Hijrah Menuju Keberagamaan Artikulatif


TAHUN Baru Hijriah, yang kali ini jatuh pada hari Kamis (15/11/2012), merupakan sebuah momentum yang sangat berharga untuk menggali dan merefleksikan kembali perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Adalah Umar ibn Khattab–yang oleh HAR Gibb dan JH Kramers dalam Shorter Encyclopedia of Islam dinobatkan sebagai pembangun imperium Arab yang legendaris–yang pertama kali menetapkan hijrah nabi sebagai awal perhitungan kalender Islam.

Meski peristiwa hijrah nabi itu telah berlangsung ribuan tahun silam, namun jika kita renungkan, ada banyak makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Sebuah pesan yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini dan sekaligus secara universal. Jadi, sebagai peristiwa masa lalu, hijrah tidak akan bermakna apa-apa bagi kehidupan masa kini jika tidak ada upaya mengaktualisasikan pesan dasarnya. Dengan begitu, peristiwa masa lalu memiliki signifikasi dan relevansi sangat penting bagi kehidupan manusia dewasa ini.

Makna Hijrah

Secara generik, hijrah bermakna pindah, migrasi, transformasi, dan reformasi. Karena itu, Fazlur Rahman menyebut peristiwa hijrah sebagai marks of the begining of Islamic calendar and the founding of Islamic community. Disebut demikian karena peristiwa hijrah menjadi momentum penting dalam perhitungan kalender Islam. Selanjutnya, disebut sebagai the founding of islam, karena hijrah merupakan babak baru dalam membentuk masyarakat Islam yang demokratis, egaliter, dan berperadaban.

Nabi hijrah dari Mekkah menuju Madinah (Yastrib). Peristiwa ini terjadi setelah Nabi mengalami beberapa kendala seperti: intimidasi, kekerasan, isolasi, bahkan ancaman pembunuhan, dalam penyebaran Islam di Mekkah. Dengan perintah Tuhan, Nabi disarankan berpindah (hijrah) dari Mekkah ke Madinah.

Ternyata, perintah hijrah tersebut bukan sekadar bermakna perpindahan tempat atau geogratif dari Mekkah ke Madinah, tetapi juga perpindahan secara spiritual, ekonomi, sosial-budaya dan spiritual. Singkatnya, makna hijrah tidak semata-mata berpindah secara geografis, tetapi juga perpindahan dan perubahan terhadap formasi sosial-budaya dan keberagamaan.

Hal tersebut sangat tampak dari perubahan nama Yastrib menjadi Madinah. Dengan mengganti nama Yastrib menjadi Madinah, Nabi sebenarnya hendak memproklamasikan sebuah formasi sosial yang berkeadilan, modern, egaliter, inklusif, dan berperadaban. Nama Madinah sendiri bermakna kota (city) yang sejajar dengan tamaddun, madaniyah, dan hadharah (peradaban). Dengan begitu, cita-cita dan maksud hijrah Nabi adalah membentuk sebuah peradaban yang sangat agung.

Hasilnya, bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga Nabi mampu melakukan perubahan sangat mendasar dalam kehidupan masyarakat di Madinah. Tak mengherankan jika Raymond Lerouge dalam Lavie De Mohomed menyebut Muhammad sebagai promotor revolusi sosial dan revolusi internasional yang membawa nilai-nilai keadilan dan nilai-nilai persaudaraan sejati.

Sejalan dengan itu, Thomas Carlyle dalam On Heroes, Hero, Worship and the Heros in History menilai bahwa Muhammad adalah pahlawan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan, Annie Besant dalam The Life and Teachings of Muhammad menyebut Muhammad sebagai Nabi terbesar dari Tuhan yang mampu melakukan perubahan secara mendasar dan fundamental.

Penilaian di atas sangat beralasan jika kita kembali menengok keberhasilan Muhammad selama di Madinah. Ada banyak perubahan yang dicapai Nabi selama di Madinah. Antara lain, pertama, hijrah ke monoteisme. Kehidupan masyarakat Madinah yang menganut politeisme dan animisme dalam waktu singkat hijrah kepada ajarah monoteisme sebagaimana telah dibawa oleh Muhammad. Melalui ajaran monoteisme inilah kita diajarkan untuk tidak mempertuhankan sesuatu/dzat selain Tuhan. Sehingga apa yang dilakukannya semata-mata demi dan bersadar pada semangat dan Tuhan Yang Maha Tunggal.

Kedua, hijrah secara sosiologis. Kehadiran Muhammad ke Madinah bukan semata-mata menyebarkan agama Islam, tetapi berupaya membangun masyarakat yang adil, sejarahtera, berkeadilan, inklusif, dan demokratis. Sebab, nilai-nilai itu pula yang menjadi tujuan dasar Islam (maqashid al-syariah). Tidak mengherankan jika Robert N Bellah (1976) menilai bahwa formasi sosial yang dibangun oleh Nabi di Madinah sangat modern, bahkan terlalu modern. Bahkan, demikian Robert N Bellah, sampai saat ini tak ada prasarana dan formasi sosial semodern sebagaimana pernah dirintis Nabi.

Ketiga, konsep toleransi. Kehidupan masyarakat Madinah yang sangat plural, baik dari segi etnis maupun agama, sepanjang sejarah selalu bertikai dan terlibat sintimen etnis yang sangat kuat. Sehingga, peperangan antarsuku (kabilah, klan) dan agama yang berbeda-beda sering terjadi. Namun, Nabi Muhammad berhasil membangun dasar dan fondasi toleransi dan kerja sama agama-agama dan etnis yang berbeda-beda tersebut. Mereka diajak duduk bersama dan melakukan kerja-kerja sosial dan menghentikan sintimen dan peperangan.

Keberagamaan Artikulatif

Lalu, apa makna hijrah tersebut bagi kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini? Melalui momentum Tahun Baru Hijriah ini kita diharapkan merefleksikan ulang terhadap keberagaman kita. Sampai saat ini, bentuk keberagamaan kita sering kali menyuguhkan hal-hal yang tidak sejalan dengan dasar normatif agama. Artinya, kita masih suka berkonflik, korupsi, memeras dan menindas orang-orang yang lemah (al-mustad’afiyn). Bentuk keberagamaan yang demikian ini tentu bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Benar bahwa pemikiran keagamaan di Nusantara ini terus berkembang pesat, tetapi perubahan keberagamaan kita masih menyuguhkan konservatisme, kekakuan, dan kekerasan. Konsep-konsep agama yang humanis, toleran, berbau persaudaraan, dan persamaan hilang tertelan egoisme dan kesombongan manusia.

Karena itu, selain mengembangkan pemikiran keagamaan (al-afkar al-diniyah), kita juga diharapkan mengembangkan dan mengubah format keberagamaan yang dehumanis, egois menuju toleransi, persaudaraan, dan persamaan. Hal ini penting, sebab ajaran-ajaran agama bukan sekadar untuk dipelajari dan diperbedakan, melainkan juga diarahkan untuk melakukan perubahan-perubahan sosial. Dengan cara ini, agama bisa membawa pada liberasi, persamaan, dan tatanan dunia global yang berperadaban

Dipublikasikan di Jurnal Nasional, 16 November 2012, klik

2 thoughts on “Hijrah Menuju Keberagamaan Artikulatif”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s