Pada hari Senin, 1 Februari 2010 yang lalu, CRCS mengadakan diskusi dan peluncuran Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2009 . Acara ini menghadirkan K.H. Salahuddin Wahid (Pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang), Ifdal Kasim (Ketua KOMNAS HAM) dan AAGN Ari Dwipayana (Dosen FISIPOL UGM), untuk membahas laporan tahunan tersebut.

Acara yang dimulai pada pukul 8.30 ini dimoderatori oleh Mustaghfiroh Rahayu, dan dihadiri lebih dari 100 orang peserta. Setiap orang yang hadir dalam kesempatan kali ini langsung mendapatkan laporan tahunan versi cetak yang dibagikan secara gratis. Laporan yang dibagikan secara gratis ini melibatkan dosen, staff dan mahasiswa CRCS dalam proses penulisannya. Mereka mencatat dan menganalisis peristiwa-peristiwa satu tahun di seputar kehidupan beragama di Indonesia. (lagi…)

Gus Dur, apa kabar? Saya menulis surat ini kepadamu, tapi tak berharap kau membacanya. Karena saya sadar kau telah benar-benar wafat. Maaf Gus, surat untukmu ini tak sampai ketanganmu dan akan dibaca banyak orang, baik mengagumi atau membencimu.

Saat kau pergi bersemayam disamping ayah dan kakekmu, banyak orang merasa kehilangan. Tak hanya yang mengagumi, yang menghujatmu pun mengucap belasungkawa. Kau memang telah memberi kesan yang sangat mendalam. Kontroversi dan pembelaanmu terhadap kelompok minoritas begitu sangat melekat dihati banyak orang. Mungkin, orang-orang yang pernah kau bela kini merasa was was hidup di Indonesia. Orang-orang yang pernah menghujatmu juga tak merasa nyaman lagi karena tak ada sasaran. Yang mengagumimu jadi bingung karena hilang panutan.

Atas kepergianmu, tempat persemayamanmu dipenuhi bunga-bunga, walau kau tak mengharapkannya. Banyak orang ingin menyematkanmu jadi pahlawan nasional, walaupun bisa ditebak kau tak pernah menginginkannya. (lagi…)

Sampai saat ini, tak ada tokoh Indonesia yang mampu meneteskan air mataku berulang kali ketika ia pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya, kecuali KH. Abdurrahman Wahid. Air mata itu sudah mulai bercucuran disaat ia sakit dan di bopong menuju ke RSCM kemaren. Bukan karena saya warga NU, bukan pula karena ia mantan presiden, juga bukan karena aku pernah menulis tentangnya (skripsi), tetapi semata-mata karena sosoknya yang tak tergantikan dalam; membela kelompok minoritas, membela pluralisme, pejuang demokrasi, dan keberaniannya untuk tidak tunduk kepada otoritarianisme.
Ia bukan saja intelektual di belakang meja, bukan pula kritikus ulung di media massa, tapi pelaku atas gagasan-gagasannya.

LANGKAHNYA LEBIH NYATA DARI KATA-KATANYA.

Yogyakarta– Community for Religion and Social engineering (CRSe) dan BEMJ Tafsir Hadist Fak. Ushuluddin bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) mengadakan launching dan diskusi buku “Metodologi Studi al-Qur’an” di ruang Theatrical Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga (21/12/09). Diskusi ini menghadirkan narasumber Dr. Abd. Moqsith Ghazali (JIL), Jadul Maula dan Dr. M. Nur Ichwan.

Dalam sambutan direktur CRSe, R. Guntur Karyapati, menuturkan bahwa al-Qur’an telah diposisikan sebagai teks yang tak tersentuh, sehingga menafsirkan secara otonom dan mandiri melalui seperangkat metodologi yang memadai merupakan peristiwa langka. Karena itulah, diskusi ini diharapkan mampu memberikan sebuah perspektif baru bahwa al-Qur’an adalah teks yang bebas ditafsirkan.

Cara penafsiran terhadap al-Qur’an, demikian Dr. Abd. Moqsith Ghazali, tidak cukup hanya terpaku pada teks saja, tetapi juga harus memperhatikan asbab al-nuzul, kontekstualisasi makna dan maqashid al-syariah (tujuan syariat). Memang, lanjut Moqsith, para ulama klasik berhasil memberikan rumusan-rumusan dalam penafsiran, tetapi rumusan tersebut perlu mendapat revisi dan perbaikan disana-sini. Karena itulah, buku yang ditulis bertiga ini, Abd. Moqsith Ghazali, Lutfi Assyaukanie, dan Ulil Absar Abdallah, ingin memberikan kerangka dasar dalam melakukan penafsirkan al-Qur’an.

Namun demikian, menurut Jadul Maula, buku ini tengah menyerang kelompok-kelompok yang menafsirkan al-Qur’an secara literal. Karena itulah, Jadul Maula menilai bahwa buku ini penting dengan mengajukan catatan bahwa teks (nash) al-Qur’an tetap diperlukan.

Dalam rangka menyambut hari natal apda 25 Desember nanti, penting kiranya mengedepankan pesan perdamaian. Berikut langkah-langkah yang saya tempuh.

Perbincangan tentang Yesus (Isa) merupakan wacana yang paling sensitif dan kontra-produktif dalam dialog Islam-Kristen. Walaupun kedua agama tersebut sama-sama membicarakan Yesus, namun mempunyai perspektif yang berbeda karena berbeda dalam sumbernya. Islam bersumber dari al-Qur’an, sementara Kristen bersumber dari Injil. Seharusnya, perbedaan perspektif Muslim-Kristiani dalam memandang Yesus tidaklah dipersoalkan, karena sumber primernya tidak sama.

Akan tetapi, manakala Yesus dibicarakan oleh umat Islam seringkali mendapat respon negatif dari umat Kristen. Misalnya, seorang Muslim mengatakan bahwa Yesus (Isa) sama halnya seperti utusan-utusan Tuhan lainnya seperti Adam, Ibrahim, Musa dan lain-lain umat Kristen akan menentangnya dan memberikan perspektif berdasarkan kitab sucinya. Begitu pula sebaliknya, ketika umat Kristiani berbicara Yesus, orang Islam cenderung menyalahkannya. Pertentangan tersebut tidak berhenti di situ, seringkali berlanjut pada debat kusir bahkan pertengkaran fisik. (lagi…)

“Sesat”, kata itulah yang terekam dalam ingat bangsa Indonesia ketika menghadapi perbedaan. Sudah sederet keyakinan yang divonis sesat. Ahmadiyah, Lia Eden, al-Qiyadah, Bahaie dan beberapa daftar lainnya. Tak cukup dengan claim sesat, tapi juga acapkali dilampiri kekerasan. Argumen-argumen teologis pun menjadi legitimasi.

Konon, Indonesia adalah negara yang ramah, toleran dan santun. Sedemikian santun dan toleran hingga ketika batas negara dan warisan budaya diganggu negara lain pun negara kita tak punya taring. Bahkan, terhadap kejahatan dan korupsi ditoleransi. Namun, begitu antusias jika merespon perbedaan, hingga darah orang lain dipandang halal. (lagi…)

Using Michel Foucault’s theory, Knitter says that there is no meta-narrative and meta-problem; including language, that always limits what we know. Language politically, economically and culturally is conditioned. Nevertheless, we cannot deny the universal problem affecting everyone, namely ecological problem. Due to common problem, inter-religious solutions in solving this problem, according to Knitter, are must be done. Seeking inter-religious solutions must be started with ethics, because it is the soil in which religion grows, rather than formal religion. Mencius describes the same mystical experience transmitted through ethical sensitivity “when they see a child about to fall into a well”. This sameness is called “the mind that cannot bear to see the suffering of others”.

Therefore, all religions are united in the experiencing common problem like ecological problem. The common problem should cause the same response and action. I agree with this notion that religions through mystical and ethical approach have the same point of which can be common ground in order to solve ecological problem. It means that whatever your religion, ideology and understanding of religion are, you are facing environmental problem, over consumption and over population.

Although there is common problem, I think, it doesn’t meant that all religions can elaborate his own religion for seeking the common point with other religions. In fact, there are many religious followers do not want to face environmental problem together. The suggestion for starting with ethics and mystics, I think, is not easy to do because mystical and ethical discourse is too elite which is only a few people can access it. This suggestion makes me remember with Hans Kung idea’s global ethic. However, we quickly have to realize that Kung’s idea, for some extend, faces problems that one of which is political interest.

Therefore, the challenge is how to down earth (earthed; membumikan?) this notion in the practical level. Ethical and mystical point of religions, I think, must be guidance for arranging practical. Many scholars and religious leaders proclaim the ethical point of religion for saving this world, but it practically does not much more work.

In Islamic perspective, the one way to down earth ethical and mystical point of religion is fikih. I wrote environmental fikih (fiqh al-bi’ah) at al-Nadhar bulletin published by P3M Jakarta. In the article, I formulate practical point for saving this world, such as the re-interpretation the meaning of khalifah, ecology as part of Islamic doctrine, the relation between ecology and faith, ecological unbeliever.

At least, ethical and mystical point of religion for ecology, I think, is a new kind of inter-faith dialogue, which passes over theological limit.

Global and multidimensional crisis really happened. No aspects of human life can avoid this crisis. There are multidimensional crisis like global warming, environmental (also natural) disaster, over-consumption, pollution, lack of clean water, over-population, deforestation, illegal logging, loss of biodiversity, etc. However, the wisdom to maintain the environment is still near to the ground. Not only companies and government but per individual also play a role in this crisis.

We can see vulgarly many kind of environmental degradation such as companies, which privatize water, or government legalizing unjust environmental law, or even each individual working against environmental wisdom. Another side, the population growth quickly increases over the limit.

So, what important this issue in science-religion discourse? R.F Schumacher in his book, A Guide for the perplexed (1981), said that cause of multidimensional crisis is spiritual crisis in accordance with belief and meaning of life. Further, Sayyed Hossein Nasr states that this crisis mostly is caused by modern science that tends to scientism. In modern science, human being is central which its consequence destroys environment for human being need. In this case, the statement of Fritjof Capra in the Web and Life is true that we theoretically destroy this world before destroying practically.

Therefore, when reading The Environment and Risk, I become be pessimist for the future of this world. I doubt that our generation can survive in this world if we cannot change modern-man view. Due to this condition, Nasr criticizes modern science that put human being as a central. For that reason, Nasr suggests to promote what he calls scientia sacra, philosophia perennis, or al-hikmah al-khalidah, and advance eco-theology. There are many religious doctrines, which teach and promote environmental wisdom. The concept of Yin-Yang in Taoism and the concept of Ri’ayatul bi’ah (Yusuf Qordowi) who includes environment in Islamic principle (maqashid al-syari’ah), for instance, are religious resources that should be applied in practical life.

Nevertheless, I think, eco-theology is not sufficient. We have to advance what Charlene Spretnak calls Green politics. It is importance, because environmental degradation has something to do with politics. Unjust environmental law and weak law enforcement are politics area in which government should play a role.

For that reason, multidimensional crisis needs comprehensive solution, interdisciplinary resource, and multidimensional approach.

Hinduism View[1]

Hinduism is the oldest religion coming to and living in Indonesia rather than other official religions like Buddhism, Christianity, and Islam. In the 732-729, Hinduism kingdom has existed in Indonesia, namely Mataram Kingdom.[2] Therefore, Hinduism has a great contribution in shaping Indonesian character. One of the Hinduism contributions is peace and harmony among different background. “Inter-religious unity has always been part of nation’s culture”[3] Mpu Tantular’s phrase, Bhineka Tunggal Ika, becomes Indonesia’s National Emblem. However, this phrase often does not match with social fact in which “religious conflict” often happens.

For that reason, this paper wants re-excavate Hinduism view both in historical and religious teaching. It is important to harmonize the plurality of religions which often conflict. Therefore, in this paper, I not only summarize the two selected paper[4] but also respond and add something that they are not mention. (lagi…)

Harian Jogja, 9 Maret 2009

Sebelum Islam datang, penduduk Arab (Mekah) disana kebanyakan adalah para mulhidin (penyekutu Allah). Sementara, konstruk sosialnya penuh dengan ketimpangan, ketidakadilan dan kesenjangan. Perang antar kabilah (suku/kelompok) seringkali terjadi. Kehidupan dibawah gurun pasir tidak menemukan titik terang sama sekali. Disana, perampokan, pencurian, penjarahan adalah salah satu tradisi yang melekat.

Ditengah situasi kacau balau seperti itulah lahir Muhammad kedunia dari keluarga yang sangat sederhana, di Kota Mekah. Seorang bayi yang kelak akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu yatim, bapaknya yang bernama Abdullah meninggal kira-kira tujuh bulan sebelum ia lahir. Kehadiran bayi itu tidaklah disambut oleh ayahnya. Kemudian, bayi itu dibawa ke Ka’bah dan disanalah diberi nama Muhammad. Kelahiran Muhammad (Maulidun nabiy) diperingati setiap tahun oleh kalangan muslim Indonesia. Muhammad lahir tanggal 12 Robiul Awal. Tak lama kemudian, ibu Muhammad, siti Aminah, meninggal setelah Muhammad berumur enam tahun. (lagi…)

Halaman Berikutnya »