Apa itu Menulis?


“Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah
“Menulis adalah permainan dalam bahasa”

Nietzsche

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan dari teman “bagaimana cara menulis artikel?, Bagaimana agar tulisan kita bisa dimuat di media massa? Bagaimana cara memulai tulisan?” serta beragam pertanyaan lainnya. Tak cuma itu, sebagian yang lain dengan mudah mengajukan permintaan “ajarin saya menulis dong”? Pertanyaan dan permintaan itu sudah kerap saya terima baik dari teman-teman terdekat, mahasiswa atau bahkan orang-orang yang lebih senior dari saya.

Terhadap pertanyaan dan permintaan itu saya menjadi bertanya-tanya: bukankah sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi setiap orang sudah diajari tentang menulis? Jika ia mahasiswa, bukankah disetiap perkuliahan terdapat tugas membuat makalah? Atau yang lebih sederhana, bukankah setiap hari ia bisa menulis SMS, status facebook / tweeter, atau bahkan surat cinta dan catatan harian? Apa arti pelajaran Bahasa Indonesia yang didapatkan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi jika tak mampu membuat anak didiknya bisa menulis? Apa kegiatan menulis makalah, SMS, status facebook / tweeter ataupun surat cinta tidak dikategorikan menulis sehingga muncul pertanyaan dan permintaan tersebut.

Tapi mengapa masih muncul pertanyaan dan permintaan tersebut—tentunya tidak hanya kepada saya tapi juga kepada orang lain. Hal ini terkait dengan cara mendefinisikan apa itu “menulis”. Setiap orang bisa memiliki definisi yang berbeda mengenai kata menulis itu?

Secara formal, menulis bisa dimaknai sebagai mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat (Akhadiah, dkk, 2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) mendefinisikan menulis adalah “melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat dengan tulisan”.  Sapardi menyatakan, menulis adalah menulis apa saja, pokoknya tidak mengutip dan menerjemahkan (Soemanto, 2005: 8). Sementara Sunardi Rinakit (2008) menjelaskan, menulis adalah suatu pekerjaan yang melelahkan, karena si penulis  tidak tahu barometer pengaruh tulisan tersebut. Dan masih banyak definisi lainnya.

Lalu, apakah definisi di atas yang anda maksudkan dengan menulis? Atau, apakah definisi di atas bisa membantu anda untuk memudahkan menulis? Jika definisi di atas tak membantu anda untuk bisa menulis atau justru menjadi penghambatnya, jangan sungkan untuk menyingkirkan definisi itu dari kepala anda. Lalu, buatlah definisi-definisi praktis tentang menulis sehingga memudahkan dan memotivasi anda dalam menulis.

Secara praktis-operasional, definisi menulis juga bisa beragam. Menulis bisa didefinisikan sebagai bentuk ekspresi diri untuk menyatakan pandangan-pandangan pribadinya; profesi / pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari sebagaimana wartawan; kewajiban untuk mendapatkan gelar akademik melalui penulisan skripsi, tesis atau disertasi; cara untuk mendapatkan duit; alat untuk meningkatkan karier, media untuk mengkampayekan diri atau program, dan lain sebagainya. Definisi praktis-operasional ini terkait dengan motif anda menulis.

Terlepas dari itu semua, menulis pada prinsipnya hanyalah permainan bahasa dengan merangkai kata-kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, dan kumpulan-kumpulan paragraf itulah yang disebut dengan tulisan.

Untuk lebih praktis, saya lebih suka menempatkan kegiatan menulis sebagai bentuk ekspresi diri melalui media tulisan agar pikiran / gagasan / pengalaman bisa sampai ke khalayak dengan beragam maksud dan tujuan. Karena itulah, menulis catatan di facebook yang di share ke banyak orang merupakan aktivitas menulis, walaupun tanpa disertai kutipan-kutipan ataupun referensi-referensi. Sebaliknya, aktivitas merekam segala pikiran /pengalaman / suasana hati baik dalam bentuk tulisan, gambar, angka-angka dan sebagainya tanpa dimaksudkan untuk diketahui orang lain tidak saya kategorikan sebagai aktivitas menulis.

Bersambung…………..

Iklan

17 thoughts on “Apa itu Menulis?”

  1. Wow, tulisan baru 🙂
    Iya Pak, setuju!
    Saya juga ga mau berpikir bahwa menulis itu hal yang sulit.
    Setiap orang memang bisa menulis, perbedaannya antara saya yang mahasiswa biasa dengan bapak yang sudah menulis ratusan artikel adalah, kualitas isi tulisannya.
    Sebenarnya, setiap orang bukan merasa kesulitan menulis apa, tetapi mengejar kualitas isi tulisan yang diharapkan menarik, berguna dan bermakna bagi setiap pembacanya.
    Sekian. Hoho 😀

    1. tulisan menarik atau tidak tergantung pembacanya. bagi pembaca A sebuah tulisan tertentu menarik, tapi tidak untuk pembaca B. untuk mengetahui apakah tulisan kita menarik,maka publikasikan. so, menulislah

  2. Saya cuma mau nambahin ja….
    Untuk menulis, hal yang perlu juga diperhatikan menurut saya adalah jangan berkeinginan untuk memberi kepuasan kepada semua orang….
    terima kasih….
    Oh ya, terima kasih Pak Hatim, wah, ni saya jadi termotivasi buat nulis-nulis lagi ni…. hehehehe…

    1. Hm..
      Menulis bukan untuk kepuasan semua orang?
      Belum paham.. tidaaaak (-.-“)

      Pak Hatim, terima kasih kunjungannya 🙂
      Wah, background baru ini nampak sangat sweet 😀

  3. WRITE is

    What u
    Retrieved
    In
    Terms of
    Everything.

    Write What You See, Not What You Think You See

    writing is to write not to think (Finding Forrester)

    just sharing 🙂

  4. mengapa orang bertanya-tanya tentang menulis(yg disebutkan dalam artikel)?

    salah satu sebabnya mungkin karena adanya paradigma dalam diri bahwa menulis merupakan tuntutan, keinginan bukan suatu kebutuhan.
    terkadang paradigma seprti mengkaburkan kemampuan dan kepahaman seseorang tentang menulis, dan itu terjadi dalam diri saya hehe..

    saya setuju dengan saran bapak untuk menyingkirkan definisi menulis yng hanya berpatok pada definisi-definisi formal.
    untuk saya seni adala seni, tak ada patokan baku untuk menilai keindahan seni(tulisa)seseorang.
    tulisan bapak menerangi jalan pemikiran saya tentang apa itu menulis. terima kasih pak!

  5. terlihat sepele namun itu merupakan pertanyaan besar “bukankah sejak SD hingga kuliah kita selalu berhubungan dengan menulis” jd apa yg susah dari menulis

    yg salah bukan tugasnya pak, tapi cara guru menginstruksikan anak untuk menulis tanpa guideline yg jelas jadi anak juga bingung mau mulai dari mana. terlebih kita sudah terlalu asik menontoh daripada membaca apalagi menulis.

    karena itu Bapak sebagai guru dan punya kemahiran menulis kelas kakap bagi2-lah ke kita bagaimana menuangkan ide dalam bentuk tulisan yg diterima oleh pembaca 🙂

    btw, aku mau ketemu bapak. ada yg mau aku tanyakan pak 😀

  6. Menurut saya semua orang mempunyai kemampuan menulis , tapi menghasilkan tulisan yang berkualitas itulah susah. Tidak semua orang bisa melakukan itu. Yang pasti perlu latihan sendiri dan meningkatkan kualitas tulisan yang diciptakan menjadi berguna bagi orang lain.
    ^_^

  7. Wah, menarik Pak..
    Saya jadi punya motivasi baru untuk murid-murid saya, ternyata sebaiknya kita abaikan saja definisi-definisi menulis yang rumit itu, yang membatasi pola pikir kita (dengan arti lain: yang penting mah belajar menulis aja dulu,he2)
    Tapi dari saya sendiri, saya belum bisa konsisten dalam mengurus blog saya Pak..tidak seperti Bapak yang sepertinya selalu mendapat ide dalam menulis,he2

  8. hempp,.. menarik pak,..
    saya jadii lebih memahami pengertian menulis yang sebenarnya.
    sering sekali saya berkata saya tidak dapat menulis, padahal setiap harinya saya melakukan hal tersebut meskipun tanpa disadari. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s