“Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah”
“Menulis adalah permainan dalam bahasa”
Nietzsche
Seringkali saya mendapatkan pertanyaan dari teman “bagaimana cara menulis artikel?, Bagaimana agar tulisan kita bisa dimuat di media massa? Bagaimana cara memulai tulisan?” serta beragam pertanyaan lainnya. Tak cuma itu, sebagian yang lain dengan mudah mengajukan permintaan “ajarin saya menulis dong”? Pertanyaan dan permintaan itu sudah kerap saya terima baik dari teman-teman terdekat, mahasiswa atau bahkan orang-orang yang lebih senior dari saya.
Terhadap pertanyaan dan permintaan itu saya menjadi bertanya-tanya: bukankah sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi setiap orang sudah diajari tentang menulis? Jika ia mahasiswa, bukankah disetiap perkuliahan terdapat tugas membuat makalah? Atau yang lebih sederhana, bukankah setiap hari ia bisa menulis SMS, status facebook / tweeter, atau bahkan surat cinta dan catatan harian? Apa arti pelajaran Bahasa Indonesia yang didapatkan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi jika tak mampu membuat anak didiknya bisa menulis? Apa kegiatan menulis makalah, SMS, status facebook / tweeter ataupun surat cinta tidak dikategorikan menulis sehingga muncul pertanyaan dan permintaan tersebut.
Tapi mengapa masih muncul pertanyaan dan permintaan tersebut—tentunya tidak hanya kepada saya tapi juga kepada orang lain. Hal ini terkait dengan cara mendefinisikan apa itu “menulis”. Setiap orang bisa memiliki definisi yang berbeda mengenai kata menulis itu? (lagi…)

