Annual Report 2010: Religion, Freedom and State


Pada hari Senin, 1 Februari 2010 yang lalu, CRCS mengadakan diskusi dan peluncuran Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2009 . Acara ini menghadirkan K.H. Salahuddin Wahid (Pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang), Ifdal Kasim (Ketua KOMNAS HAM) dan AAGN Ari Dwipayana (Dosen FISIPOL UGM), untuk membahas laporan tahunan tersebut.

Acara yang dimulai pada pukul 8.30 ini dimoderatori oleh Mustaghfiroh Rahayu, dan dihadiri lebih dari 100 orang peserta. Setiap orang yang hadir dalam kesempatan kali ini langsung mendapatkan laporan tahunan versi cetak yang dibagikan secara gratis. Laporan yang dibagikan secara gratis ini melibatkan dosen, staff dan mahasiswa CRCS dalam proses penulisannya. Mereka mencatat dan menganalisis peristiwa-peristiwa satu tahun di seputar kehidupan beragama di Indonesia.

Pada kesempatan awal, Zainal A. Bagir dan Suhadi Cholil selaku perwakilan dari tim penulis dan CRCS memberikan penjelasan mengenai laporan ini. Menurut Zainal, laporan ini dikeluarkan berdekatan dengan 10 tahun CRCS. “Laporan ini merupakan pula salah satu jawaban CRCS terhadap pertanyaan mengenai sikap CRCS dalam menghadapi persoalan keagamaan di Indonesia. Perspektif yang diajukan adalah pluralisme sivik,” jelas Zainal. Zainal melihat bahwa paradigma agama resmi dan tidak resmi masih digunakan di Indonesia, dan terdapat pula beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan dalam kuantitas pemeluk agama yang ada. Migrasi, dinamika sosial, tingkat kelahiran yang berbeda, dan perpindahan agama menjadi beberapa faktornya.

Melanjutkan penjelasan Zainal, Suhadi membicarakan wacana penyesatan yang menjadi bola liar keberagaman umat beragama di Indonesia. Selain itu, dari data yang didapatkan ada minimal 18 kasus perusakan rumah ibadah pada tahun 2009. Contohnya, kasus pembakaran gereja di Temanggung, pembongkaran ancaman bom dan pembongkaran mesjid Ahmadyah. Menurut Suhadi “sebagian besar pemerintah daerah tidak menanggapi dengan serius persoalan ini. Perlu ditinjau kembali kebijakan publik dan keseriusan dalam menghadapi persoalan kehidupan keberagaman. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sejauh ini juga belum mempunyai aksi sangat baik dalam eksistensinya untuk kehidupan beragama.”

Pada sesi pembahasan, Ifdal Kasim (Ketua KOMNAS HAM) memberikan apresiasi terhadap laporan tahunan CRCS. Menurut Iqbal, laporan ini melengkapi laporan-laporan sejenis yang dibuat oleh lembaga-lembaga lain dengan penekanan berbeda. “CRCS memberikan perspektif pluralisme sivik, ini yang paling penting dari laporan ini,” jelas Ifdal.

Ifdal juga melihat bahwa dari sudut HAM, kebebasan beragama atau hak atas kebebasan beragama, kepercayaan dan pikiran adalah hak yang bersifat hak yang tidak dapat dicabut atau dikurangi dalam situasi apapun. Implikasinya adalah bagaimana tanggung jawab negara dalam memenuhi hak atas kebebasan beragama ini. Di sisi lain, Ifdal melihat bahwa kita juga menghadapi persoalan-persoalan yang juga mendapatkan legitimasi dari hukum. “Apa yang harus kita lakukan? Rekomendasi-rekomendasi di laporan ini sangat penting untuk mencapai pluralisme sivik” ungkap Ifdal.

Seperti halnya Ifdal, Ari Dwipayana juga memberikan apresiasi terhadap CRCS. Menurutnya ”kalau laporan tahunan kebebasan beragama menjadi lebih mudah, tetapi kalau laporan kehidupan beragama akan menjadi tugas yang lebih sulit lagi karena harus melihat setiap aspek kehidupan beragama. CRCS memberikan perspektif alternatif, yakni pluralisme sivik,” tegas Ari. Meskipun demikian, Ari juga melihat bahwa CRCS ditantangan untuk memperjelas apa yang dimaksud CRCS sebagai pluralisme sivik. “CRCS perlu untuk memperjelas posisinya di tengah perdebatan mengenai pluralisme yang ada,” tambah Ari.

Diakhir sesi pembahasan ini Solahudin Wahid menegaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu dikaji terkait dengan laporan ini. Pertama, peraturan atau UUD yang belum tentu dipahami oleh masyarakat bahkan aparat negara. Kedua, pengakuan masyarakat terhadap peraturan yang ada. Ketiga, kerancuan antara hukum negara dan agama. “Kalau dibiarkan saja, maka akan ditiru oleh orang lain. Di sini negara juga tidak efektif, belum bisa melindungi negaranya dengan baik” tegas laki-laki yang kerap disapa Gus Solah ini.

Gus Solah menambahkan juga bahwa “kebebasan disaat yang tidak tepat akan membuat keadaan bertambah lebih buruk. Apabila gereja-gereja juga dibebaskan untuk berdiri sebanyak-banyaknya, akan ada peluang keadaan yang semakin buruk, yakni semakin banyaknya penyerbuan dari komunitas Muslim.”

Acara ini ditutup dengan tanggapan dan tanya-jawab bersama para peserta yang hadir. Antusiasme peserta dapat dibaca dari berbagai tanggapan dan pertanyaan yang diberikan, bahkan ada salah satu dari peserta yang memberikan laporan sejenis yang ia miliki. Acara ini ditutup pada pukul 12.30 WIB.

Bagi Anda yang berminat untuk memiliki Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia Tahun 2009, silahkan unduh di sini . Untuk Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia Tahun 2008 dapat diunduh di sini . (Sumber: http://crcs.ugm.ac.id/news.php?news_id=247)

(JMI)

One thought on “Annual Report 2010: Religion, Freedom and State”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s