“Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah
“Menulis adalah permainan dalam bahasa”

Nietzsche

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan dari teman “bagaimana cara menulis artikel?, Bagaimana agar tulisan kita bisa dimuat di media massa? Bagaimana cara memulai tulisan?” serta beragam pertanyaan lainnya. Tak cuma itu, sebagian yang lain dengan mudah mengajukan permintaan “ajarin saya menulis dong”? Pertanyaan dan permintaan itu sudah kerap saya terima baik dari teman-teman terdekat, mahasiswa atau bahkan orang-orang yang lebih senior dari saya.

Terhadap pertanyaan dan permintaan itu saya menjadi bertanya-tanya: bukankah sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi setiap orang sudah diajari tentang menulis? Jika ia mahasiswa, bukankah disetiap perkuliahan terdapat tugas membuat makalah? Atau yang lebih sederhana, bukankah setiap hari ia bisa menulis SMS, status facebook / tweeter, atau bahkan surat cinta dan catatan harian? Apa arti pelajaran Bahasa Indonesia yang didapatkan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi jika tak mampu membuat anak didiknya bisa menulis? Apa kegiatan menulis makalah, SMS, status facebook / tweeter ataupun surat cinta tidak dikategorikan menulis sehingga muncul pertanyaan dan permintaan tersebut.

Tapi mengapa masih muncul pertanyaan dan permintaan tersebut—tentunya tidak hanya kepada saya tapi juga kepada orang lain. Hal ini terkait dengan cara mendefinisikan apa itu “menulis”. Setiap orang bisa memiliki definisi yang berbeda mengenai kata menulis itu? (lagi…)

Tragedi kekerasan kepada pemeluk “keyakinan berbeda” yang terjadi di Cikeusik Banten dan Temanggung Jawa Tengah tak semestinya terjadi di Indonesia yang menjamin kebebasan beragama. Sedemikian kesalnya, presiden SBY merespon lebih tegas; peluang untuk membubarkan organisasi masyarakat (ormas) yang melakukan kekerasan. Untuk itu,

 

Lalu,

Bagi yang suka isu-isu keagamaan atau sekedar ingin tahu, silahkan download Laporan Tahunan Kehidupan Beragama yang dikeluarkan oleh Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Laporan ini memberikan perspektif yang berbeda dengan laporan-laporan lainnya. Silahkan buka (http://crcs.ugm.ac.id/welcome/download)

Sejak dahulu kala agama dan sains merupakan dua sistem besar pemikiran manusia dalam menjalani kehidupan. Baik agama dan sains telah tumbuh setua sejarah manusia. Agama sangat berpengaruh dalam perilaku manusia. Sementara sains menyentuh kehidupan manusia melalui hal praktis seperti teknologi. Agama dan sains adalah dua kekuatan yang amat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu Alfred North Whitehead mengatakan

“ when we consider what religion is for mankind, and what science is, it is no exaggeration to say that the future course of history depends upon the decision of this generation as the relations between them”.

Agama dan sains teramat penting bukan karena keduanya menyajikan jawaban tentang kehidupan sehari-hari, tetapi juga pertanyaan fundamental mengenai eksistensi alam dan isinya. Bagaimana jagad daya diciptakan bagaimana pula ia akan berakhir ? Kapan dan dari apa asal usul manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya dilakukan oleh agama, tetapi sains juga ikut memberikan penegasan artikulatif dalam memecahkan persoalan tersebut. Tegasnya bahwa pertanyaan eksistensial tentang jagad raya (kosmologi) tersebut mendapatkan penegasan dari dua sistem berpikir ini. (lagi…)

“Many faiths all claiming to be true”, demikian pernyataan John Hick (1990: 109). Benar, setiap agama senantiasa mengklaim benar, bahkan paling benar ketimbang yang lain. Klaim inilah yang menjadi salah satu faktor terjadinya konflik antar agama. Karena itulah, keragaman ini oleh Harold Coward (1985) dinilai sebagai problem dan tantangan terbesar umat manusia. Tak pelak, upaya mencari titik temu sebagai upaya menciptakan perdamaian antar agama terus dilakukan, termasuk melalui gagasan pluralisme agama. Kendati istilah pluralisme tak bermakna tunggal (Riis Ole: 1999), tetapi istilah ini dapat dimengerti sebagai respon, pengakuan, dan sikap aktif untuk menjaga keragaman, tanpa disertai truth claim secara sepihak, sehingga bisa hidup bersama dalam keragaman secara damai.

Salah satu perspektif untuk mencari titik temu antar agama dilakukan dalam ruang teologis (theological pluralism). Adanya pluralitas agama ini merupakan kombinasi (Legenhausen: 1997) antara respon manusia terhadap the One (Hick: 1990)dan manifestasi Tuhan (Nasr:1993). Dalam perspektif ini, setiap agama diyakini memiliki kesamaan—atau sekurang-kurangnya kesejajaran—teologis. Bahwa setiap agama sama menuju the Ultimate Reality/ sensus nominus, mengajarkan kebaikan, keadilan dan sebagainya. Singkatnya, pada level esoterik/transenden semua agama satu (the transcendent unity of religion), dan beragam dilevel eksoterik.

Pertanyannya, apakah penemuan titik temu agama-agama mampu menyelesaikan konflik antar agama? Bukankah sebuah konflik tak pernah berakar tunggal? Dan, bukankah yang sering jadi problem adalah hal-hal yang eksoterik-artifisial, tidak hanya antar agama tetapi juga intra agama? (lagi…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.