang yang ber-Maulid. Amin. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s