Belajar Agama di The Sampoerna University


Tulisan ini berasal dari serial twit dengan hashtag #HumanisticStudiesUSBI

1. Saya mau sharing tentang pelajaran agama di USBI-The Sampoerna University. #HumanisticStudiesUSBI @USBI_Indonesia

2. Di sini, pelajaran agama disebut dengan Humanistic Studies . #HumanisticStudiesUSBI
3. Humanstic Studies align dengan Introduction to World Religion di LoneStar College, Amerika. #HumanisticStudiesUSBI
5. Mahasiswanya jg tidak dipisahkan berdasarkan agama. #HumanisticStudiesUSBI. cc @USBI_Indonesia
4. Pelajaran Agama di @USBI_Indonesia tidak spesifik tentang agama tertentu. #HumanisticStudiesUSBI
6. Jadi, dalam satu kelas ada yang Muslim, Kristen, Hindu, Buddha. Sayangnya belum ada yang beragama KungHuCu. #HumanisticStudiesUSBI
7. Topik-topiknya seputar multikulturalisme dan studi agama-agama. #HumanisticStudiesUSBI
8. Ktk belajar multikulturalisme, bkn saja disuguhkan teori, tp jg fakta praktik multikulturalisme di Indonesia. #HumanisticStudiesUSBI
9. Mereka belajar tentang sterotip, prasangka dan diskriminasi #HumanisticStudiesUSBI
10. Mahasiswa juga merefleksikan bagaimana stereotip dan diskriminasi yang terjadi. #HumanisticStudiesUSBI
11. #HumanisticStudiesUSBI juga pakai film Sapu Tangan Fang Yin yang diproduksi oleh @DennyJA_WORLD & @Hanungbramantyo .
13. Kita juga mengkaji beberapa kelompok minoritas seperti Dayak, Samin, dari buku Hak Minoritas #HumanisticStudiesUSBI
14. Topik kedua #HumanisticStudiesUSBI adalah belajar agama yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dari beragam agama
15. Ketika topik Kristen, saya meminta mahasiswa yang beragama Kristen untuk sharing keyakinannya. #HumanisticStudiesUSBI
16. Begitu pula ketika topik Islam, Hindu dan Buddha. #HumanisticStudiesUSBI
17. Mengapa saya meminta pemeluknya yang presentasi bukan saya? #HumanisticStudiesUSBI.
18. agar pengalaman keagamaan sebagai esensi agama juga dapat terceritakan oleh pemeluknya. #HumanisticStudiesUSBI
19. Saya bilang ke mahasiswa, kita sering belajar agama orang lain bukan dari pemeluknya langsung. #HumanisticStudiesUSBI
20. Misalnya, saya dengar beberapa informasi tentang Kristen dari beberapa ustad. #HumanisticStudiesUSBI
22. Saya juga menekankan bahwa dalam belajar agama orang lain tidak boleh double standart, #HumanisticStudiesUSBI
23. Yaitu, melihat agama orang lain dari kacamata agama yang dianutnya. #HumanisticStudiesUSBI
24. Jika melihat agama orang lain dari agama kita maka yang terjadi adalah penghakiman terhadap agama orang lain #HumanisticStudiesUSBI
26. Kemudian, #HumanisticStudiesUSBI belajar tentang teori-teori agama, kita pakai seven theories of religion oleh Daniel. L. Pals.
27. Mahasiswa secara antusias belajar bagaiamana Karl Marx, E.B Taylor dan S. Freud memandang agama. #HumanisticStudiesUSBI
28. Catatan-catatan kritis para ilmuan menjadi refleksi dan cambuk dalam menyikapi agama dan keberagamaan ini. #HumanisticStudiesUSBI
29. Kemudian, #HumanisticStudiesUSBI juga belajar bagaimana hubungan antar agama. Kita pakai laporan tahunan @WAHID1nstitute
30. Dari laporan tahunan @WAHID1nstitute, saya meminta mhs untuk membuat infographics pelanggaran kebebasan beragama. #HumanisticStudiesUSBI
31. Laporan @WAHID1nstitute itu menyadarkan mhs bahwa betapa marak tindakan intoleransi . #HumanisticStudiesUSBI
32. Dari situasi seperti inilah, #HumanisticStudiesUSBI memandang perlu mengabarkan pesan damai agama kepada seluruh umat manusia.
33. Mahasiswa diberi tugas membuat video sebagai tugas akhi, UAS. #HumanisticStudiesUSBI
34. Tujuan video tentang Peace & Harmony ini adalah bgm mhs dpt berkonstribusi dlm menyemai perdamaian lintas agama. #HumanisticStudiesUSBI
35. Pesan-pesan perdamaian, toleransi dan kemanusiaan akan menjadi isu utama dalam video tersebut. #HumanisticStudiesUSBI
36. Sementara, bagaimana dengan model pembelajaran #HumanisticStudiesUSBI
37. Dari awal, #HumanisticStudiesUSBI menerapkan pembelajaran berpusat pada siswa.
38. Salah satu model yang digunakan adalah flipped classroom. #HumanisticStudiesUSBI.
39. Flipped classroom mengandaikan tiga tahap pembelajaran : 1) before class, 2) during class, dan 3) after class. #HumanisticStudiesUSBI
40. Flipped classroom ini menjadikan kelas sebagai ruang u/ konfirmasi apakah tujuan pembelajaran sudah dicapai. #HumanisticStudiesUSBI
40. Flipped classroom ini menjadikan kelas sebagai ruang u/ konfirmasi apakah tujuan pembelajaran sudah dicapai. #HumanisticStudiesUSBI
41. Dalam flipped classrrom, materi diberikan sebelum kelas. #HumanisticStudiesUSBI
41. Dalam flipped classrrom, materi diberikan sebelum kelas. #HumanisticStudiesUSBI
42. Tatap muka digunakan untuk aktivitas yang bertujuan konfirmasi dan memperdalam topik pelajaran. #HumanisticStudiesUSBI
42. Tatap muka digunakan untuk aktivitas yang bertujuan konfirmasi dan memperdalam topik pelajaran. #HumanisticStudiesUSBI
43. Sebelum kelas, terdapat bbrp aktivitas yang dilakukan oleh mhs seperti membaca artikel dan menonton video. #HumanisticStudiesUSBI
43. Sebelum kelas, terdapat bbrp aktivitas yang dilakukan oleh mhs seperti membaca artikel dan menonton video. #HumanisticStudiesUSBI
44. U/memastikan aktivitas sebelum kelas, #HumanisticStudiesUSBI memberikan tugas online discussion yang berisi “author says” dan “I say”.
45. Terhadap model pembelajaran dan topik pelajaran agama ini, mahasiswa cukup senang. #HumanisticStudiesUSBI
46. Jadi, dlm belajar agama di sekolah atau perguruan tinggi, mahasiswa tidak mesti dipisahkan berdasarkan agamanya. #HumanisticStudiesUSBI
47. (Maha)Siswa dapat belajar agama-agama secara umum, baik sejarah maupun ajarannya. #HumanisticStudiesUSBI
48. Dengan cara ini, saling memahami antar agama dapat terlaksana. #HumanisticStudiesUSBI
49. Pendidikan agama bukan menjadi media untuk menyulut paham intoleransi. #HumanisticStudiesUSBI
50. Sekian, terima kasih. #HumanisticStudiesUSBI

Feminisme itu lagi…..


Suatu ketika, ada seseorang yang cerita betapa sejumlah aktivis feminis terjebak dalam persoalan keluarga yang akut, terutama dan khususnya soal perceraian. Bagi orang-orang seperti ini, feminisme mungkin mengajarkan bagaimana ia menentang suaminya, bagaimana ia menolak suaminya, dan bagaimana ia bertindak semaunya. Sementara di sisi lain, sang suami tidak mengerti dan memahami secara betul soal feminisme tersebut. Umumnya, istri yang memiliki kesadaran feminisme seperti di atas dengan ditopang kemandirian ekonomi akan lebih mudah minta cerai kepada suaminya.

Bagi saya, feminisme tidak mengajarkan seseorang (dalam hal ini perempuan atau istri) menentang suami. Feminisme bagi saya mengajarkan bagaimana ia membangun kesadaran bahwa kebenaran bukanlah monopoli laki-laki, karena itulah setiap elemen dalam urusan keluarga mesti dikomunikasikan dan dinegosiasikan. Ketika suami mencuci baju dan istri pergi ke kantor tidak mesti sebuah gambaran feminisme. Ketika suami memasak sementara istri bekerja juga tak mesti bernama feminisme. Istri di rumah, memasak, mencuci, mengurus anak juga tak berarti tidak memiliki kesadaran feminisme. Ini penting, karena pembagian kerja antara suami dan istri mesti dinegosiasikan dan dikomunikasikan, sehingga lahir sebuah kesepakatan-kesepakatan.

Singkatnya, feminisme harus berada dalam locus lokalitas kebudayaan bangsa kita.

Hijrah Menuju Keberagamaan Artikulatif


TAHUN Baru Hijriah, yang kali ini jatuh pada hari Kamis (15/11/2012), merupakan sebuah momentum yang sangat berharga untuk menggali dan merefleksikan kembali perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Adalah Umar ibn Khattab–yang oleh HAR Gibb dan JH Kramers dalam Shorter Encyclopedia of Islam dinobatkan sebagai pembangun imperium Arab yang legendaris–yang pertama kali menetapkan hijrah nabi sebagai awal perhitungan kalender Islam.

Meski peristiwa hijrah nabi itu telah berlangsung ribuan tahun silam, namun jika kita renungkan, ada banyak makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Sebuah pesan yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini dan sekaligus secara universal. Jadi, sebagai peristiwa masa lalu, hijrah tidak akan bermakna apa-apa bagi kehidupan masa kini jika tidak ada upaya mengaktualisasikan pesan dasarnya. Dengan begitu, peristiwa masa lalu memiliki signifikasi dan relevansi sangat penting bagi kehidupan manusia dewasa ini. Continue reading Hijrah Menuju Keberagamaan Artikulatif

Apa itu Menulis?


“Aku hanya suka apa yang ditulis dengan darah
“Menulis adalah permainan dalam bahasa”

Nietzsche

Seringkali saya mendapatkan pertanyaan dari teman “bagaimana cara menulis artikel?, Bagaimana agar tulisan kita bisa dimuat di media massa? Bagaimana cara memulai tulisan?” serta beragam pertanyaan lainnya. Tak cuma itu, sebagian yang lain dengan mudah mengajukan permintaan “ajarin saya menulis dong”? Pertanyaan dan permintaan itu sudah kerap saya terima baik dari teman-teman terdekat, mahasiswa atau bahkan orang-orang yang lebih senior dari saya.

Terhadap pertanyaan dan permintaan itu saya menjadi bertanya-tanya: bukankah sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi setiap orang sudah diajari tentang menulis? Jika ia mahasiswa, bukankah disetiap perkuliahan terdapat tugas membuat makalah? Atau yang lebih sederhana, bukankah setiap hari ia bisa menulis SMS, status facebook / tweeter, atau bahkan surat cinta dan catatan harian? Apa arti pelajaran Bahasa Indonesia yang didapatkan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi jika tak mampu membuat anak didiknya bisa menulis? Apa kegiatan menulis makalah, SMS, status facebook / tweeter ataupun surat cinta tidak dikategorikan menulis sehingga muncul pertanyaan dan permintaan tersebut.

Tapi mengapa masih muncul pertanyaan dan permintaan tersebut—tentunya tidak hanya kepada saya tapi juga kepada orang lain. Hal ini terkait dengan cara mendefinisikan apa itu “menulis”. Setiap orang bisa memiliki definisi yang berbeda mengenai kata menulis itu? Continue reading Apa itu Menulis?

Apakah Ormas dan Ahmadiyah perlu dibubarkan atau tidak?


Tragedi kekerasan kepada pemeluk “keyakinan berbeda” yang terjadi di Cikeusik Banten dan Temanggung Jawa Tengah tak semestinya terjadi di Indonesia yang menjamin kebebasan beragama. Sedemikian kesalnya, presiden SBY merespon lebih tegas; peluang untuk membubarkan organisasi masyarakat (ormas) yang melakukan kekerasan. Untuk itu,

 

Lalu,

Tuhan Bukan Pencipta Alam Semesta? Diskusi Buku Yang Menggetarkan Iman


Sejak dahulu kala agama dan sains merupakan dua sistem besar pemikiran manusia dalam menjalani kehidupan. Baik agama dan sains telah tumbuh setua sejarah manusia. Agama sangat berpengaruh dalam perilaku manusia. Sementara sains menyentuh kehidupan manusia melalui hal praktis seperti teknologi. Agama dan sains adalah dua kekuatan yang amat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu Alfred North Whitehead mengatakan

“ when we consider what religion is for mankind, and what science is, it is no exaggeration to say that the future course of history depends upon the decision of this generation as the relations between them”.

Agama dan sains teramat penting bukan karena keduanya menyajikan jawaban tentang kehidupan sehari-hari, tetapi juga pertanyaan fundamental mengenai eksistensi alam dan isinya. Bagaimana jagad daya diciptakan bagaimana pula ia akan berakhir ? Kapan dan dari apa asal usul manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya dilakukan oleh agama, tetapi sains juga ikut memberikan penegasan artikulatif dalam memecahkan persoalan tersebut. Tegasnya bahwa pertanyaan eksistensial tentang jagad raya (kosmologi) tersebut mendapatkan penegasan dari dua sistem berpikir ini. Continue reading Tuhan Bukan Pencipta Alam Semesta? Diskusi Buku Yang Menggetarkan Iman

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 4.833 pengikut lainnya